Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Gagal Maning


__ADS_3


Arion agak rewel. Mungkin karena sejak sore suasana hati Maminya tidak bagus, Arion jadi bisa ikut merasakannya. Bayi tampan itu terus menyusu dan tidak mau diajak siapa-siapa.


Abid melihat itu tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menjaga Dinka agar tidak kelelahan serta membantu agar nutrisi Asi dan tubuh Dinka tetap terpenuhi. Abid bahkan menyuapi Dinka makan malam, Arion sungguh tidak bisa dilepas dari gendongan Dinka.


"Kita balik aja ya!" Abid meletakkan piring di meja yang langsung diambil oleh Sus Heni, yang sejak sampai di sini terus berada di sekitar Dinka dan Arion. Sus Heni tidak berdaya menghadapi keras kepalanya bayi yang bahkan belum bisa merangkak itu.


"Udah malem, Mas ...."


"Arion mungkin nggak nyaman di tempat baru," bujuk Abid. Sebenarnya, dia merasa ini memang karena suasana hati Dinka yang memburuk meski anak-anak dihandle sepenuhnya oleh Jen dan Darren.


"Masuk angin kalau orang dewasa, Bu," sela Sus Heni dari arah dapur dengan tangan membawa air putih untuk majikannya. "Biar saya ambilkan minyak telon buat redain mualnya."


Dinka menatap Abid yang hanya menghela napas. Masuk angin itu penyakit apa sebenarnya, ya? Masih menjadi misteri hingga bayi pun bisa mengalami.


"Periksa gih, Mas! Kan Mas dokter anak!"


"Mas tadi udah lihat Ion, dan gak kenapa-napa, orang suhu badan normal, kok." Abid yakin masalahnya hanya sebatas Arion peka terhadap perasaan ibunya. Mama Resti sudah mengatakan tadi saat dia menelpon.


"Ya masak kita mesti pulang malam begini?!" Dinka merasa pulang bukan solusi, bisa jadi Arion makin rewel kalau harus berkendara lagi.


"Ya, dari pada di sini, malah nggak bisa ngapa-ngapain!" sindir Abid dengan mata melirik Dinka takut-takut. Wah, bisa kena amuk nanti. Acara hari ini sudah berantakan, ditambah ucapannya barusan.


"Mas mau nyalahin aku, gitu!" Dinka sebal melihat ekspresi Abid. Ya, usulannya di acc sama boss, jadi ya, hayuk kan? Lagian banyak ibu pasca persalinan yang liburan pas bayi usia di bawah 6 bulan. Arion mah tergolong udah gedean dan jaraknya cuma beberapa puluh kilo meter saja dari rumah. Ngagk sampai terbang pakai pesawat juga, kan? Masih di iklim tropis yang kebetulan hanya sedikit lebih dingin dari kota tempat tinggalnya. Ah, pokoknya begitu lah!


"Sama sekali enggak, tapi kalau cuma mau ...." Abid mendekatkan tubuh ke punggung Dinka, lalu berbisik. "... mantap-mantap saja, harusnya dikamar kita kan bisa!"


Dinka membuang napas lelah, terlalu keras sampai Arion bergerak sedikit.


"Pelan napa, Din!" Abid menepuk Arion pelan agar kembali tidur.


"Ya, kan di rumah Mama sama Papa suka masuk nggak ingat waktu! Mas tau kan, kalau udah ada yang manggil gitu, bikin aku nggak bisa konsen ke perbuatan kita!" Dinka tidak peduli pada Abid yang khawatir obrolan tegang mereka membuat Arion terbangun dan menangis lagi.

__ADS_1


"Mana kadang udah diujung—"


"Emang ada ujungnya?"


"Ih, Mas, ih!" Dinka merengut galak, menatap Abid tajam. Sementara Abid terkekeh. Ingin rasanya menampar mulut Abid yang suka semaunya itu kalau bicara.


"Kan pintu udah dikunci! Papa sama Mama juga selalu ngetuk pintu kalau mau bawa Ion." Abid tahu betapa kedua orang tuanya begitu bangga memiliki Arion. Cucu pertama, tampan pula. Mana sabar mereka kalau mesti nunggu pagi biar bisa gendong. Malah kadang, mereka berdua maksa agar Arion bisa tidur di kamar mereka.


