
"Yakin mau lanjut dengan pria seperti itu?" Ketika selesai melepas rindu, makan, selfie, dan makan coklat yang dibeli langsung dari pabrik aslinya, Ranu menyodorkan CV Abid ke Dinka. Bahkan, riwayat kesehatan Abid yang bersifat rahasia dibeberkan di hadapan Dinka.
Informasi pribadi ini tidak boleh tersebar keluar—sebenarnya, tapi Dinka adalah sahabatnya, tidak terhitung orang luar—pastinya.
Mata Dinka yang minus harus menyipit saat membaca data di layar laptop yang disodorkan Ranu barusan. Sejujurnya dia kaget, tapi gesture nya berusaha biasa saja. Dia istri Abid, jadi harus sok tau soal kondisi suaminya.
"Dia sedang terapi, kan?" Dinka hanya membaca keterangan terapi yang dijalani Abid setiap beberapa kali dalam sebulan, di kolom keterangan yang terlampir. Sebelumnya dia tidak tahu sama sekali. Dinka menegakkan punggung, menatap Ranu dengan keberanian yang dipaksakan. "Dia pasti sembuh."
Ranu berdecak. "Alasan utama kenapa Olla memutuskan pergi adalah ini, Dinka! Kamu hanya akan ketimpa beban dengan sakit yang dialami suamimu."
Dinka tidak boleh membuat sahabatnya ini khawatir kan? Jadi dia harus bilang semua baik-baik saja. Kenyataannya memang begitu, kan? Dinka saja yang lebay. Dia ingin Abid memperlakukannya sebagaimana seorang pria setelah mendapatkan apa yang dia mau. Itu saja.
"Aku udah janji nerima dia dengan keadaannya," ucapnya setelah dia tenang dan bisa berkata lancar.
"Termasuk keberadaan mantannya?" sindir Ranu. "Mereka akan bertemu setiap hari di depan hidung kamu atas nama pekerjaan! Sudah siap menahan cemburu?"
"Aku percaya sama Mas Abid, Ran ... tidak ada yang lebih kuat dari ikatan pernikahan." Dinka terkekeh garing seraya mengibaskan tangan. "Kami sedang membangun hubungan kami di dalam ikatan itu, kurasa mantan nggak ada kesempatan. Kami sibuk menyelami pribadi masing-masing."
"Din, mereka putus di detik akhir penikahan. Pasti ada yang belum selesai diantara mereka." Ranu mencoba memberitahu Dinka dari sudut pandang nya. Dinka harus tahu, ada yang lebih berbahaya dari pelakor, yaitu mantan yang masih sayang, dan menyesal mengakhiri hubungan.
"Kurasa, ikatan kami sudah menjelaskan semuanya, Ran. Mas Abid mau mengenal aku, dan aku juga. Kami butuh satu sama lain agar kami bisa saling melengkapi." Dinka tidak mau memikirkan kemungkinan kalau ucapan Ranu itu benar. Mereka masih setipis benang, masih rapuh. Tolong jangan tambah beban otak Dinka yang hanya secuil ini.
"Oke ... aku hanya mengingatkan, Din. Teman adalah opsi lain saat kamu salah arah. Aku hanya ingin kamu lihat dari kaca mata orang lain, selain kamu sendiri." Ranu menyerah. Dia lupa, nama lain Dinka adalah si kepala batu.
Dinka tau, Ranu hanya tidak mau membuat dirinya terbebani. Tapi, ini sudah menjadi bagian isi otaknya sekarang. Jadi gimana dong? Nggak bisa di hapus aja dari memori ya, ingatan ini? Dinka ogah memikirkan kemungkinan patah hati.
Baik, akan digenggam baik-baik hatinya ini.
"Aku tau kamu maksudnya baik. Tapi harusnya kamu datang sebelum pernikahan terjadi. Sekarang, sudah terlambat kalaupun kamu benar, kan?" Dinka terkekeh garing—lagi. "Kami sudah sepakat mencoba, dan Mas Abid pria yang baik."
Ranu menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Kadang baik aja nggak cukup, kamu lupa?"
"Hehehe ... iya, sih. Tapi Mas Abid memang paket komplit, hanya dingin kadang-kadang." Dinka mengingat mana yang dia sebut dingin. Andai bilang galak, pasti Ranu memikirkan yang tidak-tidak, kan?
__ADS_1
"Main ke rumah, ya ... aku kangen kamu bobo sama aku." Ranu mengubah topik. Pokoknya dia sudah memberi tahu, mengingatkan, keputusan ada ditangan Dinka sepenuhnya. Walau Ranu sangat khawatir. "Aku hanya lima hari di sini sebelum balik."
Dinka berdecak. Tapi sadar, kalau menginap bukan lagi hal yang mudah dia iyakan. Kenapa dia memikirkan Abid, ya? Lalu bagaimana menolak Ranu?
***
"Din's Petshop." Abid terkekeh membaca plakat nama sebesar baliho iklan terpampang di bagian depan petshop Dinka. Kalau malam pasti lampu di sana menyala dengan terangnya. Mata Abid ini kemana saja selama ini? Dia kerap lewat sini, sesekali mengantar Honey beli dryfood, tapi dia tidak memperhatikan. Menyesal kan?
