
Ranu ... begitu mendengar sahabat baiknya menikah, lengkap dengan kisah dibalik layarnya, langsung pulang ke tanah air dan menginspeksi rumah sakit.
Dia meminta data Muhammad Abidin Ilham Al-Fatih, pria yang menjadi suami dadakan sahabatnya. Dia duduk di kursi kebesaran yang biasa di duduki mendiang kakeknya, Papanya, Om nya, dan sekarang Dr. Vivian. Tapi ketika Ranu datang, Vivian menjadi tersangka di depan Ranu. Lebih dari sebuah kesalahan membiarkan Dinka menikah dengan pria yang hampir menikah.
"Dokter Olla sedang sakit, Ranu." Vivian menjelaskan, "tapi karena kamu, dia datang secepatnya." Tidak mungkin Vivian memanggil wanita muda ini Nona atau panggilan lain, sebab Ranu dianggap anaknya sendiri.
"Mami tau kan, Dinka itu sahabat aku ... aku cerita kan, Mi?" Ranu tahu susah menikah dengan pria yang penuh luka dan kisahnya belum usai. Dia mengalaminya sendiri. Ranu bukan tidak mencoba, tapi susah. Jadi dia memilih sendiri dan terus belajar untuk melupakan kesedihannya.
"Yah, Dokter Abid itu pria baik ... tak ada alasan Mami halangi mereka. Kami datang dan melihat, semua baik-baik saja ... tapi kamu bisa nilai sendiri nanti kalau Abid datang, Sayang." Vivian tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi. Biar Ranu melihat sendiri.
Ranu menunduk, menatap lagi CV Abid, dan data pria itu di layar komputer. Dia tidak melihat Vivian keluar dari sana saking terlalu fokus memeriksa Abid dan segala kekurangannya.
Sampai saat pintu ruangan dirut diketuk dari luar, Ranu mengangkat kepalanya dari layar.
"Selamat sore, Bu." Olla sedikit kaget ketika mendapati bukan dirut yang duduk di balik meja. "Maaf, Nona."
"Saya Ranu ... silakan duduk." Mata Ranu yang cenderung terang, menatap intens kedatangan Olla. Wanita itu grogi ditatap sedemikian rupa oleh Ranu, yang dia tahu sebagai generasi penerus rumah sakit ini.
"Maaf saya tidak tahu anda yang akan memimpin rapat kali ini, Nona ... saya—"
"Saya tidak buru-buru, dan hanya dihadiri kita bertiga." Ranu menukas, matanya mengisyaratkan agar Olla duduk di depannya.
"Saya hanya akan bertanya soal hubungan anda yang gagal dengan salah satu dokter di sini—"
"Saya menjamin dengan diri saya sendiri, kalau hal itu tidak akan mengganggu kinerja saya, Nona. Hubungan kami tidak akan mempengaruhi rumah sakit secara signifikan. Kami bisa bersikap profesional, Nona." Olla perlu Ranu tahu hal itu. Yah, rumah sakit ini terlalu menggiurkan untuk ditinggalkan begitu saja. Dia tidak mau juga kalau sampai dia dipecat dari sini. Dia khawatir dalam hati, dan mungkin Ranu juga melihatnya.
"Terdengar menyakinkan sekali." Rani mengejek. "Ini menikah, loh ... Dokter, bukan lagi cuma pacaran."
"Ya, Nona ... itu keputusan saya. Kami baik-baik saja sampai ada satu hal yang tidak bisa keluarga saya terima. Bagi saya keluarga nomor satu, dan saya tidak masalah dengan putusnya hubungan kami." Olla menegaskan dengan helaan napas yang besar.
"Saya pegang kata-kata anda, Dokter ... sebagai ganti, jika hal ini sampai membuat kinerja anda dan Dokter Abid rusak, maka anda harus siap dengan konsekuensinya!" Ranu menegaskan. Dia menjaga untuk dua hal sekaligus, rumah sakit dan sahabatnya. Biasanya gangguan dari mantan yang patah hati lebih berbahaya dari serangan alien.
Olla mengangguk. "Saya pegang janji saya, Nona."
Ranu menyelidik sekali lagi ke mata Olla. Cantik, sayangnya terlalu ceroboh.
__ADS_1
Tak ada lagi yang dibicarakan, Olla segera pergi dari ruangan dirut. Meski sepanjang jalan, dia masih sibuk memikirkan kenapa sampai seperti ini owner turut campur? Setahunya, Vivian cakap dan tegas mengolah rumah sakit.
Ketika sampai di parkiran, dia melihat Abid turun dari taksi dan berjalan tergesa ke ruangan direktur.
"Abid ...!" panggil Olla, yang sayangnya sama sekali tidak digubris oleh Abid yang kini berlari menuju kantor.
Awalnya, Olla ingin menyusul pria itu, tapi urung ... lebih baik, biar Abid bicara sesuai versinya. Takutnya, kalau dia menyuruh Abid ini itu, Abid makin benci padanya. Dia masih ingin kembali, dengan cara yang baik.
***
Ditinggal Abid pergi, membuat Dinka bengong makin lama. Kopi yang sama sekali tidak disentuh Abid itu ditatapnya lebih lama dari apapun yang pernah dia perhatikan.
