
"Aku bisa bantu Tante balik sama Papa!" seru Bee sampai Dinka juga mendengarnya. Daripada Tante itu, yang mengerikan, susah ditaklukkan, dan tidak mau membujuknya, merendahkan diri padanya, lebih baik Tante Olla. Ya, benar ... Tante Olla setidaknya sudah mau merendah di kakinya agar dapat restu.
Olla berhenti lalu membuang napas sebelum berbalik dengan cuping hidung melebar. "Yakin?"
Bee mengangguk dengan mata penuh permohonan dan bibir tersenyum samar. Memangnya dia ragu soal apa?
Olla menyunggingkan senyum sinis. "Tante akan jadi Mama angkat yang jahat, yang akan membalas kenakalan kamu berkali-kali lipat!"
Ia segera menunduk dan menumpu lutut dengan kedua tangannya. Matanya lurus menatap Bee, yang manik hitam matanya tampak bergoyang. "Aku nggak takut atau sungkan meski Oma Opa dan Papa kamu melihat!"
Astaga ... Tante Olla juga sama jahatnya. "Aku pikir Tante baik—"
Olla berpindah ke telinga Bee, kemudian berbisik. "Aku baik sama kamu, karena Papa kamu! Peduli setan dengan anak angkat nakal kaya kamu! Bahkan setelah menikah dengan Papa mu, aku berencana membuang kamu dari hidup Papa mu! Selamanya!"
Selama-lama-lama-lama-lamanya.
Lepas sudah semua beban di hati Olla. Dia tidak pernah berpikir bisa membalas kenakalan Bee selama ini. Jujur saja, dia tidak berniat membuang Bee, tapi kalau memberi pelajaran sedikit dia ingin sekali.
Sekarang dia sudah lega. Jadi segera menjauhkan tubuh dari Bee. Anak itu hampir menangis dan ketakutan.
"Pergi sana, Anak Nakal! Atau mau Tante jadikan jus? Ingat ya, aku baik sama kamu hanya karena Papamu, kalau tidak aku sama jahatnya dengan mama tiri di film Cinderella!"
Mata Bee sudah basah. Kenyataan ini sungguh menyakitkan. Bee kecewa dan terluka sekaligus.
"Ternyata begini sifat aslimu, Olla?"
Mata Olla membola, nyaris keluar saking kagetnya. Ia memutar badan ke arah suara Abid muncul. "Abid?!"
Abid melangkah dengan tenang ke arah mereka berdua. Ia merangkul pundak Bee untuk menenangkan anak angkatnya itu.
Olla gelagapan. "Bid ... aku hanya bercanda tadi. Ak—"
__ADS_1
"Udah Olla!" potong Abid ditengah, membuat Olla makin kalang kabut. Mereka bertatapan sejenak. "Karena kamu udah jujur, sekarang aku juga mau jujur."
"Apa?!" pekik Olla kaget. Jujur untuk apa? Wajah Abid kenapa tenang begitu kalau marah dan tidak suka? Astaga, ini mengerikan. Abid yang dulu telah kembali.
"Jadi sebenarnya, aku nggak pernah merasakan yang namanya cinta sama kamu selama kita berhubungan ... kamu tahu, aku hanya lelah dikatakan nggak bisa move on dari Nara, jadi aku pacaran sama kamu! Paham?"
Olla menggeleng. Bukan tidak paham, tapi tidak percaya. Abid begitu tulus padanya, dan begitu terluka ketika ia membatalkan pernikahan itu. Ini nggak mungkin kan?
"Dan mengapa aku biarkan Bee bersikap menyebalkan ke kamu meski aku tahu?"
Alis Olla terangkat naik kedua-duanya. Ia heran lagi. Tapi tak apa, dia ingin dengar walau bagian ini sungguh membuat hatinya kesal. Dia merasa dipermainkan.
"Karena kalau kamu beruntung, kita bisa menikah dan hidup bersama selamanya. Tapi kamu—alam bawah sadar kamu, tahu dan merasa kalau kau tidak layak, jadi kau putuskan mundur. Well, aku hanya harus memohon agar semua kepura-puraanku terlihat sempurna. Kamu pergi sendiri tanpa harus aku susah-susah menyingkirkan kamu!"
Olla gemetar di bibir. Berkeringat di punggung dan rasa panas terbakar muncul entah dari mana?
"Kau f u c k boy!"
