Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Setelah Begitu, Pasti Begini ....


__ADS_3

"Kok diem?" Abid menatap Dinka dari samping. Mereka berdua duduk di kursi penumpang mobil pribadi Abid ... menuju ke petshop Dinka.


Dinka kini sikapnya kembali dingin dan cuek. Memainkan ponsel, mengirim Voice Note dengan seseorang yang disebut Den, dan Abid kesal sebab dia kesal sendiri melihat itu. Terserah dia kan, mau VN sama siapa? Mau chatting sama siapa? Atau menemui siapa di tempat kerjanya itu. Kenapa mesti ada perasaan kesal menyusup lamat-lamat, lalu di detik terakhir kepergian Dinka tadi, mulutnya dengan lancang menyerobot keras-keras.


"Mas antar, ya!" Dan Dinka tampak tak bisa menolak.


Abid ingin menikmati liburan yang pertama kali dia enyam setelah beberapa tahun ini, sebenarnya, tapi ... entah dia kerasukan hantu detektif belanda atau memang punya insting kuat untuk menguntit istrinya, Abid meninggalkan semua itu. Demi melihat apa yang dilakukan Dinka di tempat kerjanya. Abid ingin tahu siapa bosnya, siapa saja rekan kerjanya, siapa saja pelanggannya. Ini penting, agar perasaannya tenang. Mendadak sekali semua itu datang ke dalam pikirannya.


Ah, pasti dugaannya tidaklah salah.


"Din ...," panggilnya lagi setelah dia selesai dengan debat di kepalanya sendiri.


Wanita itu membuang napas, lalu meletakkan ponsel—sedikit menyentak, ke dalam tas, lalu menoleh ke arah Abid. Tatapannya seolah menuduh Abid bodoh.


"Aku mesti ngomong apa, Mas?" Di depan ada sopir. Apa etis berbicara ini itu di depan sopir? Mereka akan ke apotek membeli pil menunda kehamilan, kalau Abid lupa. Ini baru beberapa jam, jangan bilang Abid lupa? Atau sengaja melupa? Lalu Dinka ingin memperjelas semuanya sejelas-jelasnya—semua problematikanya tanpa terkecuali.


Pikirnya, ucapan 'Mas antar, ya!' tadi dalam artian akan diantar Abid sendiri ke petshop, makanya dia setuju. Tidak tau kan kalau akhirnya begini? Dinka jelas tidak ingat Abid phobia setir kemudi, baik yang bulat, lurus, kotak, lonjong, atau yang berbentuk tombol sekalipun—mungkin.


"Biasanya kamu cerewet." Abid memutar badannya ke depan lagi—Dinka melengos kesal. Tak tahan pesona Dinka saat marah dan menatapnya begini ini. Yang kalian tidak tahu, setiap Abid mempercepat tempo hujam annya, Dinka berekspresi seperti ini. Dan anehnya, Abid suka, dia bisa makin kuat dan keras menghu jam Dinka. Sampai berakhir dia mengerang keenakan.


"Apotik di depan ... biar aku turun sendiri!" Dinka ketus berkata. Abid jelas menyembunyikan tawa. Dia tau itu tawa aneh yang kerap muncul saat dia marah begini. Kenapa sih, Abid ini aneh? Kemarin saja marah-marah, sekarang saja murah senyum dan tawa. Apa lagi ada diskon senyum dan obral tawa di tubuh Abid ... kok murah banget!


Ah, dia ingat ... setelah begitu pasti begini! Lelaki pasti senang hasratnya tersalurkan, terlampiaskan dengan nikmat, dan dalam 24 jam, sudah 6 kali itu terjadi. Ini sebenarnya fenomena apa? Apa pria semuanya begitu? Apa ini normal?


Refleks Abid menahan Dinka saat ingin bilang ke Koko dimana dia harus berhenti.


Dinka menggeram, lalu memutar badan agar menghadap Abid dengan sempurna, sesempurna kekesalannya. Yah, dia jadi begini sejak pil itu disetujui Abid. Ah, kenapa tidak seperti di novel yang dia baca, sih? Biasanya, wanita tokoh utama yang akan mengonsumsi pil itu akan dilarang, dimarahi dan berakhir dikasari, hingga hamil besar dan punya anak kembar jenius sejenius Einstein, tapi ini apa? Abid mendukung. Jelas, kisahnya tidak akan sesukses Pengantin Pengganti kebanyakan. Pasti menyedihkan.

__ADS_1


Lalu kenapa kamu keberatan? Harusnya kamu senang, kan? Tapi Dinka ketus menyangkal. Dia malah berkata yang menyebalkan.


"Harus gitu ke dokter kandungan? Hanya pil beberapa butir—"


Sayangnya disela tepat ditengah kalimat oleh Abid.


"Aku sudah kontak dokter kandungan kenalan aku, Din ... kita bisa mendapatkan yang lebih safety. Buat kamu, jika nanti suatu saat kamu berubah pikiran ... setidaknya keputusan ini, nggak akan menyulitkanmu." Abid sudah ribuan langkah di depan Dinka memikirkan. Dia bisa saja tidak peduli, tapi ini satu kebaikan dan rasa terima kasih pada wanita ini. Dinka sudah sangat baik bersandiwara dengannya sejauh ini.


