
Kalau dipikir, saat sakit kita baru sadar bahwa banyak orang yang sayang dan tulus sama kita.
Mungkin, ada banyak omelan, kata-kata yang menyinggung, atau bahkan kemarahan, tetapi itu hanya bentuk kekecewaan atas harapan besar mereka pada kita. Atau memang tidak sengaja saja sebab mereka juga sedang bermasalah. Bisa jadi, tidak semua kasih sayang harus berupa kelembutan.
Dinka sadar benar itu sekarang. Mamanya, Jen, bahkan Darren. Mereka punya cara sendiri menyayanginya.
"Makasih, ya, Ma ... em ... Jen." Begitu malam sudah beranjak, lalu mereka bersiap untuk istirahat, Dinka mengatakannya. Sudah tidak tahan lagi bibirnya menahan rasa haru yang menyeruak dari dalam hati.
Desy dan Jen saling pandang saat mereka menegakkan badan dari ranjang Dinka. Sejauh ini, Dinka sudah bisa berdiri meski belum bisa berlama-lama.
"Kenapa mesti bilang makasih dengan muka kaya gitu?!" Jen akhirnya bicara lebih dulu. "Kamu nggak sakit ditempat lain, kan?"
Dia tidak sedang bercanda. Tatapan Dinka rasanya lain. Jen takut kalau itu sebuah firasat buruk.
Dinka bukan tipe orang melow walau sedang dilanda haru. Biasanya, ada tindakan lain untuk mengapresiasi seseorang. Bukan ucapan melankolis begini.
Dinka sementara itu hanya tersenyum lemah.
"Arion sudah tidur," sela Desy agar suasana tidak semakin mengharukan. Dia mengerti kenapa Dinka bilang begitu. "Kamu juga harus cepat tidur, Din ... nanti sewaktu-waktu Arion bangun, kamu udah agak segeran."
Arion sudah dua bulan. Badannya gembul, sebab ASI Dinka cukup melimpah. Bayi itu tidur sepanjang dengan Dinka juga Abid agar memudahkan saat menyusu di malam hari. Mengingat pergerakan Dinka yang masih terbatas, dan tetap tidak mau kehilangan momen mengasuh anak pertamanya.
Suster ada, tetapi hanya siang hari saja merawat Arion, sementara malam, dia dan Abid bekerja sama mengurus Arion.
"Abid pulang larut, malam ini ... Mama tidur sama kamu, ya." Desy khawatir kalau Dinka kesulitan.
"Ah, Mama istirahat saja. Mama Resti juga. Aku bisa kok, paling ganti popok doang, sama angkat kalau pas nen." Dinka menatap Jen yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Tapi besok kamu juga ada jadwal terapi, Din ... paling enggak, kamu harus fit biar semua lancar." Tentu Jen lebih setuju kalau Dinka ditemani. Menggunakan kruk, sebenarnya Dinka bisa. Tapi mengkhawatirkan ketika harus mengurus bayi.
"Suster saja yang temenin kamu, ya ... biar Mama panggil."
"Nggak usah, Ma ... Sus Heni capek juga seharian. Aku tuh bisa ... kalau dibantu terus, nanti aku malah makin manja dan nggak akan ada perkembangan." Ingin sekali rasanya mengusir mereka berdua, tapi sudahlah ... sekarang dia belum berdaya seperti dulu.
"Ya udah, tapi kalau ada apa-apa, kamu telpon Mama ya. Kami ada dikamar sebelah." Desy mengalah. Ini sudah sangat malam. Abid bilang, dia baru akan pulang jam 1 malam. Ada beberapa hal yang harus ditangani hari ini. Katanya, ada operasi besar yang harus didampingi oleh Abid.
Dinka tersenyum menanggapi. Dia sudah merepotkan semua orang dua bulan ini. Mungkin dia harus minta operasi saja agar bisa jalan secepatnya. Kadang, dia merasa jadi beban semua orang.
Yang sebenarnya adalah, ketika rumah mulai senyap, Dinka terus melatih kakinya agar bisa berjalan kembali. Memakai tongkat jalannya, dia berjalan kesana kemari hingga keringat membasahi badannya.
"Ahhhh ...!" Sudah dua jam dia memaksa kakinya bergerak, menyuruh sebelah kaki itu tegak dan kuat. Tapi justru semakin kebas dan lelah hingga akhirnya dia jatuh di sofa dengan kaki terjulur.
