
Sampai seminggu selanjutnya, Dinka tidak memberitahu Abid soal itu. Dia bukan pengadu dan soal Olla—walau mengganggu, tapi tidak sampai membuat Dinka kepikiran. Dia masih bisa menanggungnya. Sejauh ini, Olla tidak melakukan apa-apa dan Abid tidak ada perubahan apapun kalau diperhatikan.
Menuntut cinta dari Abid menurutnya terlalu dini dan takutnya Abid terkejut. Poin itu tak ada dalam perjanjian awal. Itu pertimbangan kedua.
Dinka berangkat pagi sekali dan pulang agak malaman. Bermain dengan Honey sebentar—karena Bee selalu kabur setiap melihat Dinka pulang, kemudian tidur lebih awal. Abid bekerja tak tentu, tapi terkadang dia harus long shift sampai malam. Bahkan tidak pulang.
"Abid selalu sibuk begitu, Sayang ... jangan kecil hati. Masih bagus hanya dua kali nggak pulang, biasanya dia pulang hanya dua kali. Sejak dia Sp. A. Kerjaan ada saja. Dia ambil praktek dua tempat." Resti menjelaskan ketika suatu sore, Dinka murung. Kondisi itu jelas Resti tau apa penyebabnya.
Dinka menoleh, menarik hijab instannya ke belakang sebab sempat melorot saat dia asyik membaca buku. Di bawah ada Honey yang malas-malasan bersandar di kakinya, juga sedang membaca buku cerita anak bergambar.
"Jus nya masih banyak, Ma ... kok dibawain lagi?" Pandangan Dinka jatuh pada segelas jus orange pucat di tangan mertuanya.
Yah, Dinka dibawakan jus setiap saat oleh mertuanya itu. Keduanya sama-sama kesepian sebab Papa Anton juga sedang bertugas ke luar kota, jadi Resti menyibukkan diri.
"Siapa tau kamu haus, kan?" Resti duduk, lalu menyodorkan jus ke depan bibir Dinka yang begitu sungkan. Resti tersenyum.
"Harusnya aku yang bikinin Mama jus, siapin makanan, ini kebalik, Ma." Dinka menerima—alih-alih mencicipi. Lambungnya penuh jujur saja. Baru satu jam sudah dua gelas jus dari buah berbeda diberikan, bisa perang dunia buah di lambungnya nanti kalau campur-campur.
"Mama nganggur, kamu kerja ... baru pulang juga. Pasti capek ... mana tadi mandiin Honey juga. Lelah kan?" Resti selalu cari alasan yang logis. Dia tahu betapa mandiri anak-anak Desy ini, jadi pelayanan begini pasti membuat Dinka sungkan. Dia tau, tapi dia sudah janji pada diri sendiri untuk membalas Dinka dengan cara yang paling baik.
"Ibu rumah tangga itu kerjaannya banyak, Ma ... kok Mama bisa bilang nganggur." Dinka tahu, meja tidak bisa rapi sendiri, dan masakan tidak tiba-tiba memenuhi meja, kan? Ada-ada saja.
"Tolong lain kali, biarkan Dinka ikut ke dapur, Ma ... kaya Dinka ini siapa aja pakai dilayani begitu."
"Kamu layani Abid saja, Sayang ... buat dia bersyukur nikah sama kamu. Itu saja cukup buat Mama, Nak. Abid adalah segalanya bagi Mama, meski dia rada-rada ...." Resti menaikkan alisnya malas. Kadang-kadang memang Abid suka memancing kemarahannya.
Muka Dinka merah. Arah pembicaraan Resti mulai kemana-mana. Jadi Resti mengalihkan topik. "Kemarin dulu, Mama mampir ke florist. Mama kamu kayaknya kangen berat, Sayang. Apa kamu belum ketemu Mama?"
Dinka membeliak, tetapi buru-buru tersenyum. "Sudah, Ma ... hanya karena Mama sibuk, jadi kita nggak lama ketemunya. Mungkin karena tinggal terpisah jadi Mama belum terbiasa."
Ia mencoba melupakan fakta bahwa selain ada keperluan untuk mengomelinya, Mamanya tak pernah bicara dengannya. Dia sedang mengimajinasikan kalau hubungan mereka sangat hangat dan saling merindukan satu sama lain.
Kenyataannya, tolong jangan dibayangkan ... ribut sudah pasti jadi agenda utama mereka berdua.
"Kapan-kapan, ajak Abid nginap di sana. Pasti mama kamu merasa kamu tinggalkan. Resti harus adil, meski dia ingin memiliki Dinka sendirian. Dinka menurutnya sangat manis, tingkahnya lucu, meski terlihat agak urakan. Dia suka.
__ADS_1
"Honey ikut!" Gadis kecil itu memutar badan dan mendongak. "nggak usah bawa pengasuh, Honey udah gede, Mama."
"Ten—"
"Honey di rumah sama Oma."
Tatapan tegas Resti langsung menghujam mata Honey yang langsung mencebik kesal.
"Oma ...."
