
Dinka tidak tahu ada lonjakan-lonjakan dalam hidupnya setelah dinyatakan hamil. Dia tidak bisa jauh dari Abid. Dia suka menempel di dada pria itu, bercinta, dan melepas sesuatu yang hanya bisa dia tuntaskan dengan bercinta.
Dia ingin begitu terus.
"Apa aku aneh, Mas?" Keduanya berpelukan erat dengan tubuh Dinka tenggelam di dekapan Abid.
"Nggak, lah! Hanya Mas perlu obat kuat." Abid terkekeh. Nyaris selama beberapa minggu mereka melakukan tanpa kenal sungkan. Dinka menjadi sangat posesif padanya.
"Mas percaya ada perasaan ingin berlebihan kaya gini terjadi pada wanita hamil?"
"Ya, dan Mas senang ... karena memang bercinta semenyenangkan itu. Seketagihan itu." Siapa sih yang mau melepaskan momen begini?
"Kalau longgar gimana?"
"Ya nggak apa-apa, biar sesekali Mas yang menang dan bikin kamu yang kelelahan." Abid menggigit bahu Dinka. Atau bagian lain yang rasanya kenyal dan bikin gigi gatel. Abid suka menggigit jari-jari, lengan, pipi, bahkan bibir Dinka.
Dinka mendengkus, "Aku mau dipeluk Mas setiap malam. Aku mau jatuh ke Mas tanpa ragu."
Dia menatap mata Abid yang mulai berkabut lagi. Dia bereaksi lagi saat organ vital Abid menggeliat tegang.
"Sini, jatuhnya ke sini." Abid meletakkan kening Dinka di lehernya, di bagian tulang leher yang naik turun menahan diri. "Jika Mas bikin kamu sakit, kamu tinggal gigit atau cekik. Jelas Mas akan mati, tanpa kamu merasa lelah."
Abid memperagakan aksi tersebut memakai tangan Dinka. Dinka tertawa dan membiarkan Abid sesak dan seolah sekarat.
"Aku percaya sama Mas Abid."
__ADS_1
Abid diam seketika. Matanya lurus menatap Dinka di bawahnya yang mendongak. Mata itu meyakinkan sekali.
Sejak terakhir kali Dinka mengatakan ragu, Abid nyaris kebingungan bagaimana membuktikan kalau dirinya pria baik. Jadi pendengar yang baik dan pengertian. Dia tidak susah karena memang begitulah Abid, hanya Dinka ini ajaib, menuntut sih tidak, tapi semua gerakan dan tingkahnya membuat Abid sungkan sendiri.
"Aku mau jatuh sejatuh-jatuhnya ke Mas Abid."
Dan Abid hanya membalasnya dengan sebuah ciuman, dan tentu saja percintaan luar biasa panas dan menggelora.
Ah, Dinka ... begini saja sudah bikin Mas bahagia.
***
Pikirnya hamil itu menyusahkan. Tapi tidak.
Buktinya dia sehat bahkan sampai Jen kesal bukan main.
Dinka sedang duduk di ruang tengah. Dia menginap bersama Honey di rumah Mama Desy. Dan jika begitu, Jen memboyong keluarga dan perutnya yang sekali lagi mlendung itu ke rumahnya.
"Bukunya ada di tas, sekalian sama foto usg-nya." Dinka tidak menoleh, bahkan perhatiannya tak putus dari melihat kalimat di buku yang dia baca. Romance novel.
"Nggak adil banget ya, elu hamil enak bener. Gue harus muntah-muntah parah." Jen duduk di depan Dinka lalu menarik buku ditangan Dinka tersebut sedikit kencang.
"Kan aku juga nggak minta, Jen!" Dinka membuang napas. Memangnya dia harus bagaimana? Lalu dia mengalihkan tangan ke ponsel. Buku ditangan Jen sudah pasti tidak bisa diminta secepatnya.
"Lihat sisi baiknya aja! Kalau aku ikutan teler, anak kamu itu gimana?" Dinka awalnya memandang Jen yang membolak-balik lembaran buku, bibirnya berkomat-kamit, dan mencebik, tapi kemudian membuka layar ponsel.
__ADS_1
"Nggak ada yang bakal kamu repotin ngurus anak kamu, selain aku, kan?"
Jen berdecih sebal. Dia melirik Dinka dengan cibiran kesal memenuhi bibir. Ya ampun, dia 3 kali hamil dan 3 kali juga teler, padahal bisa aja salah satunya nggak teler kan? menikmati kehamilan dengan tenang tanpa harus memuntahkan makanan yang masuk.
"Dan lagi, sejak kapan bibir lo bisa berkata santun kalem begitu? Lo udah serius mau tobat dan jadi istri salihah?" Dinka dimatanya berubah drastis. Dia jadi sebal, dan hanya dia sendiri yang urakan di rumah ini—dan rumahnya sendiri tentunya.
"Kenapa?" Dinka tetap fokus pada ponselnya. Sebuah nomor mengirim pesan padanya. "Nggak ada lagi yang bisa kamu ajak berantem?"
Jen sebal. Dinka pasti bisa dengan mudah menebak apa yang menjadi kekesalannya. Iya lah, apa lagi memangnya. Kalau Dinka kalem, dia juga harus menyetel ulang sikapnya. Dia juga harus kalem menyamai Dinka. Ah, sangat tidak nyaman kalau harus sopan sama adik iparnya ini. Jen suka begini berinteraksi dengan Dinka. Dia bosan jaim.
"Jangan sampai drastis lah, minimal kalau nonton Jeje, aku ada temen buat teriak-teriak dan ribut sama fans Jeje yang norak itu!" Jen memang aneh. Dinka geleng-geleng kepala dibuatnya. Jen kalau nonton Jeje selalu bilang kalau dia adalah fans garis keras pesepak bola yang sedang bersinar setelah selama ini karirnya meredup bahkan pamornya jatuh.
"Udah tua, Jen ... berhenti bikin tensi naik dengan urus Fan base Jeje! Udah ada anak buah Mbak Vaya yang urus kan?" Dinka mengingatkan seraya berdiri.
"Nggak bisa! Gue harus jaga Jeje, kasihan kalau dia sampai terpuruk lagi." Dan komentar buruk yang menyerang Jeje harus berhenti di tangannya. Jeje tidak boleh tahu. Dia sudah berusaha lima tahun lebih untuk mengembalikan Jeje sampai seperti ini. Dia harus membuat Jeje sama sejahteranya dengan dirinya.
"Ya udah, saran aku hati-hati aja! Nggak usah lebay, Jeje udah ada Claire dan Star. Aku yakin, Jeje lebih fokus mengurus Star daripada hate komen di medsos!" Dinka meraih tas yang tadi dia pakai untuk ke dokter. Sudah 10 minggu sekarang, dan bibit Abid sudah membentuk tunas-tunas kecil yang menggemaskan.
"Kemana?"
"Ketemu temen Mas Abid." Dinka melihat sekali lagi ke ponselnya, memastikan dimana mereka bertemu sekali lagi. Pesan itu dikirim sebuah nomor yang profile nya mudah sekali dia kenali. Dinka tidak takut apa-apa, jadi dia hanya mengabari Abid kemana dia pergi sore ini.
Itu juga antisipasi.
"Kita bicara empat mata, Dinka! Tempat pertama kita bertemu dulu!"
__ADS_1
****
Bab selanjutnya, aku izin promo novel sahabat aku, ya🙏 aku up sorean besok🙏