"Ya ampun kaki ... kamu bandel banget sih." Ia memukul kakinya dengan ujung tongkat perlahan-lahan. Lantas ia tertawa kecil seraya melihat jam dinding. "Pantas lelah, ternyata sudah lama banget."
Sudah waktunya juga si babymbul itu bangun dan menyusu. Beruntung, Arion bayi yang baik, yang kalau malam hari jarang rewel. Sepertinya dia paham kalau Mamanya sedang tidak baik-baik saja.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka, menampakkan Abid yang kaget melihat penampakan Dinka.
"Sayang ... ya ampun." Melihat Dinka kepayahan bangun dari sofa, lalu keringat membuat baju tidur Dinka basah, Abid menerka dengan mudah. Tetapi dia tidak menghakimi istrinya itu. Dia cukup tahu apa yang dilakukan Dinka setiap dia tidak di rumah. Namun tidak melarangnya juga. Walau itu bukan sesuatu yang baik sebenarnya.
Akan tetapi memadamkan semangat untuk sembuh seorang Dinka rasanya bukan sesuatu yang tepat.
Abid bergegas melempar begitu saja tas ransel yang biasa digunakan untuk bekerja, lalu menghampiri Dinka dan membopongnya.
"Di lap saja, jangan mandi walau pake air hangat." Abid membawa Dinka yang masih sama ringannya dengan berhari-hari lalu, berbulan lalu saat mereka berbulan madu.
__ADS_1
"Mas lelah, jangan urus aku terus." Kan, dia makin merasa tidak enak hati. Harusnya dia yang mengurus Abid, bukan sebaliknya. Ah, dasar Dinka memang merepotkan.
"Sudah diam ... ini tugasnya Mas, ya ...!" Abid mencium bibir Dinka sekilas lalu membawanya ke kamar mandi. Mengelap badan Dinka sampai bersih.
Melihat Abid yang masih memakai pakaian kerja, mengurusnya sampai kembali wangi, membuat Dinka menangis.
"Maafin aku, ya, Mas." Ia terisak. Abid yang sedang berjongkok di bawahnya mendongak, lantas berdiri dengan raut khawatir.
"Kenapa sih, mesti harus minta maaf, Din ... kamu itu nggak salah sama Mas." Abid memeluk tubuh polos Dinka yang siap berpakaian sebenarnya.
"Aku merasa nggak berguna jadi istri, Mas."
"Ya ampun ...." Abid merasa Dinka itu kelewat baik sampai begini saja, merasa dia buruk. "Dengerin, Mas ya ...! Sekarang mungkin kamu yang sakit, tapi kamu ingat nggak, pas Mas yang sakit. Meski nggak merawat kaya gini, tapi kamu nerima sakitnya Mas yang aneh itu, Sayang ... kamu ngertiin posisi Mas kaya apa itu udah sangat luar biasa. Orang lain nggak bisa nerima kondisi Mas itu, loh, Sayang. Tapi kamu bisa dan biasa aja lihat Mas yang sakit jiwa. Padahal kamu bisa aja pergi."
Abid memeluk Dinka yang makin tergugu.
"Tapi Mas gendong aku, kemana-mana, dan aku—"
"Kapan lagi Mas bisa gendong kamu didepan umum tanpa harus berpikir kalau kita lebay? Sekarang, atau bahkan nanti kalau kamu sembuh, Mas akan dan tetap mau gendong kamu. Mas bisa denger detak jantung kamu tiap gendong kamu, Din ... Mas jadi tahu, kalau kamu itu begitu cinta sama Mas."
Abid agak bohong. Tapi sudahlah, dia tahu kalau deg-degan yang dirasakan Dinka lebih banyak karena malu dilihat orang dan takut mengikuti terapi. Pernah juga Dinka berdebar seperti itu karena dosis obat sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Tapi mungkin, Dinka bisa menerima gombalan remeh seperti itu, buktinya Dinka berhenti menangis, dan malah memukul dadanya.
"Gombalan Mas nggak asyik."
"Mas emang nggak jago, kaya kamu." Abid terkekeh seraya menjauhkan Dinka dari badannya. "Tapi Mas jago membuat bibir lain kamu puas, kan?"
__ADS_1
Dan Dinka langsung merah merona. Astaga ... itu sudah lama sekali tidak terjadi. Tapi mungkin sekarang sudah agak bereaksi. Ada denyut aneh di bibirnya yang lain.
Ya, setelah dua bulan lebih mereka hanya bisa memuaskan sepihak. Dinka terlalu stress dengan terapinya. Tapi malam ini sepertinya tidak.