
Malam itu, Abid pulang lebih sore dari biasanya. Jam sebelas kurang, dia sudah mendorong tubuh Dinka ke atas bantal. Dia seakan tidak peduli pada keberatan Dinka yang seminggu ini kerap menolaknya.
Sekarang pun demikian, Dinka masih meronta hingga Abid kewalahan dibuatnya.
"Mas, plis deh!"
Abid melepaskan Dinka dari serangan tangannya. "Please untuk apa?"
"Iya, aku mau, tapi selama aku gak kamu izin kan minum pil itu, jangan kamu keluarkan di dalam lagi!" Mata wanita itu sekelebat menampakkan rasa malu saat mengatakannya, tapi jelas, dia sedang menguatkan protes demi kesejahteraan ketakutannya.
"Iya, nggak akan lagi!" Abid kembali menunduk, menaikkan tangan Dinka ke atas kepala. "Tolong yang kooperatif, Din ... kita enaknya kan sama-sama! Masa iya, abis begini aku harus ke ortopedi karena patah tulang?!"
Dinka berdecak malu. Wajah, telinga hingga ke lehernya terlihat merah. "Jangan dalem-dalem ... di sini, sakit."
Abid melihat kemana tangan Dinka satunya menunjuk. Keningnya berkerut. "Lambung? Ulu hati?"
Dinka mengangguk seraya mengalihkan bola matanya ke arah lain. "Iya ...."
Abid terkekeh. "Kok bisa? Biasanya yang sakit kan di bagian itu, kok di kamu malah di lambung? Aku masih pakai jalan yang benar, loh, pas gauli kamu!"
Dinka menarik napas dan berkata bersamaan. "Ya kekencengan nyodoknya."
Abid terkekeh. "Kita coba ritme yang pelan dan lembut kalau gitu."
Abid langsung menyerbu kembali bibir Dinka yang sepertinya memakai lipstik. Padahal biasanya, Dinka tak pernah pakai saat di rumah. Hari ini, entah untuk apa dia begitu. Tapi Abid suka, walau hanya lipstick saja.
Dinka merinding ketika Abid kalap di atas tubuhnya. Setiap jengkal kulit tak lepas dari sentuhan pria itu. Terkadang, dia begitu kejam menodai kulitnya yang bersih sehingga lebam merah tak terhitung jumlahnya.
Tidak tau kenapa setiap kali bersentuhan dengan Abid, ada rasa aneh menyelinap diam-diam, dan keesokan hari jika ingat bagaimana mereka bercinta, dia merasakan gelenyar aneh yang membuatnya tersenyum, pipinya panas, dan hatinya berdebar.
Bahkan malam ini, ketika Abid mengirim pesan: Mau dibawakan apa? Anak-anak sudah tidur? Dinka langsung gemetar dan nyaris tak bisa menyelesaikan tutor make up nya. Dinka suka lipstik, bahkan dia punya beberapa, tapi hanya dipakai di dalam kamar. Jujur, dia takut terlihat menor bin jontor jika pakai lipstik semerah sekarang.
Dinka memberanikan diri membuka mata saat Abid selesai dengan pemanasan yang dilakukannya, untuk segera ke inti permainan malam ini.
__ADS_1
Benda itu masuk dan menusuk, memaksa Dinka menahan sesak. Dia menggeram rendah.
"Kamu cantik ... boleh Mas panggil Sayang, saat berdua begini?"
Ugh, jleb atas bawah dah ....
Jantung Dinka bak terhujam panah saat ini. Dadanya ingin meledak.
Jangan begini, Mas ... nanti aku nggak kuat!
Dinka membuang muka. Rasanya tak keruan, tersanjung dan bahagia. Apa ini hanya dia saja yang merasakan? Apa Abid juga? Atau kata Olla benar, pria bisa melakukannya tanpa cinta.
Jadi kemana dia harus membuang perasaan ini?
Dia takut jatuh cinta sendirian, sama seperti saat dia menyukai Aric seorang diri dulu. Itu sakit ... sama seperti Ranu yang akhirnya pergi setelah ditinggal menikah oleh kakaknya.
Abid tersenyum tipis melihat Dinka yang tak merespons permintaannya. Dinka masih kuat pertahanannya, kukuh membentengi diri dari dirinya.
