
Seisi rumah panik ketika mendengar deru mobil Dinka meninggalkan halaman rumah dengan begitu kencangnya. Tak ada yang dipamiti oleh Dinka, sehingga kerusuhan terjadi.
"Pa, susul Dinka, Pa!" Resti mengguncang lengan suaminya hingga tubuh Anton yanh masih setengah mengantuk bergoyang tak keruan. Kepala pria yang berusia enam puluhan itu pusing dan badannya gemetar.
Siapa yang tidak begitu memangnya, baru saja dia menyentuh alam mimpi, tapi ditarik paksa oleh teriakan mengerikan istrinya.
"Masalahnya susul kemana? Dia dari arah sini belok kanan atau kiri?" Yang ada malah selisih jalan dan saling mencari akhirnya, kan? Walau, memang bahaya sekali ibu hamil mengemudi.
"Pa, mobil Dinka bisa dilacak, kan?"
"Papa nggak bisa. Kaya Dinka ini tukang kabur aja, pake dilacak segala oleh Papa. Itu nggak etis, Ma."
Resti merengut. Tentu tak ada lacak-lacakan di keluarga ini, kalaupun bisa. Dan lagi, ponsel Dinka dan Abid sama-sama mengisi kasur saat ini. Kurang sial apa lagi mereka serumah kali ini?
Sementara itu, Abid berhenti di bahu jalan untuk menarik napas usai hampir menabrak pembatas jalan. Koko masih syok sampai megap-megap, sedangkan Abid frustrasi.
Ini hanya mengemudikan roda empat yang dikendalikan oleh sebuah lingkaran yang tak sebanding besarnya dengan ukuran dirinya yang sangat besar. Setiap kali melaju, bayangan tabrakan, kobaran api, mobil melayang di atasnya, lalu ledakan di belakang membuat Abid gemetar.
Mobil yang berpapasan menurut Abid memakan seluruh jalan, bahkan jalurnya terasa diembat. Mobil kecil mendadak terlihat membesar di matanya. Kaget, sesak, dan gemetar.
"Mas ...."
Koko menarik napas. "Kayaknya, aku udah nyerah bantu Mas Abid."
Keduanya menoleh bersamaan hingga saling beradu pandang dengan pikiran yang mungkin sama. Ucapan itu paling benar untuk keadaan saat ini.
"Mbak Dinka nggak kaya Mbak Olla yang nuntut Mas buat kemana-mana sendiri. Mbak Dinka nggak risih ada aku diantara kalian, dia secara umum fine-fine aja, even kalian mesra-mesraan di belakang."
Abid membuang napas. Justru karena tidak dituntut, Abid merasa perlu melawan rasa takut itu. Dinka saja bisa melawan ketakutan, kenapa dia tidak?
Mau kalah berapa langkah lagi dia dari istrinya itu?
"Malah, kalau ingin berdua ... biar Mbak Dinka yang nyetir, Mas yang mangku baby kalian nanti," saran Koko logis. Apa salahnya sih? Abid trauma, bukan tidak bisa mengemudi sama sekali. Abid bisa mengoperasikan, hanya saat berjalan dia meliuk tak keruan.
"Sekali lagi, Ko ... aku ingin berusaha sekali lagi." Abid tak patah arang. Ini hanya ... Ini hanya mengemudi.
"Mas pernah lihat Spongebob?" tanya Koko tiba-tiba.
"Kenapa?" Abid yakin ini tidak ada hubungannya dengan dirinya saat ini. Koko pasti hanya melucu.
__ADS_1
"Dia belajar mengemudi dan nggak pernah lulus karena memang nggak bisa nyetir." Koko menatap Abid hingga badannya ikut berputar. "Tau yang Nyonya Puff lakukan selaku guru sekolah mengemudinya?"
Abid menggeleng.
"Nyonya Puff menutup mata Spongebob dengan kain hitam, dan Spongebob bisa mengemudi dengan lancar," tutur Koko seraya mengingat bagaimana ending dari episode tersebut. "And its work."
"Spongebob berhasil lancar mengemudi?" Abid kepo. Kapan dia bisa ada waktu buat nonton kartun, kan? Dia tidak awam dengan nama Spongebob, bahkan quotes Patrick Star sering di repost ulang oleh beberapa orang. Hanya memang serialnya dia tidak pernah menonton. Dia tidak ada waktu untuk hal itu.
