Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Akhirnya ....


__ADS_3

"Haish!" Abid kesal bukan main. Malam sudah hampir pagi. Dan dia masih terjaga. Sial sekali.


Sejak dia memindahkan Dinka ke ranjang, lalu membiarkan istrinya itu kelonan dengan Arion, Abid sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Awalnya, dia menunggu barang satu atau dua jam, agar Dinka istirahat dulu, tetapi sampai jam tiga pagi, dua manusia itu bergerak pun tidak.


"Astaga!" Abid kembali mengusap wajahnya, yang sama sekali tidak merasakan ngantuk. Ia sibuk menatap Dinka dan Arion yang tidur dengan mulut terbuka, mendengkur, dan nyenyak. Anehnya, Arion sama sekali tidak bangun untuk menyusu meski dia bangunkan berkali-kali.


"Tega sekali sih!" gumamnya menggerutu. "Lagian, kenapa mata ini sama sekali nggak ngantuk!"


Abid menunduk. "Jangan bilang, ini karena kamu ya!" Sesuatu diantara dua kakinya, tampaknya menjadi biang keladi. Harusnya, setelah lemas, mata ini juga ngantuk, kan? Apa terlalu berharap membuat asa masih ada? Belum lega kalau belum olahraga malam—mungkin. Bisa jadi sih.


Sungguh, dia tidak habis pikir.


"Apa dibangunin aja, ya? Kan udah lama juga tidurnya, ngantuk sama capeknya pasti sudah ilang!" Abid melongok sedikit, "ikut tidur di sini kali, ya ...!"


Tanpa pikir dua kali, Abid bergegas menyingkap selimut, namun gerakannya perlahan terhenti. Menjatuhkan selimut perlahan seraya bergumam.


"Kok aku kaya maniak gini, sih?" Abid menjauh lagi. "Kan bisa lain waktu, nggak akan ada kata terlambat buat begituan, kan?"


Ia melangkah ke sofa, duduk dan menyilangkan kakinya. Bersedekap menatap garis lengkung pinggang Dinka yang membentuk kurva indah. Menggoda.


"Tapi emang bener aku nggak bisa tidur gara-gara itu kan?" Abid bangkit lagi. Melangkah cepat ke sisi ranjang lagi. "Dia harus tanggung jawab, kan? Udah janji soalnya! Aku cuma mau meringankan dosa akibat janji yang Dinka ucapkan saja."


Ya, sepertinya tujuan harus berubah, agar apapun alasannya, Abid tidak merasa bersalah. Ini demi kebaikan Dinka juga.


Jadi Abid mengulurkan tangannya. "Din ...."

__ADS_1


Abid menepuk pelan lengan Dinka, "Bangun, Din! Buka mata kamu, Sayang! Udah mau subuh!"


Yang dibangunkan menggerakkan bola mata tanpa membukanya. Tetapi dia sadar sepenuhnya. "Jam berapa Mas?"


"Udah pagi—"


"Hah?!"


Dinka bangun dengan gerakan cepat, lalu berlari ke kamar mandi. Tak lupa bibirnya mengomel. "Mas kok nggak bangunin aku, sih? Jadi kesiangan kan? Aku niatnya mau langsung minta maaf ke Honey soal semalam."


Abid mengerjap bingung. Ia masih mematung, dengan bibir bergerak gugup. Iba, merasa bersalah, tapi lucu sekaligus.


Semenit penuh, ruangan ini sunyi. Namun, detik berikutnya, Dinka muncul dengan tatapan kesal dan tangan berada dipinggang.


"Ini masih jam tiga!" Dinka menunjuk jam di dinding yang tidak berdosa, lalu menatap Abid kembali. "Mas boong buat apa?!"


"Buat nangih janji semalam yang tertunda ...." Abid tidak punya niat basa basi, jadi dia langsung nyengir usai agak salah tingkah saat mencari jawaban.


"Sebegitunya ya, Mas?!" Dinka tidak habis pikir.


"Begitu gimana?! Aku belum tidur gara-gara ... itu." Abid membuang muka ke arah lain. Malu sebenarnya. Apalagi saat mendengar Dinka bilang "astaga" dengan nada kesal dan sepertinya Dinka tidak habis pikir dengan tingkah Abid.


"Ya mau gimana lagi?" Abid menengadah, menggigit bibir seperti anak kecil. "Namanya udah janji kan? Udah terlanjur berharap pula."


Dinka membuang napas kesal. Tanpa basa basi, dia mendekati Abid dan mendorong pria tinggi besar itu ke sofa. Sejenak ia melirik kasur, tampaknya Arion masih lelap.

__ADS_1


"Kita harus cepat dan jangan berisik!" Dinka membuka bajunya, lalu menatap Abid penuh peringatan.


"Yang berisik kan, kamu!" Abid kesal selalu dituduh berisik. Mulut siapa yang suka gaduh? Padahal cuma ditusuk doang! Dasar!


"Jangan pegang dada, Mas! Belum di pompa, Arion belum nyusu juga! Entar kemana-mana!" Abid bahkan baru mengerakkan kepala untuk mencium Dinka, tapi sudah kena peringatan lagi.


"Ck, udah tau!" Kesalnya makin bertambah, sehingga dia makin semangat menarik tengkuk Dinka dan menciumnya dengan brutal.


"Heemmp!" Ya ampun! Dinka syok menerima serangan ganas Abid. Bahkan mungkin suaminya ini terus mengunyah permen karet sepanjang malam sehingga sisa rasa mint terasa sekali dibibir.


Tapi, Dinka suka. Permen karet mint selalu memberi rasa berbeda saat berciuman.


Dengan Dinka terus berada di atasnya, Abid memompa istrinya hingga subuh tiba. Rasanya lega sekali meski tidak ada mawar yang susah payah ia cari, lingeri yang masih utuh di kotaknya, bahkan parfum khusus yang sengaja Dinka pesan, juga masih utuh di tempatnya. Ditambah harus menahan agar mereka tidak berisik, membuat suasana tegang tercipta. Abid tahu, Dinka kerap mencuri pandang ke arah Arion, memastikan anaknya tersebut tidak terganggu.


"Udah ya, Mas," pinta Dinka lemah. Dia berakhir menungging di sofa, lalu melorot ke lantai. Lemas tak bertenaga lagi.


Abid mengambil botol air minum dan menyerahkan ke Dinka. "Bersih-bersih dulu, jangan langsung tidur."


Mulutnya terasa kering, tetapi tangan Dinka bahkan tidak mampu membuka tutup botol ditangannya ini.


"Bukain Mas."


Abid terkekeh. Lalu ia melemparkan selimut ke tubuh istrinya agar tidak lagi tergoda menusuk Dinka kembali. Astaga, Abid sudah siap tempur lagi. Apa karena dia mengonsumsi sate kambing dan seafood sejak kemarin siang?


Minta sekali lagi boleh nggak sih? Baru juga mau... 3 kali!

__ADS_1


__ADS_2