
"Sekarang jelaskan, Bee!"
"Mas, biar aku jelasin! Jangan gitu ke Bee ... nanti dia takut loh!" Oke, Dinka memang kejam, tapi anak-anak jangan dibentak begitu. Duh, dia jadi merasa bersalah. Apalagi Bee terus memegang bajunya dari tadi. Erat banget, bahkan terasa gemetar.
Setakut itu Bee ke Papanya? Tapi kenapa dia sok sekali, selama ini? Dasar bocah!
"Sayang ... kamu tuh nggak usah bela Bee! Dia anakku, kamu nggak usah baik banget sama dia, setelah apa yang dia lakukan ke kamu!" Abid marah sekali pada Bee. Ya ampun, sumpah demi apapun, dia merasa gagal mendidik Bee dengan caranya yang lembut. Bee punya sisi yang liar dibalik sikap tenangnya. Pikir Abid, Bee itu tenang dan diam karena sudah jauh lebih besar selain karena karakternya yang menurut Abid introvert.
Mama Resti dan Papa Anton sampai keluar kamar masih dengan mukena dan sarung melekat di tubuh mereka.
"Kenapa lagi sih, Bid?!" Mama Resti bicara lebih dulu.
"Iya, kenapa sih? Papa baru aja mau shalat!"
Abid memutar badan menghadap Papa mamanya. "Papa Mama ingat, nggak ... Pas Dinka pipinya merah?"
Mereka berdua mengangguk.
"Itu karena digampar Olla abis ketabrak sama aku di jalan, Pa!"
Semua orang kaget. Tak terkecuali Bee. Ia sampai menatap Dinka yang malah cemas ketika semua orang mencemaskan dirinya.
"Beneran itu, Din?" tanya Mama Resti dan Papa Anton bersamaan. Ya salam ... bisa-bisanya wanita itu begitu?!
"Aku nggak apa-apa, kok, Pa—"
"Nggak papa gimana? Ayo ke dokter lagi! Kita periksakan kandungan kamu! Kamu abis ditabrak Abid loh, trus pipi kamu digampar! Kalau ada ketuban buat lindungi bayi, Kamu nggak ada yang lindungi, Din!" Mama Resti berpikir jauh, mulai kerusakan organ dalam, seperti mulut, hidung, telinga, dan mata. Dislokasi rahang bahkan tulang rahang bisa retak atau patah.
"Ma, yang ada tangan Olla yang kena masalah, pasti abis nampar aku, dia nggak bisa gerakin tangannya! Lihat nih tulang pipi aku keras begini!" Dinka menunjuk pipinya sendiri. "Lagian aku udah periksa kemarin, dan nggak apa-apa."
"Beneran itu?" Papa Anton tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Tapi salut pada cara Dinka menenangkan dirinya dan sang Mama.
__ADS_1
"Bener, Pa!" Dinka mengangguk yakin. Jadi kenapa malah dia yang dikhawatirkan?
"Bee, sekarang kamu jelasin ke kami semua, gimana kamu bisa bikin tante Olla nampar Mama Dinka?"
Ya ampun ... Bee langsung bersembunyi di balik tubuh Dinka. Yang dia tahu kan, semua kelihatan begitu. Jadi wajar kalau dia ngadu sesuai apa yang dia lihat.
Ya, soal Papa yang nekat nyetir meski masih sakit. Itu pasti permintaan Mama Dinka kan?
"Bee!" bentak Abid yang suaranya sudah menyamai petir.
Dinka menangkap tangan Bee, menariknya agar sejajar dengannya, lalu dia berjongkok menghadap Bee.
"Bee ... lihat mata Tante!" Bee menurutinya.
"Bee nggak mau kan, Papa makin marah?" Bee menggeleng.
"Sekarang Bee jujur sama Papa. Bee kan laki-laki, jadi apa yang Bee perbuat harus dipertanggungjawabkan, ngerti kan? Laki itu harus berani mengakui kalau salah, dan nggak takut terlihat buruk, karena nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini!"
