
Kehamilan Dinka disambut gembira oleh kedua pihak keluarga, terutama keluarga Abid. Desy dengan ikhlas membiarkan Resti mengurus segala sesuatunya, memilih tempat, sementara dia hanya membantu sebisanya. Meski dalam hati, Desy tidak menyetujui beberapa hal yang Resti pilih, tetapi demi menjaga perasaan Resti dan tidak mau mengganggu kebahagiaan besannya tersebut, Desy mengalah.
"Dinka!" Desy memanggil anaknya yang setiap pagi bangun lebih siang. Hobinya sekarang diam, membaca, dan makan. Sejujurnya, Desy agak kehilangan sikap cerewet Dinka, walau sungguh, sikap anaknya kini sungguh anggun sekali. Desy suka perubahan itu. Walau tidak sedrastis ini seharusnya.
Desy dengan langkah enerjik-nya menuju kamar Dinka di bagian belakang. Akhir bulan Dinka akan menginap di sini selama beberapa hari dengan Abid, terkadang Honey, tapi Dinka hanya akan menghabiskan waktu di kamar, membawa anak-anak ke kamarnya.
"Din, Mama mertua kamu barusan telpon Mama, empat bulanan diadakan di rumah kalian." Desy masuk dan duduk di sebelah sofa bawah ranjang. Jujur saja, Desy ingin acara itu diadakan di rumah ini saja. Bagaimanapun Dinka anak perempuan satu-satunya, tapi Abid dan bayi ini juga pertama kali hadir di rumah Keluarga Abid. Jadi Desy bisa apa?
"Baguslah kalau Mama Resti sendiri yang ngomong ke Mama." Dinka menatap sekilas mamanya lalu kembali menunduk ke buku kehamilan yang dibacanya. "Tadinya aku yang di suruh Mama Resti ngomong."
"Jen juga empat bulanan dua hari lagi walau nggak di sini." Desy ingin membuka pembicaraan. Dia ingin bicara dengan Dinka yang kini jauh lebih dewasa walau cueknya masih ugal-ugalan.
"Mama udah dua kali adain acara begituan, kan?" Dinka menutup buku, menatap Mamanya. "Jadi nggak masalah kan seharusnya."
"Iya ...." Desy salah tingkah sendiri. "Ya, kamu anak Mama Din, masa kehamilan pertama kamu harus diadakan di sana. Mama ingin yang siapkan ini itu nya."
"Di sana Mama juga bisa bantu siapkan ini itunya. Mama Resti malah kelihatan minta ilmu dari Mama yang udah berpengalaman." Dinka nyaris tersenyum. Apa ini artinya dia juga sama berharganya dengan Darren?
"Ya, tapi beda kalau Mama sendiri yang siapkan—ngerti, kan?" Desy gelisah. Sungguh dia berharap Dinka mengerti apa maksudnya, walau harapannya ini sangat muluk-muluk. Dinka manusia paling tidak paham kode. Lemot dan telminya sudah dalam tahap kronis.
"Itu hanya formalitas, Ma ... Apa sebaiknya nggak usah saja diadakan acara begitu itu?" Sudah pasti dia akan ditempatkan pada situasi yang kurang mengenakkan, merepotkan, dan melelahkan.
"Jangan!" Astaga ... bisa gawat kalau itu terjadi. Resti bisa salah paham padanya nanti. "Ya udah sih, di sana nggak apa-apa."
"Nah gitu kan bagus." Dinka tertawa licik, membuat Desy berdecak. Sudah pasti Desy tak akan dibiarkan menang mendebat Dinka.
"Kita rujakan aja, yuk, Ma." Dinka membujuk. Dari beberapa hari lalu, bahkan sejak dinyatakan hamil, semua orang sibuk menanyakan ngidam apa, ditawari ini itu, tapi sungguh, Dinka merasa biasa saja. Dia makan normal, semua masuk, hanya dia tidak tahan dengan bau bawang, selain itu hajar saja. Jadi sekarang, bolehlah rujakan biar pada senang.
"Ayo!" Desy berdiri dan mengulurkan tangan.
__ADS_1
Dinka langsung memeluk mamanya, membuat Desy kaget bukan main.
"Maa ... maafin Dinka selama ini, ya. Selama ini, Dinka bikin Mama susah, selalu suudzon kalau Mama hanya sayang Darren, sayang sama Jen saja, suka ngebantah Mama, suka—"
"Mama yang minta maaf, Dinka ...." Desy membalas pelukan anaknya dengan air mata perlahan membasahi mata. "Mama yang sudah buat kamu susah, tertekan, Mama banyak nuntut tanpa mikir gimana perasaan kamu. Maafin Mama, ya, Nak."
Dinka mengangguk. Air matanya tumpah begitu saja. Jujur saja, Olla sedikit banyak mempengaruhi dirinya. Permintaan Olla terang-terangan itu tetap saja mengusik hatinya, walau Abid terlihat tidak terpengaruh. Sebenarnya Dinka takut, jika terlalu menekan Abid justru akan membuatnya semakin posesif. Mungkin ini hormon kehamilan yang membuat jiwa cueknya terganggu.
"Kalau Dinka ada masalah, boleh kan aku ngomong sama Mama, kaya Jen pas cerita apapun ke Mama."
Desy tertawa. "Emangnya kamu akan dapat masalah apa, Din? Masalah udah mental duluan pas mau nyamperin kamu. Orang masalah hidup sering kamu ajak becanda."