Langkahnya ringan terayun masuk ke toko, lurus ke ruangan Dinka di bagian belakang sedikit mojok. Dia ingat kopi nya belum diminum. Walau kopi tidak disarankan bagi Abid yang harus tidur dengan baik dan nyenyak. Abid tidak boleh khawatir atau merasa cemas berlebihan. Kafein dalam teh sekalipun wajib dihindari. Tapi demi menghargai Dinka, dia akan meminumnya. Kalau tidak bisa tidur, tinggal ajak wanita itu olahraga sampai lelah. Ini kan, salah Dinka.
Pintu terdorong, ruangan kosong. "Apa dia ngambek?" Abid cemas pertama kali. Jujur saja, dia tadi terburu-buru. Jelas yang memanggil adalah owner, dan dia tahu salahnya apa, jadi tak ada pilihan selain datang. Cukup menyebalkan ketika Owner yang dimaksud adalah bocah yang usianya jauh lebih muda dari dia. Suaranya sentimental sekali saat menanyakan poin-poin yang dia duga akan merugikan seseorang. Abid mendapat kesan begitu.
Tak ada pertanyaan yang menyerempet ke pekerjaan secara detail, hanya alasan kenapa bisa putus dan lain sebagainya. Lebih menggelitik, Miss Xaquilla bertanya kenapa harus mengganti mempelai.
Abid menjawab klise. Meski itu adalah benar. "Ada yang menawarkan diri menjadi pengganti dengan suka rela."
Dan jawaban itu dicibir habis-habisan oleh Miss Xaquilla.
"Anda mau saja, tanpa berpikir bagaimana dia akan menanggung beban di masa depan?" Ucapan Miss Xaquilla membekas jelas di kepala Abid. Tambahan "Anda kejam" sungguh membuat Abid mengevaluasi keputusannya.
Tak ada maksud memberi beban apapun pada Dinka. Keluarganya jelas meratukan Dinka, lalu beban apa yang akan Dinka hadapi dimasa depan?
Abid menarik napas bersama tubuhnya dari ruangan itu. Dia menuju karyawan pertama yang dilihatnya saat masuk tadi. "Mbak, istri saya kemana?"
Pertama, langkah yang diambilnya adalah mengklaim Dinka sebagai istrinya kepada siapa saja. Dia mengubah sebutan nama menjadi istri.
"Kami mau ke Obygin."
Yang ditanyai tersenyum lebih dulu. "Mbak Dinka keluar sama seseorang, Pak."
Itu bukan Zoya. Ada karyawan lain, yang bekerja di shift selanjutnya. Kebetulan, dia tiba bertepatan dengan Dinka keluar buru-buru dan berdebat dengan pria asing yang memperlakukan Dinka dengan hormat.
"Cewek?"
__ADS_1
Senyumnya luntur. Mestinya dia cukup bilang keluar, kan? "Laki-laki, Pak," jawabnya terpaksa. Setelah ini, dia akan menghukum mulut ini dengan kejam. Misal tidak memberinya makan.
Abid menarik napas, lalu mengeluarkan ponsel. Dia sedang menenangkan pikiran. Pasti Dinka pergi dengan Koko.
Nomor Dinka tidak aktif. Nomor Koko sibuk sebab sedang dipanggilan lain.
"Sudah lama, kah?" Abid kembali bertanya pada wanita yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Sudah Pak, hampir dua jam." Dia melirik jam dan mencocokkan dengan ingatannya.
"Mobilnya apa—"
Dering ponsel memutus pertanyaan Abid yang krusial. Abid mengangkatnya, dia tahu itu Koko.
"Dimana?"
"Rumah sakit, Pak ... sama Mbak Dinka."
Sudah, cukup itu saja membuat Abid meremas pil yang harusnya dikonsumsi Dinka saat ini juga. "Aku nunggu di rumah saja!"
Dia sudah mengambilkan pil itu dengan baik hati. Dinka malah pergi sendiri. Abid menatap lekat bungkusan itu. Lalu otaknya menjadi jahat.
Tidak peduli nanti bagaimana. Dia sudah cukup baik dengan memberi Dinka kebebasan memutuskan. Dia tidak mau lebih dari ini bersikap baik.
Lagian, menikah sudah pasti wajar kalau hamil. Dan, dia bertekat akan mewujudkan kehamilan dalam waktu dekat.
Abid berjalan keluar dari petshop Dinka yang entah mengapa tetap membuatnya kagum. Management nya bagus, tertata, rapi, dan profesional. Dinka cukup stabil di sini, hanya otaknya yang kadang suka geser ke kanan dan kiri.
Ditengah kemarahan itu, Abid tetap mengantongi morning after pill tersebut. Walau, dia tahu pil itu tidak berguna sama sekali. Yang pertama kali lepas sudah lewat beberapa puluh jam, dan Dinka belum mengonsumsi satupun. Siapa yang tahu ada satu dari sel berjumlah milyaran itu berhasil berenang sampai ke sel telur, kan?
Dinka terlambat. Sangat-sangat terlambat.
*
__ADS_1
*
*