
"Kok malah Tante Olla sih, Bee?" Honey protes keras, sampai gadis berusia 7 tahun itu berdiri di hadapan Bee lalu melotot galak. Tangannya berkacak pinggang, mukanya bersemu merah, tapi terlihat lucu dan menggemaskan.
Bee berdecak membalas sekilas tatapan adiknya. "Kamu pikir, Tante itu mau apa panas-panas gini jemput kita kalau aku nelpon dia?"
Ia melengos dengan perasaan gondok luar biasa. Ucapan Olla tadi memang membuatnya kecewa, tapi dia sadar, Olla pantas kesal padanya sebab dulu dia pernah membuat Olla kesusahan juga. Yang dilakukan Tante Olla barusan, pantas banget dia dapatkan. Dia pantas merasakannya.
Honey kesal mendengar tuduhan Bee pada Mami-nya, jadi dia merebut ponsel Bee dalam sekali sentak.
"Sampai Mami dateng dan jemput aku, kamu nggak boleh ikut!" Honey mengancam saat Bee mangap gelagapan kaya ikan kehabisan air. Dia serius. Siapa suruh nuduh Mami begitu, kan?
"Honey!" Dia membentak adiknya untuk dua hal; ponsel dan ancaman itu. Memangnya dia harus di sini sampai Mas Koko jemput apa? Mereka kan serumah?
Honey punya sifat dasar yang mirip Dinka memang, jadi ketika sekarang dia punya mentor, sifatnya tersebut terbentuk secara alami. "Kecuali kalau kamu nggak punya malu, ya silakan! Aku dengar semua kata yang merendahkan dan meremehkan Mami keluar dari mulut kamu! Masih untung, ya, soal Tante Menyebalkan itu tidak—atau belum aku kasih tau ke Papa!"
Bee mengerut sedikit takut. Dia bukan benci sebenarnya, setelah beberapa waktu bersama, dan—walau, Tante itu, mengurusnya hanya didepan keluarga besar Papa, Bee tidak merasakan kalau Tante Itu tidak ikhlas. Suaranya sama datar dan intonasinya tidak terdeteksi rasa benci seperti yang disuarakan oleh Tante Itu selama ini. Hanya memang tidak ada senyum dan canda basa basi seperti saat bersama Honey, karena itu sungguh tidak perlu. Bee tidak suka basa basi atau gurauan garing yang mengada-ada.
Seperti Bee merasa kalau Dinka tahu bagaimana karakternya. Aneh kalau Bee merasa begitu, kan? Terlalu percaya diri kalau Dinka bisa mengerti bagaimana sifatnya, kan? Tante Olla saja sama sekali buta soal dia, kok.
Bee hanya bisa mematung melihat Honey menelpon dengan raut serius usai memberinya tatapan mengerikan. Dan Bee tertawa kecil saat Honey menghentakkan kakinya kesal.
"Nggak diangkat kan? Dia pasti tiduran jam segini, Honey! Kamu kaya nggak tahu kebiasaan dia aja!" Bee melihat Tante itu setiap waktu, jadwalnya apa saja, dan berharap ada kesempatan menjahilinya, tetapi ketika dia ingin mengeksekusi, selalu saja gagal karena Bee memikirkan konsekuensinya. Tante itu sedang hamil, hamil bukan sembarang hamil kaya wanita biasa. Tante itu hamil anak berharga, yang setiap waktu dibicarakan Oma, bahkan Opa selalu bilang, nggak bisa berangkat ke kota ini, negara ini di bulan yang diprediksi sebagai bulan lahir si bayi. Jadi Bee berhenti melakukannya, sebab dia tahu kalau sampai ketahuan dia pelakunya, dihukum, dimarahi adalah hal ringan, paling buruk adalah didepak dari rumah itu. Dan surveynya mengatakan kalau dia sudah tidak punya tempat selain makam orang tuanya.
"Yang penting aku menghubungi orang yang benar! Nggak kaya kamu, nelpon orang lain yang bahkan Papa juga Oma udah nggak anggap lagi!" Honey mendorong ponsel ke tangan Bee dengan kasar. Lalu membelakangi kakaknya itu dengan perasaan kesal luar biasa.
"Jadi masih mau banggain Mami kamu di depan aku, gitu?" Bee langsung menghadang Honey untuk mengejeknya. Senyum penuh kemenangan dan mencibir Honey ditunjukkan jauh lebih tinggi.