Sampai telepon berdering sejak dua menit lalu dia abaikan.
"Mbak Dinka, ponselnya bunyi tuh." Zoya memperingati. Dia melihat bosnya galau tingkat dewa. Kenapa sih? Ada suami, ngomel, nggak ada kaya orang kesambet.
Dinka tersentak dan ber "oh" sebagai jawaban. Gerakan tangannya cepat, tanpa menatap. "Ya ...."
Mata wanita itu membeliak. "Serius kamu pulang?"
Zoya hanya bisa menghela napas. "Mbak Dinka serius kesambet hantu bali," ujarnya seraya menggeleng.
"Aku meluncur, Sayangku," ujarnya memberitahu si penelpon. Bukan, bukan Dinka buru-buru cari taksi, tapi dia kaget melihat Koko duduk tenang di seberang halaman, dimana ada dua bangku ditempatkan.
Pria yang tampak beberapa tahun lebih tua darinya itu mendekat saat melihatnya berdiri dengan posisi siap pergi.
"Mas ngapain di sini?" Jelas dia keheranan. Untuk apa? Abid lebih butuh Koko daripada dia, kan? "Mas Abid kan ada rapat, Mas?"
Senyum Koko keluar lebih dulu. "Kata Mas Abid, saya harus standby di sini untuk Mbak Dinka."
"Saya bisa naik taksi kalau mau pergi," debat Dinka dengan pelipis memunculkan urat tipis. Kenapa dia jadi risih begini?
"Mas Abid takut Mbak ketemu sama cowok lain." Koko menduga saja sih, sebab bosnya itu agak aneh pas bilang padanya agar tidak bergeser seincipun dari tempat ini.
"Oh, jadi dia mau awasi aku, lewat Mas koko?"
__ADS_1
"Ehm ...?" Koko menggaruk kepalanya. "Mas Abid hanya takut miliknya dibawa orang, Mbak. Ayo, naik, Mbak ... biar saya antar ke tujuan Mbak Din!"
Mata Dinka menatap Koko yang membukakan pintu untuknya, memintanya segera naik dengan desakan yang halus. Itu hanya ekspektasi Koko saja, kan? Nggak mungkin Abid mengklaim dirinya seposesif ini sementara dia begitu cuek saat pergi.
Koko bersenandung seraya mengukir senyum tipis sepanjang jalan. Akhirnya, Dinka memang tidak punya pilihan kan?
Dia tidak senang mendengar ucapan Koko tadi. Atau harusnya itu diucapkan Abid, kan? Tapi kenapa Dinka berharap sekali, apa bercinta beberapa kali mempengaruhi pikirannya yang solid selama ini?
"Tau gini, tadi Mbak bisa pergi bersama dengan Mas Abid kan?" Koko berujar ketika dia membukakan pintu untuk Dinka, walau sudah ditolak mentah-mentah oleh Dinka. Ini juga perintah Abid, menjaga Dinka dengan sangat baik dan sempurna sampai di tempat tujuan. Dan tujuan mereka sama, yaitu rumah sakit.
"Mereka rapat dengan para Dokter. Saya hanya ketemu temen, Mas." Dinka menyandang tas dan mengabaikan Koko yang membukakan mobil. "Mas boleh pergi!"
Dinka berlalu dengan langkah tergesa dan dingin. Sikapnya ini entah karena apa. Dia ingin diklaim, entah dari mana pikiran itu berasal. Yang jelas, dia ingin Abid mengakui dirinya setelah semua pemaksaan yang nikmat itu. Dia tidak ingin dimanfaatkan madunya saja untuk kepentingan pria itu. Dia ingin mereka saling memiliki, tapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
Abid masih di rumah sakit, bertemu beberapa teman yang memberi ucapan selamat sekali lagi dan membahas bulan madu yang singkat itu. Abid berwajah sumringah, jelas pria itu bahagia dan terpuaskan. Teman-temannya tahu, Abid pasti telah mendapatkan apa yang dia mau.
"Olla pasti merasa sakit hati melihat semua yang dia rencanakan, kamu pakai dan kamu nikmati dengan istri kamu." Teman Abid menyenggol bahu Abid. Mereka membicarakan ini dalam perjalanan ke parkiran.
"Kamu kejam, Sob!" Mereka jumlahnya lima orang, enam dengan Abid. Pria lajang dan menikah dan usianya dewasa. Obrolan mereka tak jauh dari hal berbau dewasa pula. Biasa mereka melakukan itu kalau kumpul.
Abid terkekeh. Dia hanya menepuk bahu temannya dengan tangan kanan dan kiri.
"Kamu berhasil balas dendam dengan cara yang berkelas, Bro. Yakin aku, Olla pasti sudah memesan ruang kremasi saat ini." Ini teman Abid yang paling ujung, yang paling dekat dengan arah dimana Dinka muncul.
"Sambil menyelam minum susu." Abid terkekeh. "Balik duluan, Bro ...."
Dinka mundur mepet ke mana saja asal tidak sampai terlihat oleh Abid. Dia belum siap berdiskusi atau apapun soal : sambil menyelam minum susu barusan.
Kenapa hatinya sakit?
*
*
*
__ADS_1