
Olla mencampakkan buku yang dipegangnya begitu keras, sampai Nahwa, rekan kerja sekaligus sahabatnya itu menoleh. Sejak semalam perasaannya tak lepas dari Abid.
"What's wrong?" Kening wanita muda itu mengernyit. Dia baru saja tiba di apartemen Olla dengan membawa jus kale, permintaan Olla. Yang sayangnya sekarang diabaikan oleh wanita itu.
Ck, nggak sesuai dengan pas minta tadi! Ngotot kaya wanita ngidam saja!
"Jusnya nggak enak?" seloroh Nahwa, yang tau pasti kalau jus buatannya paling enak sedunia.
Olla membuang muka ke sebidang kaca, yang menembus ke langit dimana langit terlihat mendung.
"Abid?!"
Olla menghembuskan napas perlahan dan berat. Pandangannya menunduk sedikit.
"Harusnya lo seneng sekarang, Say ... paling enggak, lo tuh nggak harus nahan beban seumur hidup. Jahat sesekali nggak apa-apa lah! Toh itu buat kebaikan lo sendiri."
Nahwa bisa menyarankan apa memangnya? Dulu dia paling depan meminta Olla memikirkan keputusannya. Oke, Abid sakit, tapi dia masih keren, dibawa kondangan juga banyak yang terpesona dan takjub. Tapi Olla bilang, menikah tanpa se ks itu kaya orang temenan. Ya sudah, Nahwa berbalik arah mendukung, nggak apa-apa dikatakan nggak punya perasaan, selama Olla bahagia.
Olla berdecak muak. Nahwa tidak tahu saja kalau dia masih begitu mencintai Abid, hanya cover luarnya yang arogan menyangkal. Hanya wanita bodoh yang melepas Abid begitu saja.
"Lo tau, dia gak cancel rencana honeymoon kami!" Olla menekankan betapa penting acara itu buat mereka, yang sayangnya diteruskan oleh penggantinya. Ingat sekali Olla pada apa yang mereka rencanakan saat mengunjungi tempat ini, tempat itu, pantai ini, dan penginapan itu. Dia yang menyusunnya. Dan Abid tidak membatalkannya.
Apa maksudnya? Ingin menunjukkan padanya kalau siapapun mempelainya, layak mendapat honeymoon terindah yang dirancang seorqng dokter terkemuka.
Dia tersinggung.
"Lo sama dia udah selesai, Olla ... terserah dia mau cancel apa enggak, toh lo nggak keluar uang sama sekali." Nahwa mencicipi jus kesukaan Olla itu, lalu mencebik sebab rasanya sangat tidak enak. Gelas itu diletakkan kembali di meja—lebih dekat dengan tangan Olla. Nahwa ini mungkin ditakdirkan menjadi penjual saja, bukan penikmat.
Tubuh Olla di jatuhkan ke sofa dengan malas. "Gue kasihan sama istrinya Abid aja, sih!" Olla mengelak. Nggak mungkin dia tersinggung idenya dipakai orang lain! Mungkin dia PMS, atau kelelahan saja. Biasanya dia sensitif jika dua hal itu menyerangnya.
__ADS_1
"Kaya lo kenal aja!" Nahwa cuek menanggapi. "Nggak usah kasihan, cewek itu pasti motifnya uang ...."
Olla menatap Nahwa yang merebah di lengan sofa yang lain sehingga kakinya tumpang tindih dengan kaki Olla. "Gue kan udah bilang ketemu dia dua kali! Gue kasih tau dia kalau Abid impo, tapi katanya nggak masalah! Apa gue yang bermasalah, ya? Harusnya gue juga kaya dia, kan?"
"Tapi lo terlambat sih, kalau nyesel sekarang." Nahwa menyimpulkan. Biasa orang putus di fase awal adalah introspeksi diri, evaluasi, lalu mempertanyakan keputusannya : apa sudah benar atau salah. Olla pasti juga begitu. Bedanya, nggak mungkin Olla merusak rumah tangga Abid, kan ... kalau keputusannya salah?
Nahwa duduk tegak saat memikirkan kalimat terakhir itu. "Lo nggak bisa ngelakuin apa-apa, La ... kecuali urat malu lo udah putus, sampai lo mau ngejatuhin harga diri lo di hadapan Abid."
