
Untuk Abid, dia rela menunggu, berkorban waktunya yang berharga di sini, jadi santapan mata yang menatapnya aneh. Olla tidak peduli. Sungguh.
Hari hampir gelap dan wanita cantik bertubuh semampai—kerempeng lebih tepatnya, itu berdiri di depan mobil kesayangannya. Sudah sempat pergi, tetapi kembali lagi. Bahkan dia sempat makan di dekat-dekat sini, lalu balik lagi. Masuk dan keluar mobil, sesekali mengutuk: apa yang dilakukan Abid di dalam sana sampai dua jam lebih tak kunjung keluar?
"Apa dia dapat kesulitan? Nanggung sendirian, demi melindungi aku?" Jemari lentik nan cantik itu mengetuk kap mobil yang di dudukinya. Kakinya yang panjang lurus sebelah lagi ditekuk, matanya tajam menatap mobil milik Abid yang terparkir di bagian paling ujung, paling jauh dari jalan keluar.
Napasnya tiba-tiba terbuang keras dan besar. Bibirnya tersenyum menghibur diri, sebab dia tidak jelas akan bagaimana sikap Abid terhadapnya di depan orang lain.
"Pria biasa begitu." Dia berjalan masuk ke area kantor rumah sakit yang letaknya terpisah dari rumah sakit, meski masih dempetan.
Koko melihatnya. Melihat itu semua. Tapi dia tidak punya niat mendekat atau menyapa. Bagusnya Koko, dia mirip program yang disetel. Perintahnya apa, itu yang dilakukannya. Dia disini untuk Dinka, jadi Olla bukan siapa-siapa yang wajib dia pedulikan. Push rank malah lebih menarik dari Olla.
Sementara Dinka berpisah dengan Ranu setelah berjanji akan menginap kapan-kapan. Dalihnya adalah, dia tinggal dengan mertua dan sungkan kalau masih menginap seperti masih lajang dulu.
Beruntung dia memikirkan itu di detik akhir desakan Ranu tak bisa dielakkan lagi.
"Sendirian?"
Dinka mengangkat wajah dan langsung berjumpa dengan wajah tirus Olla yang penuh senyum.
"Konsultasi ke psikiater, ya? Mas Abid nggak tau?" Olla mendekat. "Kabar baik, kan?"
Dinka terpaku saking syok dan bingung akan pertanyaan Olla. Untuk apa konsul ke psikiater? Dia masih waras, kok. Yang sakit adalah bagian bawahnya, jadi harusnya sekalian ke dokter kandungan tadi, kan? Astaga, dia melupakan pil anti kehamilan juga.
"Gimana honeymoon-nya? Lancar?" sambung Olla. Dia tahu kalau sudah menang sejak melihat ekspresi Dinka yang melongo menatapnya.
Olla tidak tahu, kalau Dinka lemot. Dia sedang mencerna dengan baik ucapan Olla agar bisa ditelan oleh otaknya dengan benar.
"Lancar, Alhamdulillah." Dinka tersenyum. "Mbak apa kabar? Masih kuat, kan, hadapi kenyataan kalau Mas Abid ternyata tidak impo ten?"
Senyum Olla lenyap secepat kedipan mata. "Aku tau itu!" sahutnya ketus.
"Bagus, kalau gitu ... aku tadi habis ke Obygin. Mas Abid langsung minta promil." Dia tahu alurnya sekarang.
"Ck ...." Olla membuang muka sengit. "Nggak usah kepedean. Aku pergi bukan karena itu—"
"Lalu apa? Trauma Mas Abid? Mas Abid nggak bisa nyetir? Tapi terakhir ketemu, Mbak bilang ke aku kalau aku harus berhenti karena impo, kan?" Dinka selalu begitu setelah otaknya konek. Pikirnya, Olla tadi sungguh mengabarkan dirinya, tak taunya menyindir. Astaga.
__ADS_1
Begitu rupanya mulut manis bekerja? Dia harus hati-hati mulai sekarang.
Olla mendengus. Ingat saja bocah ini kejadian tempo lalu! Promil apaan yang dia jalani? Apa mungkin Abid sudah lupa padanya dan dengan mudah melakukan se ks dengan Dinka? Cih, itu nggak mungkin....
Olla sudah setahun jalan dengan Abid, tapi boro-boro bobo bareng, ciuman saja tidak pernah. Tidak mungkin Abid semudah itu melupakan dia, kan?
"Mbak yang harus ke psikiater, kayaknya! Aku sehat dan waras ... hanya jalan aja yang susah. Tapi kata dokter, wajar kalau sakit. Ini pertama untuk saya dan Mas Abid terlalu ngebet!" Dinka ingin muntah mengatakannya. Astaga ... Dia sudah mirip Jen dan Naja. Jijik sekali pakai kata-kata itu untuk menjatuhkan lawan.