Dia melepas pelukan dan menangkup pipi Dinka. Dia tahu menjadikan keinginan seseorang sebagai bahan candaan itu salah, tapi Dinka begitu memang keadaanya.
"Tempat kamu pulang itu Mama, Dinka! Jangan tanya apa boleh cerita kalau ada masalah, karena tidak ada masalahpun kamu tetap bisa pulang ke Mama. Kalau kamu merasa nggak bisa hadapi sendiri, Mama akan bantu kamu, kasih jalan keluar, jadi jangan ragu kalau mau cerita ke Mama. Mama akan dengerin kamu, Nak."
Sial benar yang namanya hormon kehamilan ini! Lihat, Dinka yang setegak batu karang ini akhirnya menangis dan terharu.
Dinka memeluk kembali Mamanya. Dia benci melow begini, tapi sungguh, dia ingin merasa lega.
"Mama jauh lebih sayang sama kamu, Din ... sayang banget." Desy tersenyum. Mungkin Dinka memang punya masalah, hanya belum mau cerita.
"Mantan Mas Abid datang, Ma. Dan ingin Mas Abid kembali padanya." Dinka akhirnya berkata setelah lima menit penuh diam di pelukan mamanya.
"Wajar kalau mantan Mas Abid begitu." Pelukan dilepaskan Dinka dengan cepat dan menatap heran Desy.
Apa ini maksudnya? Mereka baru saja baikan, dan dalam hati Dinka memuji kebaikan hati juga kebijaksanaan mamanya, tapi sedetik baru beranjak, mamanya sudah balik ke setelan pabrik. Astaga.
"Ya, mereka pasti masih ada perasaan kan? Wajar kalau mantan Mas Abid belum bisa move on. Kamu harus sadar kalau pernikahan ini setengah memaksa, Dinka. Kamu yang maksa gantiin posisi mantan Mas Abid, jadi wajar hal begini terjadi. Kamu yang harus gigih, kamu yang harus kuat berusaha untuk pernikahan kamu ini. Jangan paksa Mas Abid menoleh ke kamu terus, pakai perasaan dan tindakan yang membujuk, alihkan perhatian Mas Abid dari mantan. Dengan begitu, Mas Abid pasti hanya akan melihat kamu sebagai satu-satunya wanita."
__ADS_1
Kan? Saran Mamanya justru menyuruhnya berusaha sendiri. Selalu saja memberatkan ke titik awal dimana dirinyalah yang memaksa. Benar, dia merebut posisi Olla.
"Jadi aku harus akui kalau aku rebut posisi mantan Mas Abid?"
"Kamu mengisi tempat yang ditinggalkan, Dinka. Itu jelas salah yang meninggalkan, tapi bukan berarti kamu itu salah jika duduk di sana. Dan lagi, kursi itu istimewa, yang ketika diganti oleh orang lain, akan mudah begitu saja diberikan. Kamu pemilik sah kursi itu, jadi jangan pikirkan lagi apa-apa. Mantan itu hanya halte, sementara kamu adalah rumah."
Dinka tersenyum.
"Sudah ada anak, jadi pernikahan kalian kuat." Desy tersenyum.
"Rugi kalau nikah doang tapi nggak tau gimana enaknya nikah, Din. Coba aja Abid beneran sakit, kamu sekarang pasti udah minta cerai."
Dinka terperangah. "Nggak lah Ma, amit-amit."
Desy membenarkan posisi duduknya. "Beneran, Din ... nikah itu ibadah terlama dan paling melelahkan. Pilihannya banyak yang abu-abu. Opsinya bukan hanya A, B, C, D, tapi banyak sekali sampai Alpha beta juga. Baik diomongin, buruk lebih parah. Jadi kalau nggak ada yang enak-enak dalam pernikahan, mending jomblo aja sampai tua."
Dinka perlahan memahami. Dan kini dia mengerti. Benar, menikah itu rumit. Ditambah bumbu hormon wanita yang ajaib, dan sikap diam pria, kalau tidak ada pemersatu yang penuh dengan madu, pasti kacau balau dunia ini. Ribut terus setiap hari. Padahal, setelah ribut, selalu ada ranjang yang berantakan, dan desah an yang kelewat menggebu.
Ah, iya ... Benar begitu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamu alaikum, salam sejahtera semuanya🤗
Untuk semua temen pembaca yang muslim, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan 1444 hijriah, semoga puasa tahun ini membawa keberkahan untuk kita semua. Aamiin🤲🏻
Selain itu, dikarenakan laptop saya sudah RIP, lalu hengpon saya juga retak layarnya karena terjun bebas ke lantai, saya minta Maaf sekali kalau update tersendat. Hape gantian sama bapaknya anak-anak, karena mau beli juga belum ada alokasi dana🙏 tapi saya usahakan up walau satu bab. Mungkin jam segini atau lebih malam, atau pagi, tergantung hape bapaknya nganggur.
Sedang saya usahakan diperbaiki, meski memang hape ini ketinggalan jaman sekali😄 tapi ya, bagi saya yang nggak tau hape buat apa, ini saja cukup. Hehehe, saya emang cuma penikmat saja, bukan tipe yang suka apa2 upload di medsos. Jadi ya, hape hanya buat nulis dan keperluan yang berhubungan dengan nulis.
__ADS_1
Saya kira cukup ya, wkwkwk ... cuma mau kasih info aja sih, takutnya dikira saya malas update, apalagi gantung, walau emang ada benernya🤣
Ok, selamat malam, selamat memikirkan menu sahur, selamat berpuasa semuanya 🤗