Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Dinka Baper


__ADS_3

Bagi Abid, pulang adalah menyelesaikan masalah, tapi bagi Dinka pulang adalah menjemput segudang masalah.


Tadi di meja makan, tatapan Bee sudah mengatakan segalanya walau dia mengabaikannya. Hanya menunggu waktu baginya menerima kekesalan Bee, terlebih dia diperlakukan seperti Honey. Dia dilayani sama seperti Honey. Kamarnya sudah rapi, seluruh pakaian kotor diangkat oleh pembantu rumah tangga ke ruang cuci, bahkan mengangkat piring saja tidak diperbolehkan. Dia sungkan sebenarnya. Ini berlebihan. Selama ini dia tidak pernah dilayani seperti ini.


Ini baru satu hari. Semakin lama, pasti rasa sungkan itu makin besar dan menumpuk. Dinka tidak bisa. Lagian Abid ngajak pulang nggak bilang-bilang, atau setidaknya bahas akan pulang kemana lebih dulu. Jadi, sekarang dia syok berat. Mana tau kalau di rumah mertua akan diperlakukan begini, kan?


"Mas ...." Dia membuka mulut setelah diam begitu lama saking bingung harus mulai dari mana. Pagi sampai siang ini, otaknya berputar terus. Selintas, dia ingin pindah ke rumah mamanya saja. Setidaknya di sana manusiawi. Tapi bagaimana kalau Abid yang tidak biasa hidup sebagaimana rakyat jela ta hidup? Dua anaknya bagaimana?


"Hm?" Abid menoleh sekilas sebelum kembali menatap ponselnya lagi. Abid sejak tadi sibuk dengan benda itu, entah untuk apa. Dinka juga tidak bertanya. Hubungannya baru sejauh bercinta, diluar itu, mereka masih sama-sama buta. Dinka juga tidak tau harus mulai dari mana. Ini jeleknya tidak pernah—setidaknya punya gebetan semasa muda.


Dinka sudah membuka mulut tapi dikatupkan lagi. Barusan dia ada ide lagi, yaitu ingin tinggal sendiri, tapi dia sadar kalau mereka belum membahas sejauh itu. Oh, lebih tepatnya ... kriteria menjadi suami idaman Dinka terpatahkan dengan kenyataan bahwa Abid normal, jadi Dinka kembali gamang. Dinka tetap pada keinginannya untuk tidak hamil, karena takut apa yang menimpa Jen menimpa dirinya juga. Titik, nggak pakai koma. Sementara jelas, setelah Abid sehat, dia akan dituntut hamil dan hamil lagi.


Jadi untuk apa minta pisah rumah segala? Nanti malah ribet dan yah, dia sadar dua anak Abid butuh pengasuh juga, artinya dia harus membawa dua pengasuh anak itu juga. Ah, sepertinya dia harus bertahan sedikit saja, setidaknya sampai ada waktu yang pas untuk meminta pisah dari Abid.


"Kok diem?" Abid membuyarkan lamunan Dinka. Tarikan napas pria itu berat, sepertinya Dinka berhasil membuat perhatian Abid berpindah.


Sayang, Dinka sudah mantap dengan opsi terakhir di kepalanya, jadi Dinka menggeleng. "Aku-aku hanya ingin ke petshop aja."


Abid menatap lekat Dinka, berharap ada sesuatu yang istimewa dikatakan oleh istrinya itu. "Kita masih liburan."


"Aku nggak ada libur, Mas." Dinka tersulut.


Apa Abid lupa, yang dimaksud kita pasti dengan Olla kan? Dinka sama sekali tidak ada planing libur. Usahanya berantakan dengan liburan kita versi Abid. Dan Olla.

__ADS_1


"Seenggaknya, nikmatin sebentar lah ... jangan kerja terus." Abid meletakkan ponsel di meja lampu, lantas merebahkan kepala dengan tangan terselip diatas bantal.


"Mas nggak kerja tetap dibayar, aku enggak." Dinka menoleh. Dia sudah termasuk minta izin kan?


"Aku pergi ya, Mas." Gesture pria itu kembali berbahaya. Dia bingung harus apa sebenarnya. Dia ingin menghindar dari intimidasi pria itu. Sejak pagi, sudah dua kali dia digagahi, mana Abid kelepasan lagi.