"Yess, i am!" Bibir Abid tersungging sebelah. "Aku lah sebenarnya antagonis dalam hubungan kita, dan bagus kau pergi dan menyisakan aku sebagai korban. Kau dipandang hina, sementara banyak simpati datang padaku!"
"Kau keterlaluan, Bid!"
"Semua sudah terlambat, La! Kau marah juga percuma. Kau tidak bisa lagi membalasku!"
Abid benar. Dia sudah begitu jauh terpuruk, bahkan dia digantung sampai sekarang hanya untuk mengabdi di pelosok. Sialnya, Olla tidak lolos dimana-mana selain mendaftar jadi suka rela. Dan selagi mengisi kebosanan, dia ikut bergabung di bisnis Nahwa, dengan sedikit pengetahuannya di bidang gizi.
Olla tak punya apa-apa. Kembali ke keluarga juga tidak mungkin, selama dia tidak mau dijodohkan dengan anak teman mamanya. Kenapa dia terkunci begini? Lelaki kenapa bisa semanipulatif itu sih?
"Bagus ketemu kamu di sini, Bid!"
Itu suara Mama Melia. Abid dan Olla menoleh bersamaan.
__ADS_1
Mama Melia berjalan anggun dengan Hermes Garden Party 30 Negonda PHW U hitam senilai 75 juta di tangannya. Merasa percaya diri dengan seorang pria tinggi ramping dengan wajah tegas angkuh mengekor di belakangnya.
"Nah, Abid ...," ucapnya saat sampai di depan Abid dan Olla. Ia tersenyum ceria, memutar badan sedikit demi meraih tangan pria di belakangnya tadi. "Kenalkan ini calon suami Olla, Alvin namanya."
Pria bernama Alvin itu mengulurkan tangan ke arah Abid.
Sementara Mama Melia masih berbicara. "Pengusaha batu bara yang sangat sukses sekarang ini. Bahkan untuk pertemuan pertama saja langsung belikan Mama Hermes ini."
Ia menggoyang tangannya. Abid melihatnya dalam lirikan. Dia memang buta soal fashion wanita, tapi memang tas itu terlihat mahal.
Maksud Mama Melia, sesuatu yang Abid tidak pernah belikan. Abid mana mampu beli tas semahal ini, kan? Pasti Abid tahu merek ini, kan?
"Ma—" Olla keberatan dengan mengenalkan pada Abid pria yang bukan seleranya sama sekali.
"Pria yang beneran cinta sama anak seorang ibu pasti dengan senang hati membelikan sesuatu selama mereka menjalin hubungan," ujar Mama Melia.
Oh, Abid paham. Memang dia tidak membelikan Mama Melia apapun, karena banyak alasan. Banyak sekali. Untuk apa? Tas milik Mama Melia banyak, dan dia memang dilarang Olla membelikan sesuatu untuk Mama ataupun dirinya sendiri.
"Ma—"
"Sudah Olla ... jangan lagi malu mengenalkan calon suami kamu ke mantan kamu ini! Jangan malu menunjukkan bagaimana seleramu yang bagaimana ke dia!" Melia tersenyum cerah.
Dinka akhirnya tertarik bergabung. Lagian dia sudah menghabiskan semua pesanannya, jadi buat apa lama-lama di sini? Ia menggandeng Honey dan menyapa suaminya.
"Mas kok tau kita di sini?" Dinka mengerling Abid dengan senyum dan gayanya.
Abid merasa hangat melihat senyum Dinka. Dia senang Dinka mudah bekerja sama begini. Tidak salah paham atau marah mendengar dramanya barusan. Soal dia lelah dibilang tidak bisa move on memang benar, tapi tidak cinta itu sedikit tidak benar, walau keputusannya menikahi Olla sebagian banyak karena desakan Olla. Jujur saja dia ragu tapi sudah tidak berhenti.
Mungkin itu cara Tuhan menyelamatkan dia. Meski dia harus seperti orang gila ketika Olla pergi. Meski dia harus malu kala itu.
Tidak apa kalau akhirnya dia diselamatkan dari wanita seperti Olla. Semua yang dirasakannya waktu itu sepadan dengan kebaikan yang dimilikinya sekarang.
__ADS_1
Dan dengan dia membalik fakta, dia berharap Olla berhenti mengganggu keluarganya. Terlebih Dinka yang kini sedang mengandung anaknya.
Tapi istri bar-bar itu ... apa yang bisa mengganggunya?