Nahwa ingat bagaimana Olla dengan sadis mencampakkan Abid tanpa menjelaskan masalah yang sebenarnya. Mungkin Abid sedang dalam tahap pengobatan, dan bukan hal yang mustahil kalau sesuatu yang seperti diderita Abid bisa sembuh total. Nah, mungkin Olla tau kalau Abid bisa sembuh ... ugh, bayangkan perawakan kekar Abid, Olla pasti milih gali kubur andai Abid beneran sembuh. Ba tangnya pasti kekar dan panjang.
Dasar Nahwa!
"Feeling gue nggak enak seharian ini, Wa! Gue tau ini pasti ada hubungannya dengan Abid." Olla mengabaikan harga diri atau apapun itu. Yang penting dia tahu kabar Abid. Segera Olla meraih ponsel dan menekan kontak Abid.
"Lo jangan gila!" Nahwa menarik ponsel yang sudah terhubung itu dan mematikannya susah payah, sebab layar ponsel itu membandel. Dan Olla berusaha merebutnya.
Nahwa sama sekali tidak tahu kemana jalan pikiran Olla tertuju. Selain sudah mulai hilang kewarasan, Nahwa pikir Olla kurang makan. Sudah kurus kering begitu masih saja diet. Hidup cuma sekali aja kok pada repot jaga berat badan!
"Itu karena lo terus mikirin dia! Kerja sana, cari kesibukan!" Nahwa membentak. "Lagian, lo yang mutusin kok elo yang repot! Otak lo cerdas, tapi hati lo bego! Ingat gak sih lo gimana lo pas maki-maki Abid? Lupa lo sama hinaan Mama lo ke Abid?"
Olla menjatuhkan diri. Lemas. "Gue ingin perbaiki semuanya."
"Telat!"
"Benar kata Nahwa, Olla!"
Dua wanita itu menoleh dan kaget melihat Mama Olla sudah berdiri tak jauh dari mereka.
"Ma—"
__ADS_1
"Tan ... kapan sampai?!" Nahwa berdiri memberi hormat pada Mama Melia.
Melia tersenyum sekilas sebelum wajahnya berubah bengis kembali saat menatap Olla. Wanita itu melangkah seraya berkata.
"Kamu itu anak orang terpandang, memangnya kamu mau martabat kamu direndahkan? Abid hanya dokter biasa saja, buat apa kejar dia lagi? Kamu bisa dapatkan lelaki lain yang lebih baik segala-galanya dari Abid itu! Kita butuh pewaris Olla, atau kalau tidak ... usaha Papa kamu siapa yang mewarisi?"
Olla membuang muka. Hidupnya kenapa begini? Dulu, Abid dinilai berkualitas melihat presentasi Abid di sebuah acara, mereka mendukung penuh, bahkan tidak sabar untuk menikah. Tapi kini mereka berbalik arah.
"Wanita boleh menolak dan memilih, masa depan kamu lebih penting dari cinta buta kamu itu, Olla!" Melia heran sebenarnya. Kenapa Olla hatinya mudah goyah sejak kenal Abid? Dulu Olla adalah wanita yang kukuh pendirian dan visinya luas. Sekarang apa?
"Besok, malam minggu, Papa atur pertemuan kamu sama seseorang. Yang pasti Mama sudsh setuju dengan usulan Papa." Melia beranjak. Dia kemari hanya untuk itu. Sudah hampir lima hari anak perempuan satu-satunya itu tidak masuk kerja dan tidak pulang, jadi Melia datang.
"Ma ...."
"Papa nggak mau kamu begini terus, Olla! Abid saja nikah di tanggal yang kamu pilih, dengan senyum bahagianya, meski wanita yang dipilih berasal dari pinggir jalan!" Melia melirik Olla yang langsung lesu. "Jelas kamu itu nggak salah ambil keputusan pas ninggalin Abid. Ketahuan kan, kualitas pria itu seperti apa? Untuk apa kamu tangisi lagi, ha? Kaya kamu ini nggak punya sesuatu yang dibanggakan saja! Udah, lupakan Abid, temui lelaki pilihan Papa kamu itu!"
Nahwa menahan napas, walau yang ngomong adalah Mama Melia. Sadis bener sih, madam satu ini!
"Denger nggak kamu?!"
"Iya, Ma ...!"
Melia langsung tersenyum puas, bahkan sampai keluar dari pintu unit yang ditempati Olla.
"Pokoknya Jeng Resti harus tau kalau mantuku jauh lebih baik segala-galanya dari anaknya itu!" Mama Melia bertekat dalam hati.
*
*
__ADS_1
*
Olla dulu, tar ke Abid lagi, ya🤣 dia berhasil belum ya, ronde ke dua🤣🤣🤣