"Ya ...."
Walau sesaat.
Tapi Koko tidak mengatakan apa-apa selain mengangguk.
"Aku nggak yakin." Abid membuang muka lalu mengambil air mineral untuk menghilangkan rasa kering dan nyeri di tenggorokan.
"Kenapa?"
"Saat mataku tertutup." Abid meringis menahan nyeri. Lidahnya mencecap sisa air mineral yang masih membasahi bibir. "Kejadian itu malah tampak nyata. Kau tau itu sangat mengerikan, kan?"
Koko mengangguk. "Jadi, sebaiknya Mas berhenti. Mbak Dinka pasti nggak mau Mas kaya gini. Nggak semua ketakutan harus dilawan. Nggak semua yang mesti berhenti adalah kelemahan dan kekalahan, Mas."
Tapi Abid tidak berpikir begitu. Dia menyalakan mobil lagi dan melaju perlahan. Koko membeliak seraya membandingkan kembali sabuk pengamannya.
Abid sedikit memakan jalur hingga nyaris ke tengah, tetapi mobil dibelakang terus saja meraungkan klakson tiada henti. Berusaha mendahului tapi Abid tidak mau menyerah. Dia terus melaju dengan kecepatan yang sedikit tidak terkontrol. Dia panik bercampur kesal.
Namun mobil itu sama sekali tidak mau peduli. Dia mencoba terus mendahului.
"Mas, saya masih jomblo. Saya belum o na ni seminggu ini, saya masih ingin hidup, saya masih ingin punya bini!" Koko selalu begitu saat panik melihat cara Abid mengemudi. Dia ketakutan sendiri. Jadi dia siap-siap mati dengan mengakui dosa dan menitipkan wasiat. Tapi kali ini, dia mengutarakan apa yang dia inginkan.
"Kita nggak akan mati, Ko! Aku nggak akan mati dua kali! Gue punya bini, bini gue cantik, pinter, anak gue masih butuh gue buat nikah! Gue harus bisa ngalahin ketakutan gue! Gue nggak mau anak bini gue malu lihat gue lemah kaya gini!" Suara Abid begitu keras, frustrasi, dan lelah. Tapi dia tidak berhenti kendati mendapat umpatan dari mobil yang berasal dari arah berlawanan.
Abid melihat lagi bagaimana hari itu dia celaka, dia merasa lagi kejadian itu. Dadanya mendadak sesak, tangannya lemas, pun kaki terasa lumpuh. Saat dia di posisi ini, di depan kecelakaan besar terjadi, melibatkan banyak mobil, termasuk mobilnya yang hilang kendali. Jalanan licin akibat tumpahan minyak, mobil besar dari arah berlawanan sedang berusaha menghentikan mobilnya. Ya, setelah itu, tumpukan mobil tak karuan melayang ke arahnya. Mobil Abid ringsek, tergencet dari depan dan belakang. Kakinya remuk, tulangnya patah.
"Mas Abid! Mas ...!"
"Nara!" Abid menoleh, di sebelahnya ada Nara yang memegang tangannya. Nara sudah penuh darah, matanya sayu, lemah. Abid baru sadar, kalau Nara berada bersamanya sejak tadi.
"Mas, berhenti! Mas Abid! Stop!"
__ADS_1
Itu suara siapa? Itu siapa?
Abid menarik pandangan ke arah suara berasal.
"Mas, awas!"
Itu siapa? Suara itu ... memaksanya berhenti. Siapa? Ini dimana? Semua ... kenapa berbeda?
"Mas Abid!"
SRAK!
BRAK!
"Dinka!"
Suara itu ... Dinka?!
Tapi Nara? Kinara-nya pergi ....
"Mas—"
BRUK-BRUK-BRUK!
"Mas Abid, keluar Mas!"
Masih linglung, Abid memutar kepalanya ke arah suara berisik itu berasal.
"Nara ...."
"Nara pergi, Mas."
"Nara ... tunggu!"
"Nara ... Kinara—"
"Nara—"
"—"
__ADS_1
"—"
"—"