"Honey nggak boleh ganggu Papa di sana! Biar Papa ada waktu buat kenal sama keluarga Mama. Yang ada—kalau kamu ikut, malah ngurusin kamu!" ucap Resti tegas.
"Oma ...," rengek Honey dengan mata berkaca-kaca.
"Ma—"
"Ngga, Dinka ...!" Resti menukas seraya mengalihkan perhatian dari Honey ke Dinka. "Honey di rumah! Kalian harus lebih dekat, harus saling mengenal. Gunakan waktu kalian untuk lebih akrab!"
"Oma ... Mama," tangis Honey pecah. Dia menyuruk ke pelukan Dinka dan memeluknya. Sementara bibir Dinka kelu dan hanya bisa mengusap Honey untuk menenangkan.
Tatapannya tak henti mengintip Dinka dan Honey yang masih merengek ke Oma-nya.
"Awas kalau Tante Jelek itu berani rebut Uncle Papa dari kami! Aku akan bikin dia pergi dari sini!" Bee mengepalkan tangan. "Baru beberapa hari aja, Uncle Papa udah jarang main sama aku, aku harus hati-hati mulai sekarang!"
Menurut Bee, Uncle Papa selalu pergi tergesa-gesa tiap pulang kerja. Pulang pergi bareng, dan pernah Bee melihat Uncle Papa-nya memaksakan diri mengemudi sendiri sampai Uncle Papa pucat dan gemetaran. Bee tahu, Uncle Papa melakukan itu karena paksaan Tante Jelek. Padahal, Tante Olla dulu, tidak pernah maksa-maksa Uncle Papa sebegitunya. Mereka berdua selalu akur dan banyak senyum, serta tak pernah melupakan dia juga Honey.
"Ck ...!"
Decakan sebal juga hentakan langkah yang keras juga dilakukan oleh Olla ketika masuk ke kedai jus milik Nahwa. Wanita itu menggerutu, wajahnya terlihat sedang menumpuk kekesalan.
Batin Nahwa langsung menerka dengan mudah. Dia ketemu pasien menyebalkan di UGD.
"Urat nadi susah ditemukan lagi saat pasang infus?" Nahwa dengan enteng meletakkan pesanan salah satu pelanggannya ke meja panjang yang memisahkan ruangan ini jadi dia bagian.
Bukannya senang, tetapi Olla malah menjatuhkan tas di meja dengan keras dan menarik kursi tinggi dengan gerakan kasar.
__ADS_1
"Why, Darling?" Nahwa sedang mengumpulkan ingatan, apa masalah wanita itu akhir-akhir ini sampai dugaannya kali ini salah. Dan memang selama ini tak pernah benar.
Mata Olla menggantung malas menatap sahabatnya. Harus diberitahu berapa kali sih, ini anak? Masalahnya cuma satu di dunia, yaitu Abid. Dia sudah cerita, sudsh curhat, sudah mengungkapkan dengan gamblang dan detil. Sayangnya, Nahwa selalu lupa pada apa yang dia ceritakan.
"Apa gue kurang menarik, ya?"
Nahwa menggeleng. "Sakit mata pasti itu orang, Bebz ... you're so pretty. Gak ada kekurangan sama sekali, Darling!"
"Tapi Abid cuekin gue! Sakit tau gak?" Olla menjatuhkan tangan ke meja, jatuhnya seperti orang menggebrak meja.
"Kalian ada masalah lagi? Kok ribut terus sih, kalian ini!" Nahwa heran. Tapi dia segera sadar. "Omaigad, kalian kan udah putus!" Tangan Nahwa yang memakai sarung tangan menepuk kening keras-keras.
Ah, dia harus ganti sarung tangan lagi, karena yang di tangannya sudah nggak higienis.
Olla membuang napas kasar. "Gue panggil dia, ajak ngobrol, trus coba nimbrung saat makan siang, tapi dia nggak melirik aku sama sekali, Wa!"
Olla menatap Nahwa kesal, tangannya mempertegas betapa dia berusaha sangat keras seminggu ini. Tapi jangankan dilirik, nihil adalah nilai yang paling benar untuk semua usaha keras dan menjatuhkan harga dirinya sampai lebur di mata semua orang.
Abid hanya membalas sapaan seperlunya, bicara sesuai dengan detil pekerjaan, dan sikap Abid terprogram begitu luwes saat menghindarinya. Shyiit syekali kan?
"Kamu ubah strategi, Bebz ... aku tau kalian memiliki ego tinggi, tapi Abid bukan nggak peduli, hanya harga dirinya pernah kamu sakiti. Jadi wajar dia jaga jarak sama kamu, takutnya kamu melukainya lagi."
Olla menaikkan pandangan ke arah Nahwa yang sepertinya asal bicara. Wanita itu kan, lupa apa masalah orang, tapi ide itu boleh juga.
Ini kenapa Olla masih setia berteman dengan Nahwa walau sedikit menyusahkan. Kadang masukan nya masuk akal.
*
*
*
Hai semua ... thanks, ya udah bikin aku di posisi ini😘😘😘 thanks-thanks-thanks😘😘😘
Tanpa kalian aku nothing😭😭😭
__ADS_1