
"Mas, aku lelah ... udah ya!" Dinka menengadah. Matanya merah berair.
Abid menghentikan gerakannya. "Nggak! Sampai kamu sadar siapa kamu sekarang! Kayaknya kamu emang nggak—"
"Udah, aku dah sadar, kok." Dinka mencoba menggerakkan tangannya yang sejak tadi dikekang oleh Abid. "Aku masih mengalami semacam culture shock saat kebiasaan hidup aku berubah."
"Banyak alasan!" Abid kembali bergerak. "Lihat dan rasakan baik-baik! Kepalamu harus penuh dengan kata, Abid adalah suamimu!"
Dinka mengangguk. Sengaja dia mengangguk dengan gestur yang gemas dan mata yang mengedip berulang. "Iya, Suamiku!"
Setelah itu Abid melepaskan dirinya dari Dinka secara perlahan. Ponsel yang sejak satu jam lalu dihadapkan ke mata Dinka kini dilemparkan ke sebelah. Mereka berdua tengkurap di kasur dengan sebelah tangan dan kaki Abid menimpa tubuh Dinka.
Jelas Dinka merasa berat, Abid dimata Dinka adalah raksasa. Sebelah tubuhnya saja mungkin lebih berat dari berat badan Dinka.
"Belikan aku obat!" pintanya kemudian. Abid berguling telentang, menikmati sakit kepala yang dobel–dobel menimpanya.
"Hujan di luar."
"Aku cari kamu semalam sampai sakit begini, apa cuaca di luar sedang terang bulan?"
Ekor mata Dinka melirik Abid yang sedang menatapnya juga. Dinka nyengir, kemudian bangkit dan meregangkan tangannya ke atas. "Mas mau sarapan apa?"
"Indomi kuah pedes, pake telur setengah matang, cabe sepuluh." Abid mengatakan itu sangat cepat dan ketus, kemudian berbalik memunggungi Dinka. "Ambil uang di dompet kalau malas ke ATM!"
"Mas butuh obat apa?" Dinka tentu bingung. "Mixagrip? Atau Oskadon yang katanya pancen oye?!"
"Apaan itu?!" Abid mengerutkan kening. Obat itu asing di telinga Abid. "Obatku beli di apotik, pake resep dokter! Aku udah konsul ke temen. Resepnya di email!"
Hidung Dinka sampai mengerut mendengar penjelasan Abid. "Dokternya di Mars ya? Kok pakai email segala? Klean gak ada WA, ya? Klean gak punya tele atau aplikasi—"
"Udah buruan jalan!" Abid seraya memutar badan menghadap Dinka lagi, lalu mendorong Dinka agar turun dari kasur. "Jangan banyak ngoceh, kepalaku sakit!"
__ADS_1
"Ck ... nyuruh kok kasar gitu, sih? Nggak mau!" Dinka duduk kembali seraya menyedekapkan tangannya.
Abid menarik napas panjang dan dalam. "Astaga Dinka, kasar gimana, sih? Aku cuma minta kamu cepetan. Aku sakit beneran, Dinka!"
"Tapi jangan dorong–dorong gitu! Bisa kan, pake suara pelan."
Abid mungkin punya dosa banyak di kehidupan sebelumnya sehingga dia dikutuk memiliki istri sebawel dan serempong Dinka. Pria itu memupuk kesabaran yang hampir habis, lantas berdiri.
"Sayangku ... Istriku yang cantik jelita tiada tara." Abid mengusap bekas dorongannya di lengan Dinka tadi. "Dinka Maryamu Saliha, calon penghuni surga ... beliin Mas Abid, suamimu ini obat biar lekas sembuh dan bisa nikmatin honeymoon romantis kita, ya!"
Bibir Abid tersenyum manis dan menatap Dinka lembut selembut tahu jepang.
"Boleh beli cemilan, boleh beli makanan kesukaan kamu, boleh beli apa aja yang Sayang Dinka ini mau, oke?" Usapan merambat ke rambut hingga ke dagu. Abid melihat kejernihan mata istrinya itu. Dan dia entah mengapa suka berlama–lama menatapnya. Lama-lama dilihat, Dinka semakin menarik.