Tapi dia menegakkan kepala. Dia harus tabah di hadapan lawan, eh, mantan.
"Jaga mulut kamu, ya!" Olla menggeram. Matanya melebar saking marah dan kesal. "Kamu bisa miliki dia sekarang karena aku yang mundur dari penikahan itu. Aku sedekahkan Abid untuk kamu, aku yang murah hati ke kamu, Dinka! Harusnya kamu berterima kasih ke aku! Jadi jangan bangga karena pria bisa bercinta tanpa adanya cinta. Dan aku sarankan untuk berjaga-jaga agar jangan sampai hamil!"
Dinka kaget.
Olla mendekat ke sisi wajah Dinka dengan kemarahan yang masih coba dikuasai. "Dia bisa kembali padaku, jika aku sedikit saja bergerak!"
Olla menarik diri, lalu tersenyum melihat wajah Dinka yang pias. Tangannya menepuk pundak Dinka. "Jaga diri baik-baik, ya ... See you!"
Olla melewati Dinka begitu saja. Melanjutkan niatnya mencari Abid.
Lama sekali Dinka memikirkan itu semua.
***
Mata Koko multitasking sekali jadi dia menyadari keberadaan Dinka di ujung sana setelah hampir tiga jam di dalam sana.
"Jauh lebih lama dari Mas Abid ... apa Mbak Dinka ditatar sampai habis oleh petinggi rumah sakit?" Entah dari mana pikiran peduli itu datang. Yang jelas dia kasihan pada Dinka yang berjalan buru-buru dan wajahnya ditekuk. Pasti melelahkan di sana.
"Mbak Dinka mau minum?" Koko peduli. Dia peduli juga pada Olla dulu. Tapi tidak sampai menawarkan minuman, sebab Olla hanya minum air murni dari gunung suci. Astaga, Koko tidak seikhlas kelihatannya saat mengantar atau menjemput Olla dulu. Kebanyakan mendoakan Olla putus dari Abid—jujurly.
"Kamu punya emang?"
Jawaban itu hangat walau di luar ekspektasi, berkebalikan dengan ekspresinya yang masih kesal dan penuh kekalahan.
"Punya kalau Mbak Din mau saya antar beli di Alpha." Koko terkekeh.
Dinka ragu sejenak. "Pulang saja, Mas."
__ADS_1
"Ok, Boss!" Koko langsung memberi Dinka hormat tentara, lengkap dengan sikap siaganya. Lalu Dinka menyerobot langkahnya dan duduk dengan tenang sebelum dia sempat melakukan tugasnya. Yah!
"Aku masih punya tangan yang berfungsi, Mas Koko. Silakan gunakan keahlian Mas Koko untuk melayani Bee atau Honey yang butuh bantuan saat masuk mobil. Sementara saya bisa sendiri."
Tadi Koko memaksa, dan kini Dinka menjelaskan keberatannya. Plis lah, dia bukan ratu. Berlebihan sekali kalau masuk dan keluar harus dibukakan dulu. Membuang waktu saja.
Koko merapatkan kaki yang sudah rapat, "Syaap, Mulia ...."
Dinka tertawa. "Pacarnya Susi, ya?"
"Kok tau?" Koko segera masuk ke mobil dan duduk di posisinya.
"Habis sidang kemarin, kamu ikut ke syut." Dinka menjawabnya jenaka, mengimbangi Koko yang doyan bercanda. "Saya lihat kamu yang buka kan pintu untuk Mbak Susi Mulia, itu. Kaya tadi."
"Hahaha ...."
"Tapi saya ingin cepat pulang, Mas Koko ... bisa segera jalan, nggak? Atau saya saja yang nyetir?"
Koko kaget karena sindiran Dinka. "Jangan Mbak! Nanti Ibu saya makan apa kalau saya nggak nyupir lagi?"
"Makan nasi, lah ... emang makan apa? Sandwich?"
Koko tertawa lagi. Tapi dia bergegas menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit dimana Abid bekerja.
"Mbak Dinka ketemu Mbak Olla?" tanya Koko yang melihat Dinka murung.
"Hanya melihat saja," jawab Dinka malas.
"Mbak harus bilang sama Mas Abid soal ini." Koko menyarankan.
"Saya nggak mau jadi pengadu, Mas! Lagian hanya melihat, apa yang mau dilaporkan?" Dinka tersenyum sedikit terpaksa. Apakah harus?
*
*
*
__ADS_1