
Oke! Abid menyerah. Dia mulai menggigil dan rasanya besok pasti kena flu.
Kang Ojek juga sudah kelelahan dan mengantuk walau sudah ditopang 3 cangkir kopi. Abid memutuskan berhenti dan kembali ke penginapan, walau dia tidak yakin bisa tidur dengan Dinka entah ada di mana.
Langkah pria itu sempoyongan. Kepalanya berat, pandangannya kabur.
"... udah diberi tempat neduh, diajak makan sampai kenyang, sampai antar kemari, juga! Ngerepotin jadinya!"
Seketika kepala Abid yang semula ruwet, menjadi cerah. Pandangan pria itu mencari sumber suara.
"Makasih, ya, Kak sekali lagi."
Mata Abid terbelalak melihat Dinka baik-baik saja, ceria, dan penuh senyum. Bicara sama laki-laki yang duduk di motor.
"Oh, kurang asem sekali anak itu!" Abid berjalan cepat mendekati Dinka dan siap membentaknya, tetapi urung sebab Dinka dengan muka manisnya menyapa lebih dulu.
"Eh, Mas?! Dari mana? Kok basah begitu?" Dinka mengulurkan tangan untuk memeriksa keadaan Abid.
Kesal? Sudah pasti. Tapi Abid menahannya.
"Mas kenalin ini temen kuliah, eh, kating deng!" Dinka cengengesan saat memperkenalkan Abid pada pria yang duduk di atas motor itu. "Ini suami saya, Abid namanya."
Abid dengan muka ditekuk mengulurkan tangan.
"Jansen."
Abid hanya menarik sudut bibirnya sekilas, lalu melepaskan tangan.
__ADS_1
Pria bernama Jansen itu tersenyum kikuk. "Aku balik, ya, Din ... lain waktu ketemu lagi!"
Dia tahu arti tatapan Abid. Bisa jadi suami Dinka sedang cemburu, dan terlihat kalau Dinka suka keadaan ini menjadi penuh salah paham. Tanpa bicara lagi, Jansen langsung melesat pergi.
Dinka melambaikan tangan. Beruntung sekali dia hari ini, dan dia bersyukur. Hanya bermodalkan membantu istri katingnya tadi yang jatuh saat berkendara, Dinka bisa makan, dapat tempat berteduh, ponselnya bisa di charger, mandi, shalat, dapat bonus info soal penginapan yang ditempatinya bersama Abid, dan ada tambahan rezeki baru.
Istri Katingnya tersebut asli kelahiran kota ini, jadi dia hafal seluruh sudut kota tanpa terkecuali penginapan yang Dinka maksud.
Untuk ini, dia bersyukur sekali.
"Mas, ayo masuk! Nanti Mas sakit, loh!"
Dinka tidak tahu kalau Abid barusan mencarinya sampai basah kuyup dan kedinginan. Pikir Dinka, setelah tadi ngamuk, jangankan mencari, dikhawatirkan saja mungkin tidak pernah terbersit di kepala Abid. Secara, ATM ada di tangannya, tidak mungkin kan, dia tidak bisa mencari tempat untuk istirahat barang semalam? Dan dia bukan Bee, yang masih ngompol. Dinka hanya pelupa, bukan tidak bisa membaca. Dia hanya takut punya anak, bukan wanita belum dewasa.
"Aku begini karena siapa?!" Abid bertanya dengan mata melotot penuh kekesalan, sampai dia menunjuk dadanya sendiri. Sungguh dia ingin mengangkat gunung dan menimpuk kepala Dinka dengan itu. Tidak sadar ini karena cari siapa?
Emang karena siapa sih, kok kelihatannya jawaban itu kurang memuaskan bagi Abid?
Bola mata Dinka berputar untuk mencari dimana letak kesalahan dirinya. Secara random dia menebak.
"Karena Mas laper, dan akhirnya keluar cari makan?"
Dinka melirik mata Abid yang menyorotkan kesan bahaya. Apa sih?
"Ini karena kamu!" sembur Abid. "Aku cari kamu kemana-mana! Nggak taunya malah asik-asikan sama cowok lain!"
Kedua alis Dinka naik bersamaan. "Lah, tadi yang ninggalin aku siapa? Aku kan nggak sempat ingat penginapan kita namanya apa, jalannya lewat sebelah mana! Ya, wajar kalau aku lupa, aku sibuk mikir gimana ini nanti mau handle kerjaan, baju gimana, uang gimana! Lagian aku panik karena ulah siapa? Anak kamu, kan, Mas?!"
__ADS_1
Fix, ini lagi-lagi salah Abid. Ya, selalu Abid.
Semula, Abid kesal bukan main, dia ingin memaki, memarahi, dan mengomel panjang kali lebar. Tapi, hembusan napas sesak Abid berkata lain.
"Maaf!"
"Dimaafkan," sahut Dinka ceria. "karena aku lagi senang."
Ditepuknya pundak Abid, lalu berjalan lebih dulu masuk ke penginapan. "Mas buruan mandi, minum obat, dan tidur."
"Maksud kamu senang karena apa?" Kan, Abid mendadak kembali curiga? Pria tadi yang membuatnya senang?
"Ada deh, Mas kepo, ya!" Dinka memutar badan dan mengerling. "Mau tau aja apa mau tau banget?!"
"Basi tau, gak!" Abid menggeram. "Lelaki tadi?"
"Kamu bertanyea-tanyea?!" Dinka melangkah mundur dengan tawa renyah keluar dari mulutnya, sebelum berbalik badan dan berlari ke kamarnya berada.
Sumpah, Abid kesal ... tapi bersyukur, Dinka baik-baik saja. Lantas dengan gerakan cepat, Abid mengambil ponsel yang terbungkus plastik dan mengambil video saat Dinka berlari. Dikirimkannya video 4 detik itu ke mamanya.
"Mama mau kami ngapain kalau udah masuk ke kamar?!" sindir Abid di pesan yang menyertai video tadi.
"Minta saja cucu, Ma! Akan aku kabulkan malam ini juga!" batin Abid seraya mengeluarkan senyum sinis.
*
*
__ADS_1
*