__ADS_1
"Karena Mami emang begitu, Mami emang mami paling baik dan pantas dibanggakan! Coba tante kamu itu, Bee ... Apa dia punya keluarga sebaik Mami? Apa dia punya yang Mami punya? Apa Mami butuh usaha keras buat deket sama aku dan keluarga Papa? Jelas aku tetap bangga pada Mami, dan aku nggak akan berhenti hanya karena nggak angkat telpon satu kali!"
Ya kali, Mami tahu mereka pulang cepet tanpa diberi tahu lebih dulu? Mami kan cuma manusia biasa, bukan dukun apalagi makhluk halus jadi-jadian kaya Tante Olla.
"Mami kamu pa—" Yah ....
"Anak-anak! Maaf Mami nggak lihat hape tadi!"
Honey melongok sampai mendorong Bee agar tidak menghalangi pandangannya. Suara itu membuat hati Honey bersorak gembira.
"Mami!"
Dinka berjalan sedikit cepat meski kepayahan. Dia sibuk makan siang dengan Abid yang berakhir dirinya dimangsa oleh suaminya itu sebagai menu penutup. Sampai WA guru kelas Bee tidak bisa dibaca tepat waktu.
"Maafin, Mami ya, Honey!" Dinka berlutut di depan Honey yang keringatan dan wajahnya merah. "Mami tadi bicara sama Papa soal adik bayi ... jadi lupa sama hape."
Dinka tertawa kecil. "Boleh ... kita beli es krim di Nahwa aja, ya ... yang lebih sehat."
Honey melepas pelukan dan mengangguk. "Oke, Mami!"
Dinka berdiri dan melewati Honey untuk menatap Bee yang tidak bergerak atau memutar badan menghadapnya. Dia tahu Bee tahu kedatangannya, hanya memang Bee ya seperti itu padanya.
"Ya udah, yuk ke Nahwa ... Kita makan es krim yang banyak sambil ngadem. Jusnya enak-enak di Nahwa, pasti nyegerin!" Dinka meraih tangan Honey dan membawa Honey menuju mobil.
Bee sedikit takut ketika Dinka sama sekali tidak mengajaknya. Tapi untuk bergabung, butuh muka yang sangat tebal dan gengsi yang lenyap. Sungguh dia sangat sungkan ikut begitu saja.
__ADS_1
"Bee ... jagain sekolah baik-baik, ya ... jangan sampe dimakan rayap kalau kamu tinggal kedip sekali aja!" Honey berteriak dari kursi sebelah Dinka.
Dinka sendiri menunggu Bee, tapi tidak mengajaknya. Dia memberi makan apa yang Bee mau tanpa membuat konfrontasi yang berarti. Dia di posisinya, membiarkan Bee mendekat. Dia sudah sangat baik dengan tidak membuat semua orang tahu bagaimana sikap Bee selama ini.
"Nunggu apa, sih, Mi? Ayo, buruan ... Aku udah haus banget nih."
Rengekan Honey membuat Dinka segera menyalakan mesin mobilnya.
"Oh, oke!"
"Biarin aja Bee di sana nunggu sekolah, atau nunggu dijemput sama Tante kesayangannya jemput! Dia kan nggak mau nelpon Mami tadi." Honey mengadu seperlunya.
"Wah ... baru tahu kalau Bee punya Tante kesayangan. Boleh kenalin nggak siapa dia, Mami mau bilang makasih sama dia."
"Nanti Honey kasih tau setelah sampai di Nahwa."
Dinka tersenyum riang, lalu menoleh ke Bee. "Boleh numpang ke tempat Tante kesayangan, loh, kalau Bee mau."
"Wah, ide bagus, Bee ... lumayan daripada kering!" Honey tertawa keras. "Udah tutup aja muka kamu itu, Bee ... pura-pura aja kita boneka, anggap aja kita itu angin kalau kamu malu!"
Bee ingin pingsan. Mukanya merah menahan malu dan marah. Mereka selalu jahat kalau tidak ada siapa-siapa di antara mereka. Sungguh komplotan yang luar biasa licik.
Bee memutar badan dan mengarahkan langkah ke kursi belakang mobil Dinka.
"Lebih baik daripada di luar, kan Bee? Kaya patung lagi upacara aja kamu tadi!" Honey masih getol membully saudaranya yang hanya bisa mendengkus marah.
__ADS_1
Dinka tersenyum tipis. Tidak menanggapi bullyan Honey. Dia tidak mau Bee tidak nyaman dan semakin malu nanti.