Abid menahan lengan Dinka lembut, dan itu berhasil membuat tatapan mereka saling terkunci beberapa saat lamanya. "Sekali lagi, baru boleh pergi."


"Mas ...," rengek Dinka. "Kakiku pegal."


Abid bergerak duduk. "Nanti nggak aku renggangkan lagi kok." Dia menarik Dinka hingga wanita itu terjatuh di ranjang. Tanpa babibu, tanpa perlawanan berarti—memang Dinka sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan, Abid menindih Dinka.


Helai demi helai kain yang ia tanggalkan, sungguh membuat gejolak di dadanya menderu. Mungkin benar, pria bisa melakukan se ks tanpa perlu ada cinta lebih dulu. Ini soal bukti dan harga diri. Mereka sudah terikat akad, Dinka istrinya, yang sah dan halal secara meyakinkan untuk di gau li. Jadi tidak ada masalah lagi, kan?


Abid belum berani semena-mena, sungguh. Dia melakukan dengan lembut, tetapi tetap saja dia kewalahan dan belum sampai 15 menit, dia dengan perasaan kecewa pada dirinya sendiri harus menyudahi.


"Mas, jangan lagi di dalam." Dinka memintanya dengan memelas. Dia tahu, dia merasa setelah tadi Abid kelepasan. Ini kali kedua akan terjadi lagi. Atau dia beneran akan hamil. Dia sudah berhitung dengan benar, ini masih dalam masa suburnya.


"Oke ...." Abid mendesah seraya memuji betapa hebat kemampuan Dinka membuatnya nikmat. Namun, tembakan pertama tetap saja lepas, meski sisanya berhasil dia lepaskan di punggung Dinka.


Semoga Dinka tidak tahu, harap Abid dalam hati.


"Morning after pill bisa gak sih dipakai sekarang?" Dinka meraih pakaiannya serampangan, tanpa istirahat, mengambil napas, atau menikmati sebentar saja bagaimana permainan dahsyat mereka.

__ADS_1


Abid menelan ludah. "Bisa ...."


"Oke aku beli itu sambil ke petshop nanti."


Abid menatap kepergian Dinka ke kamar mandi. Lalu mengusap rambutnya dengan kasar. Sejujurnya, Abid ingin membuat Dinka hamil, dan membuat Olla menyesal telah meninggalkannya. Tapi dia tidak bisa memaksa Dinka lebih jauh dari ini. Ini saja dia sudah merasa terlalu jahat telah memaksakan kehendak pada Dinka.


Dia menunduk dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tatapannya kosong, menerawang kemana-mana.


Lalu dia segera berdiri dan berpakaian sebelum ke kamar mandi nanti. Matanya jatuh pada ponsel di meja lampu, lantas disambarnya segera. Abid menuju balkon untuk menghubungi seseorang.


Dinka di kamar mandi merasa bingung sendiri. Entah mengapa saat Abid setuju dengan pil itu, dia malah kecewa.


"Apa yang kamu harapkan, Dinka? Abid peduli sama kamu? Jelas kan pernikahan kamu itu kaya apa?" Dinka berbicara sendiri saat membasuh setiap jengkal tubuhnya. Masih jelas dirasakannya sentuhan Abid di sana.


Segera Dinka menampar pipinya. "Ayo, Dinka ... jangan baper! Bukannya kalau Abid setuju kamu harusnya senang?" Ditatapnya bayangan samar dirinya di dalam kaca pembatas shower.


Yang Dinka ingin tanamkan adalah tidak peduli pada perasaan orang lain, tidak luluh pada penderitaan orang lain, dan bodo amat dengan hidup orang lain. Tapi, ada yang aneh dengan hubungannya kali ini. Mudah saja dia hanyut oleh Abid. Padahal, selama hampir 8 tahun hidupnya, dia sudah berhasil dengan prinsipnya itu. Sayang sekali, keputusannya membuatnya terjebak sendiri.


"Oh, Tuhanku!" Dinka merasa kepalanya pusing. Dia benci terbawa perasaan begini.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2