
"Bee ingat ini pakaian kapan?" Dinka menempatkan Bee di hadapannya. Sofa dan ranjang berdekatan, dan Bee hanya bisa patuh sebab Uncle Papa-nya tadi sedikit kesal karena tas berisi pakaian itu.
Bee menahan diri untuk tidak menggeleng.
"Ini pakaian Papa yang tadi kena muntahan!"
Pluk.
Tas itu jatuh dari tangan Bee. Dinka mengabaikan.
"Tante kesayanganmu nggak bilang ini pakaian apa?"
Kali ini Bee menggeleng. Pelan dan lemah. Kepalanya yang sejak tadi kaku menentang tunduk seketika.
"Mama, jangan marahi Bee ...," pinta Honey yang kini berada di cengkeraman Abid. Pria itu diam menahan geram. Dinka melarang Abid mengatakan apapun. Bee tidak boleh tahu kalau Papanya seorang pemarah yang mengerikan.
"Diam Honey!" larang Abid perlahan. Suaranya mendesis. Matanya mengeluarkan urat merah yang mengerikan.
Sepenuhnya Dinka mengabaikan keributan sebelah sana dan tetap menghadapi Bee dengan tenang.
"Bee, Tante Olla-mu bahkan nggak tau pakaian ini kenapa, atau Papa maunya bagaimana karena memang Tante Olla kamu itu nggak seperhatian itu ke Papa."
Bee tentu tidak percaya.
"Lagian Bee, Tante Olla gimana bisa ambil baju di rumah kita? Pasti sama Oma nggak diizinkan, kan? Dia siapa memangnya?" Dinka mulai memainkan perannya sebagai apa yang Bee inginkan. Dia Tante Jahat, kan? Baik, mari kita wujudkan dugaan Bee tersebut.
__ADS_1
"Kamu tau kenapa Tante Dinka yang jadi Mama angkat kamu sekarang?"
Bee mendongak dengan berani. Ya, itu yang sangat ingin Bee ketahui. Kenapa? Kenapa dia yang ada di sini dan dibela Uncle Papa sekarang? Kenapa? Padahal Tante Olla sudah menghabiskan banyak waktu mendapatkan kebenciannya.
Dinka tersenyum sinis. "Karena Papa, punya kamu dan Honey. Karena Papa punya anak nakal yang benci pada calon istri Papanya."
"Itu nggak bener! Tante Olla sayang sama kami berdua! Kamu tukang bohong!" Bee merasa sakit hati mendengar itu.
"Ya, pura-pura kan bisa? Memangnya kamu tahu isi hati dan pikiran Tante kesayangan kamu itu?" Dinka mengambil tas itu dan menarik napas. Susah sekali lepas dari belenggu barang mantan!
"Kamu harus belajar dari kejadian ini, Bee! Kalau yang selalu tersenyum sama kamu setelah kamu sakiti, belum tentu hatinya juga begitu. Tante Olla itu buktinya. Bukan hanya ke kamu dia dendam, tapi ke Papa kamu yang selama ini tulus menerima dia. Kamu nggak lihat gimana Papa kamu tertekan hadapi kaburnya Tante Olla waktu itu? Dia benci kamu tapi balas dendamnya ke seluruh keluarga yang selama ini sayang sama kamu!"
Bee menelan ludah. Benarkah?
"Kamu selama Tante Dinka yang jadi Mama angkat kamu, harus baik-baik ke Tante, ya! Tante bukan Tante Olla yang pandai drama. Tante akan membalas apa saja yang kamu lakukan ke Tante ... tanpa takut siapapun! Kamu yang berulah, kamu juga yang mendapat hukuman. Tante Dinka adalah apa yang kamu lihat, Bee ... jadi setelah ini, jangan buat Tante Dinka marah, atau ...."