"Tapi Mas, aku kalau udah terkejut, udah buyar! Ilang semua fokus, pikiranku melayang ke depan pintu! Mama pasti curiga kita lama bukain pintu! Belum lagi harus beresin baju yang letaknya berjauhan antara kemeja dan celana!"


Abid terkekeh lagi seraya menggaruk kepala. Itu benar. Dia merasa tidak afdol kalau Dinka tidak melepas semua pakaiannya saat bercinta. Walau hanya percintaan singkat, Abid masih suka mode primitif.


"Pake daster juga mesti lepas! Padahal tinggal nyingkap ke atas, nggak usah ditanggalkan semua!" Dinka mendengus. "Itu nggak praktis!"


"Hehehe, aku tuh menikmati waktu sama kamu yang sempat ke jeda, Sayang! Kek nggak puas kalau nggak lihat kamu polos! Tapi nanti aku coba pake imajinasj baru!" Abid mencoba menghibur. "Nanti kita praktekan!"


"Anak Mas nempel di aku, kalau Mas nggak lihat!" Astaga, gimana bisa, sih, Mas?! Ini bocah kek kena lem cap gajah aja di dada Maminya. Gerak dikit aja udah kek sensor laser pekanya.


"Nggak papa, nanti Ion kek lagi diayun pas Mas goyang kamu!"


"Ngaco kamu Mas!" Dinka mengulum bibirnya sendiri ke dalam. Membayangkan saja sudah panas dingin, ser-seran di hati sampai ke bawah.


Abid melihatnya. Melihat rona merah dan senyum yang membuat Abid lega. Punya istri yang suka ngasal dan suka gombal recehan kek Dinka mesti kreatif bikin jokes. Astaga... Cak Tolong, Lontong!


"Ish, Mas nggak sabar deh! Coba, yuk!" Nggak papa agak konyol asal senyum Dinka kembali. Toh seharian dia sudah jadi pria dingin yang ditakuti.


Abid menarik tangan Dinka agar berdiri perlahan. Ia melongok ke arah Sus Heni lenyap tadi.


"Bentar aku cari Sus Heni biar dia urus anak-anak!" Abid melesat ke arah kamar dimana Sus Heni sedang mengambil minyak telon.


"Sus Heni—"


"Ya, Pak?!" Sus Heni agak kaget melihat majikannya berlari mencarinya. "Dedek kenapa?"

__ADS_1


"Nggak ada, Sus! Saya cuma mau Sus bantu ngawasin anak-anak di villa sebelah! Takutnya Jen repot urus anak-anak. Arion biar sama Maminya aja!"


"Tapi Pak—"


"Nggak papa! Ini Bu Dinka yang nyuruh!"


Sus Heni agak kaget. Tadi bukannya ngeluh capek ya, dan ingin dia gantikan gendong Arion? Kok sekarang?


"Udah Sus! Buruan ke sebelah! Kalau udah tidur, tidur di sana nggak apa-apa!" Astaga, apa yang di pikir Sus Heni sih?Abid kesal dibuatnya.


Sus Heni ragu menyerahkan minyak telon ke Abid, lalu melipir ke jalan keluar di pintu samping.


Abid menghela napas lega, lalu melesat lagi ke ruang tengah untuk membawa Dinka ke kamar. Arion harus tidur apapun yang terjadi.


"Ayok Yang!" Abid agak tidak sabar melihat Dinka yang ragu akan ide dadakannya.


"Mas—tapi?!"


"Nggak apa-apa, Sus Heni udah keluar!" Abid menarik pelan tangan Dinka dan membantunya menaiki tangga.


Namun, Abid memang agak kurang sabaran, sehingga dia mulai meraup bibir istri nya sejak masih di luar pintu kamar. Bahkan ia tak peduli Arion. Dasar Abid!


"Mamiii!"


Astagfirullah. Mata Dinka terbuka lebar saat mendengar teriakan keras dari Honey. Dan Arion langsung histeris.


Astaga.


"Mas—"


"Din, ini gimana?" Abid menunjuk ke sela kakinya yang sudah mencuat. Dinka menatapnya miris.


"Tahan bentar Mas!"

__ADS_1


Ya Tuhan! Abid mengusap muka kesal. Ia sampai mendengus keras dan membuka pintu kasar.


__ADS_2