Dinka mundur dan duduk dengan kemarahan yang longgar. Wajahnya tak lagi tegang. Dia bisa protes, tapi sentuhan Abid membuatnya luruh. Bukan, tapi pemikiran Abid lah yang membuatnya begini.


Apa ada keajaiban yang membuat dia mengubah pikiran?


"Ke petshop yang kemarin itu, Ko ... agak cepet, ya ... Dinka ada urusan penting." Abid memerintah seraya mengambil ponsel di saku celana khakinya.


Dinka tercengang melihat itu, bahkan sekilas dia melihat Koko itu heran dengan perintah Abid barusan. Kening Dinka mengerut, dia memikirkan apa ada yang salah dari ucapan Abid? Ada apa Abid ini sebenarnya? Kenapa orang-orang agak lebay pada pria ini?


Tapi jelas, Dinka enggan bertanya apalagi Abid sibuk lagi dengan ponselnya. Bahkan menyebut ada rapat dadakan di rumah sakit hari ini, sore ini. Dinka ingin mengusir pria raksasa yang membuat toko kecilnya ini makin sempit.


"Oh, jangan sampai dia memaksakan pendapat memperluas toko ini lebih dari ini! Tabunganku bisa habis." Dinka menggerutu di balik buku catatan yang diberikan Zoya barusan. Ada data input di komputer Dinka, tapi otaknya sedang kacau, jadi dia memilih mendengarkan pemaparan Zoya saja.


Dia melihat Abid lalu lalang seenaknya di dalam sini, sok-sokan menunjukkan dimana si ini, dan si itu ... lalu kemana harus pergi jika ingin merawat kucing, anj ing, kelinci, burung, bahkan berang-berang untuk perawatan, berobat, atau sekedar survey hotel pada gadis muda atau mama muda yang menjadi pelanggan tetap Dinka.


"Huuft!"


"Ya, Mbak?!" Zoya kaget. Apa dia kurang keras menjelaskan, atau membosankan? Tapi dia sudah bilang sejak jaman majapahit kalau lebih enak baca sendiri dari mendengarkan laporan begini. Namun, Zoya tak berani protes.


"Tolong suruh troll—maksudku suamiku, itu duduk dan buatkan kopi." Dinka mengusap kepalanya yang terbalut jilbab segi empat berwarna peach. Dia agak malu kelepasan bicara tadi. Sekesal apapun, Abid suaminya sekarang. Tidak tahu kapan mereka akan jadi orang lain lagi. Pokoknya sekarang dia ingin menjadi istri yang baik.

__ADS_1


Zoya menatap Abid yang kini sedang berbincang dengan gadis muda yang menenteng keranjang berisi peliharaan mereka masing-masing. Mereka jelas cekikikan dan tak bisa menyembunyikan ekspresi takjub pada Abid.


"Ehem ... baik, Mbak," angguk Zoya seraya menahan senyum di bibirnya. Dia tahu Dinka cemburu berat. "Mbak butuh sirup cocopandan dingin? Yang es batunya melimpah, biar bisa dikunyah kaya biasa?"


Dinka menatap Zoya, tajam dan mengerikan. "Saya nggak haus—"


"Baik, Mbak ... kopi panas saja buat suami Mbak Dinka!" Zoya berlari ngibrit, ke pantry di bagian belakang bangunan ini.


Abid takjub sungguh. Dia tak menyangka Dinka bisa bekerja di sini. Melayani orang yang sangat rewel melebihi pasiennya. Jika dia melayani sesama manusia yang bahasanya sama, bayangkan ini melayani gongonggan, suara mengeong, atau bahkan tidak ada suara sama sekali. Wajar Dinka menyebalkan di luar, ternyata di sini begini ini.


Lebih dari itu, Abid entah mengapa kagum pada pribadi Dinka yang sama sekali tidak gengsi ketika bekerja. Dia melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan kotoran kucing setiap hari, membersihkan kandang, atau ikut memegang kucing yang sakit tanpa takut kena cakar. Ini lebih menyulitkan dari pekerjaan dia, dimana pasiennya tidak bisa dibujuk dengan rayuan atau tipuan selain bius. Uh ....


"Ah, ya ... bawa masuk saja. Dokter belum datang, tunggu 15 menit lagi, ya!" Dia membantu sebisanya. Menjelaskan jam berapa dokter hewan di sini mulai buka praktek. Dinka pasti berterimakasih padanya karena ini.


"Maaf, Pak ... kopinya saya taruh di meja ruangan Mbak Dinka." Zoya menyapa dari arah belakang. Dia senyum-senyum sendiri.


Abid memutar badan dengan senyum mengembang. "Makasih, ya ... Dinka pasti senang punya rekan sebaik kamu, sehingga dia jadi kepercayaan di sini."


Zoya tertawa seraya menutup mulut. "Kepercayaan siapa, Pak? Istri Bapak bos di sini, jadi sayalah tangan kanan Mbak Dinka. Tapi saya baru kali ini diberi tugas menjaga penuh, makanya saya bolak balik telpon Mbak Dinka selama Mbak Dinka dan Bapak ... bulan madu ... hehe, maaf ya, Pak."


Mata Abid melebar. Serius kah itu?


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2