"Ayo ambil tab kamu, dan kasih lihat ke Papa! Setelah itu minta maaf!" Dinka hanya menatap Bee tanpa menyentuhnya. Dia hanya membantu Bee mengambil langkah, dan masih membiarkan Bee yang mendekat padanya. Dengan begitu, Bee akan berpikir ulang jika suatu saat ingin menyakiti dirinya lagi. Kenyataan bahwa mendekati Dinka sangat susah, pasti dia berpikir ulang jika ingin berbuat salah.
Bee berjalan pelan pada awalnya, tetapi dia segera berlari cepat saat menaiki tangga dan kembali tak sampai lima menit dengan tab di tangannya.
"Ini, Pa." Bee menunjukkan chat nya dengan Olla waktu itu, juga waktu-waktu sesudah dan sebelum nya. Lengkap tanpa satupun di sembunyikan.
Kemudian dia kembali ke sisi Dinka, memegang baju Dinka lagi.
Dia ingin dikuatkan oleh Tante ini. Tante yang kelihatan jahat, tapi ternyata hatinya baik.
Abid menghela napas setelah membaca semua pesan di tab Bee, lalu mengulurkan ke arah Papanya agar mereka tahu apa yang Bee rahasiakan selama ini.
"Bee ... dengar!" Meski marah, Abid sudah menurunkan nada suaranya.
__ADS_1
Bee menunduk, dia takut. Honey dari tadi melihat kakaknya ketakutan, dia iba, tapi dia juga tidak mau membantu Bee. Sudah di ingatkan berkali-kali, ya ... Tapi Bee bandel.
"Kamu tahu Mama Dinka bisa semuanya tanpa Papa. Kamu ngerti nggak kenapa Papa melawan ketakutan Papa?"
Bee mendongak sekilas lalu menggeleng seraya menunduk lagi.
"Papa merasa jadi suami dan pria yang buruk karena nggak bisa jadi pelindung Mama Dinka. Papa jadi suami nggak berguna untuk Mama Dinka yang luar biasa, Bee!"
Bee mendengarkan dengan hati yang bergetar. Matanya memejam rapat. Sungguh dia baru tahu alasan di balik semua itu.
"Kamu tahu, Bee ... Tante Olla selalu marah ke Papa karena bawa Mas Koko buat anter kami kemana-mana. Dia selalu bilang ke Papa agar segera mengemudi sendiri agar bisa kemana-mana berdua saja! Tante Olla selalu meributkan ketidakbisaan Papa, tapi dia selalu berhasil terlihat baik-baik saja di depan kamu!"
Bee mendongak lagi. Beneran itu? Astaga ....
"Sementara mama Dinka selalu bilang, nggak apa-apa, kalau Papa nggak bisa nyetir, nanti yang nyetir Mama aja." Abid menghela napas. "Papa nggak harap kamu ngerti, tapi kamu harus tahu, yang menginginkan Mama Dinka itu Papa dan Oma, kalau Mama Dinka bebas saja mau nikah sama siapa saja, yang jauh lebih sempurna dari Papa. Tapi Mama Dinka tetap milih sama Papa, yang banyak kekurangannya ini."
Bee akhirnya tak sanggup menahan air matanya. Dia tahu, Papa angkatnya begini karena Papa kandungnya waktu itu berkendara sedikit ngebut demi mengejar pesawat. Sampai kecelakaan beruntun itu terjadi. Jadi kenapa dia begini membalas papa yang baik hati itu?
"Bee ... Papa pikir, kamu ngerti artinya nikah itu apa. Dan, meski kamu bujuk Tante Olla kembali, Papa nggak akan mau sama dia, Bee! Tante Olla yang pergi ninggalin Papa karena kekurangan Papa. Memangnya kamu mau Papa nggal bahagia?"
Bee mendongak, lalu menghambur ke pelukan Abid. Dia menangis tersedu-sedu di sana.
"Nggak mau, Pa!" teriak Bee terbata-bata.
Dinka hanya tersenyum melihat ini. Dasar lebah labil. Cengeng.
"Mi, pinjem hape, buat rekam Bee! Nanti kita kasih lihat ke dia kalau dia nakal!" Honey berbisik ke Dinka, yang langsung di setujui oleh Dinka.
Bagus nanti buat nge-ceng-in si Lebah nakal itu. Lebah cengeng. Hahahaha
"
__ADS_1