"Kamu tinggal pilih, Bee ... jadi anak baik itu mudah! Jangan mempersulit diri. Mau kaya apa kamu berusaha, Tante Dinka yang akan jadi pemenangnya."
Astaga!
Ruangan ini sunyi kemudian. Semua mendengar dengan penuh perhatian. Ini ancaman yang memudahkan Dinka menangani Bee. Kasihan anak itu tersesat.
"Ante!!"
Suara dobrakan pintu berbarengan dengan suara yang dikenal Dinka memecah keheningan.
__ADS_1
"Oh, ada anaknya Om Dokter!" Ace tersenyum riang saat melihat Bee dan Honey. Tapi dia tidak mau menyapa berlebihan. Fokusnya hanya ke Ante kesayangan yang kini sedang menatapnya dengan senyum khas.
"Ante kapan nginep lagi? Main yang seru lagi! Mami apa-apa malas, katanya lemes lah, pinggang sakitlah, banyak alasan nggak kaya Ante. Mami kaya nenek-nenek!!" Ace melemparkan tas sekolahnya ke lantai begitu saja, lalu mendekati Dinka.
"Om Dokter sudah sembuh? Kapan pulang? Nginep di rumah Nenek aku, ya ... di rumah Ante Dinka lagi! Seru main sama Om Dokter!" Dia tersenyum ramah. Mencium tangan Dinka lebih dulu, Ace lalu menyambangi ranjang untuk menyalami Om Dokter.
"Oke ... kalau Om udah sembuh, ya!"
"Honey ikut," rengek Honey. Dia iri melihat senyum Papanya untuk Ace. Takut kalau dia beneran akan digantikan oleh anak-anak Mama Dinka seperti kata Bee. "Honey akan jadi anak baik, Papa!"
"Good!" Abid mencium Honey dan mengusap kepala Ace lembut.
"Honey!" Mata Honey mengerjap lucu saat mengulurkan tangan ke Ace. "Kamu Ace kan? Kita teman sekarang."
"Kalau jadi temenku, harus sayang sama Ante aku, ya!" Ace menyambut uluran tangan Honey. "Kalau enggak, nanti aku minta lagi Ante dari kamu! Kami berikan Ante ke kalian karena yakin kalian bisa sayang Ante, kaya aku sayang sama dia selama ini!"
"Aku sayang Mama Dinka, kok ... Bee yang enggak! Hanya Bee saja!" Honey merengut panik. "Dia yang selalu ajakin aku buat nggak sayang sama Mama Dinka!"
Dinka dilain sisi langsung berpikir, Ace adalah duta sampo lain. Eh, maksudnya ... pasti suruhan Mami atau Papinya. Kalau tidak, dari mana dia dapet kata-kata itu, kan?
Tapi dia menahan diri untuk mengubah ekspresinya.
Bee kalang kabut jumpalitan dalam hati. Gawat kalau Honey bisa dibujuk, semua pasti terbongkar. Tapi dia tidak bisa kabur begitu saja.
Ya ampun. Kenapa bisa begini, sih? Bee menatap tak suka pada pemandangan ranjang yang hangat. Ketiga penghuni di sana larut dalam canda yang luar biasa akrab.
__ADS_1
"Lihat, kan? Siapa yang di sayang di sini, Bee? Kamu yang menyulut perang, dan kamu nggak punya kawan!" Dinka berbisik jahat di telinga Bee. "Kamu salah lawan, Bee ... aku bukan Tante Olla yang akan memakai banyak akal untuk membuat semua memihakku. Kamu salah strategi, Bee! Kalau kamu kalah, kamu akan tersingkir kalau tidak segera mengadakan gencatan senjata!"
Yang licik, harus dibalas dengan trik. Olla bermain drama, dia memainkan strategi. Di sini adalah kerajaannya, dan ratu akan maju di depan untuk melindungi raja dan kerajaannya. Olla bukan masalah yang sulit. Hanya akar-akan kecil saja masih menggelitik.