Pasti sulit bagi Dinka menerima cinta dari orang baru dikenal. Tapi Abid, mudah sekali mengganti perasaan meski belum lama hatinya dipatahkan.
"Ah, pelan Mas!"
Abid terkejut, tanpa sadar dia menghujam Dinka terlalu kuat.
Tatapan mereka terkunci untuk beberapa saat, namun Dinka bergegas mengakhirinya. "Jangan di dalam, Mas."
Abid memang sudah ingin selesai, jadi dia mengangguk lemah dan benar-benar melepaskannya di atas perut Dinka. Lantas beranjak untuk mengambil tisu.
"Biar aku sendiri saja, Mas." Dinka mengambil alih beberapa lembar tisu yang ditarik Abid, "Mas bersih-bersih dan istirahat saja."
Abid mengangguk, kemudian pergi ke kamar mandi dengan pakaian kerja yang masih melekat.
Dinka membuang napas. Wajah Abid ... dia melihatnya. Dan itu membuatnya kesal bukan main. Abid pasti tersinggung dengan ketidakmauannya hamil. Tapi jika hanya untuk dijadikan ajang balas dendam lalu setelah tujuannya berhasil, Abid akan kembali bersama Olla, tentu dia tidak mau. Kasihan anaknya kan?
__ADS_1
Dan lagi, Abid memintanya tidak meminum pil penunda kehamilan sampai dia mendapatkan mens. Dinka tahu alasannya apa, tapi jika Abid keluar lagi di dalam, kemungkinan hamil semakin besar, kan? Jadi apa salah jika dia melindungi diri dan masa depan manusia yang tak berdosa?
***
"Lihat sendiri, kan, gimana Uncle Papa sekarang, Honey?" Bee dan Honey mengintip Uncle Papa-nya yang langsung masuk ke dalam kamar tanpa menyambangi mereka berdua lebih dulu.
"Ini sudah malam, Bee ... Papa kira kita udah tidur." Honey mencoba mencari pembenaran atas tindakan Papa angkatnya. Ini sudah jam 11 malam, anak-anak jelas sudah tidur kecuali mereka berdua.
"Uncle Papa mulai berubah sejak ada Tante Je—Itu! Kamu jangan terus bela dia mentang-mentang kamu dibaikin sama dia! Ini keadaan kita sekarang, Honey! Kita hanya anak adopsi, jika mereka punya anak, kita akan dilupakan! Kamu harus tahu itu!" Bee mendelik sebal pada Honey yang kini mulai gelisah dan matanya basah.
"Bee, jangan nakuti aku lah ... aku takut! Mama itu baik, dia juga baik sama kamu, tapi kamu nggak mau deket sama dia, kan?" Air mata Honey mulai keluar membasahi pipi.
"Ck, dia begitu hanya agar kita luluh dan semua orang pikir mereka sayang kita!" Bee merendahkan suara dan kepalanya ke arah Honey yang tingginya jauh dibawahnya.
"Hanya Tante Olla yang sayang sama kita, Honey! Yang nggak merebut Uncle Papa dari kita, yang nggak bikin Uncle Papa tertekan terus!" Bee menekankan.
Honey mengerti apa maksud Bee. Dia melihat juga betapa Uncle Papa-nya kerap marah saat tak kunjung berhasil menguasai ketakutannya.
"Mulai sekarang, kamu harus ikut apa kataku, Honey! Uncle Papa harus kita selamatkan dari Tante Itu!"
Honey mengangguk. Tapi dia sendiri tidak setuju. Dia menilai baik Tante Olla dan Mama Dinka adalah wanita berhati mulia. Jadi dengan siapa saja, Honey tidak masalah. Hanya karena Mama Dinka orangnya mudah tertawa dan ceria, Honey lebih sayang dia. Tante Olla kadang galak dan suka membentak kalau Honey tidak menurutinya.
"Besok, kamu ikut aku temui Tante Olla di rumah sakit sepulang sekolah! Kita harus bicara sama dia soal ini."
Honey terperanjat dan menatap Bee lekat. "Tapi Bee ...."
"Tenang saja, kita bisa temui Tante Olla di rumah sakit, dengan alasan ingin ketemu Uncle Papa! Pasti nggak ada yang curiga!"
Bee mengawangkan rencananya besok. Dia sudah atur jalur yang paling aman agar rencananya tidak terendus sang Papa.
*
*
__ADS_1
*