Dinka mengedipkan mata berulang. Lucu banget si, raksasa Abid ini kalau lagi mode meleleh. "Mas ganteng kalau lagi nggak galak. Sering–sering begini, ya, Mas!"
Abid sudah ingin menyahut lagi, tapi Dinka susah bergerak cepat meraih ponselnya. "Nih, Mas ... mana emailnya?"
"Ya elah, kucing yang main tiktòk juga tahu kali, Mas! Maksud aku, Mas aja yang buka, hape kan privasi." Dinka menyerahkan ponsel Abid yang sejak tadi digunakan pria itu untuk memperlihatkan foto pernikahan mereka agar dia ingat kalau mereka sudah menikah. Namun pria itu enggan menerimanya.
"ATM udah gak diprivasi, masa hape yang kosong melompong itu mesti di privasi?" Abid bergerak malas, "password 180821."
Abid berguling miring lalu memejamkan mata.
Dinka menatap kosong ponsel itu, hatinya tercubit menduga password itu adalah tanggal jadian Abid dan Olla.
Lama Dinka termangu, tetapi segera mengangguk dan bergerak pelan di atas layar ponsel. "Oke, aku pergi dulu, Mas."
Dia menyambar tas yang kemarin dia beli, lalu keluar untuk menerjang hujan demi membeli obat untuk Abid. Ini demi kemanusiaan, Abid tidak punya siapa-siapa untuk diandalkan selain dia. Jadi dia bersedia.
Sesampainya di apotik, Dinka menunjukkan email yang mudah sekali dia jumpai di ponsel suaminya tersebut kepada pegawai di apotik dan segera membayarnya. Ya, walau dia berharap lupa password dan akhirnya beli obat lain, agar tidak melihat tanggal itu lagi.
__ADS_1
"Ckckck ... obat flu begitu saja habis ratusan ribu?" Dinka heran. "Katanya apa-apa jangan langsung beli obat."
Bibirnya mencibir seraya keluar dari apotik dan melesat ke supermarket.
"Aku ingin jiwa maruk aku balik pas bisa jajan sampai puluhan juta begini!" Dinka berjalan riang ke dalam supermarket. Setengah mati dia melupakan tanggal jadian yang jadi password itu. Dia mengatakan itu bukan masalah. Dia hanya pengganti. Wajar Abid belum menggantinya, sebab waktu mereka sedikit dan Abid sibuk.
Sudahlah, dia tidak boleh cengeng hanya soal tanggal.
Sementara Abid bukannya tidur, tetapi memikirkan kenapa Dinka pergi begitu ringannya. Ocehan Dinka, sanggahan wanita itu, dan bibirnya yang cemberut itu membuatnya merasa aneh saat tadi pergi dengan nada datar.
Pintu menjeblak terbuka, menampakkan Dinka yang membawa dua kantong belanjaan besar dan tangan sibuk menyangga ponsel di telinga.
"Atur senyaman Denis aja ... dia bisa datang sore hari. Kaya dokter biasa gitu loh. Sama aku santai saja, jangan kaku-kaku banget." Dinka tersenyum saat berbicara. Dinka meletakkan bag belanjaan dan menyerahkan obat ke tangan Abid. Tanpa menoleh sama sekali.
Dinka terus berbicara. "Iya, aku lagi di Bali ... kamu mau oleh-oleh apa?"
"Oke ... bilang sama Denis untuk sabar hadapi pelanggan kita, ya!" Dinka tertawa kecil. "Gak apa-apa merendah, asal mereka royal."
Abid kesal dicueki, sehingga dia berdiri dan menghimpit Dinka ke dinding. Mata pria itu menatap tajam Dinka, yang tampak tidak sadar apa yang terjadi.
Senyum gadis itu masih terlihat olehnya, saat secara perlahan Dinka menaikkan pandangan ke arahnya. Bibir itu hendak bicara, tapi Abid membungkamnya.
"Hemmp!" Mata Dinka melotot ketika bibir Abid melahap seluruh bibirnya. Oh My God!
*
*
*
__ADS_1
Tadi udah ketok banyak banget, tapi loading terus, dan pas aku reload, hilang ketikanku😢 hari ini satu bab, ya .... Aku capek campur kesel🤣