Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Lamaran Setelah Sah


__ADS_3

"Pak—sebentar!"


Taksi baru saja akan menambah kecepatan tapi larangan Abid membuat sopir menginjak rem secara refleks.


Sopir taksi itu menoleh, namun yang ditoleh malah mengamati luar dengan seksama.


"Mau beli buket bunga dulu, Pak?" Sopir itu bertanya. "Langganannya orang kaya di sini ini, Pak. Saya sering dapat orderan ngambil dari sini."


Abid memutar kepala menatap sopir itu. "Itu florist milik mertua saya, Pak."


Perlu sekali menjelaskan kenapa dia meminta berhenti. Sopir taksi itu membulatkan bibir seraya manggut-manggut.


Abid baru sadar, sederet ruko di sini nyaris dimiliki oleh satu keluarga. Keluarga Dinka dan Dinka punya tiga untuk petshop dan pet hotel. Namun bukan itu yang dia herankan kali ini, tapi dia barusan melihat Mamanya keluar dari florist. Wajah mamanya sumringah, dan Abid menduga, mereka habis gibah akbar dengan besannya.


"Bisa tunggu saya sebentar, Pak?" Abid memutuskan turun. Setidaknya, dia harus menyapa mertuanya kan?


Sopir itu mengangguk lalu Abid turun. Benar, Dinka mungkin orang berduit yang tidak punya hasrat show off. Abid tersenyum. Poin bertambah lagi di kubu Dinka. Dia memerhatikan pintu masuk yang sudah terpampang tulisan closed. Tapi Abid bukan pelanggan, jadi dia bukan orang yang tidak diizinkan masuk walau sudah tutup.


"Emang suami Dinka sakit apa, Ma?"


Abid sudah seujung kaki masuk, saat suara kakak ipar Dinka terdengar olehnya. Abid mengurung langkah. Dia menguping.


"Infertilitas dan disfungsi er ek si."


"Sudah sembuh, kan, kata mertua Dinka tadi? Tapi kenapa Mama masih sedih?"


Abid mengintip sedikit. Sayang terhalang oleh etalase dan buket tinggi siap kirim. Suara berisik juga sedikit mengganggu. Jadi Abid harus melongok dengan kaki mengganjal pintu.


"Dinka takut hamil dan punya anak, itu yang Mama tangkap dari gesture adikmu itu. Sejak dia bikin Hero—"


"Masa Dinka kepikiran soal itu, Ma? Aku jadi merasa bersalah sama dia. Padahal aku nggak nyalahin dia loh, Ma ... ini takdir. Aku udah ikhlaskan Hero."


Hening di sana, Abid makin penasaran.

__ADS_1


"Aku mesti bicara sama Dinka, Ma ... kasihan anak itu ketakutan terus. Kami emang nggak pernah bahas apa-apa, karena aku pikir semua emang udah selesai, gak ada yang harus dibahas lagi."


"Dinka merasa bersalah, Jen ... Mama waktu itu marahin dia sampai Mama ingin mukul dia yang ke kamu keterlaluan. Mama nggak tau kenapa Dinka keras kepala dan kejam sama kamu, padahal kamu baik sama dia. Mama sampai kelepasan sumpahin dia sengsara saat hamil, Jen ... jujur Mama hanya ingin Dinka berubah, bukan nyumpahin beneran."


Suara kikikan kecil terdengar. "Ya Allah, Ma ... kasihan loh, Dinkanya. Pantas aja dia ngotot milih suami yang begitu agar nggak ngerasain hamil rupanya. Tapi kalau udah sembuh, dan seperti yang Tante Resti bilang tadi ... Dinka dipastikan hamil tak lama lagi, Ma."


"Mama hanya berharap Dinka baik-baik saja, Jen ... Mama nyesel karena ucapan Mama dulu."


Abid menarik napas. Obrolan di dalam sedikit serius dan membuatnya tegang. Ah, beruntung sekali dia kemari tadi.


Dia mundur dengan senyum tersungging. Jadi begitu ceritanya, ya ... Dinka takut hamil karena ada ketakutan pada sumpah Mamanya rupanya.


"Loh, Nak Abid?"


Dari arah belakangnya, sebuah suara memanggil, membuatnya memutar badan dan langsung menghampiri buru-buru.


"Ayo masuk, Nak ... jangan berdiri di luar." Rendi membiarkan tangannya di salami dengan takzim oleh menantu hasil comot anak perempuannya. Rendi tahu semuanya setelah Desy mengamuk beberapa hari jelang pernikahan, yang sayangnya semua tidak bisa dibatalkan lagi. Dinka yang kukuh dan ngotot. Sampai Rendi harus banyak-banyak mengisi mulut dengan air agar dia tidak terpancing mendebat, sehingga keadaan makin kacau.


Rendi sedang membujuk hatinya agar tidak memikirkan pernikahan Dinka. Pengganti. Ditukar dengan uang. Paling buruk: selingkuhan. Paling parah: Dinka yang menggagalkan agar dia bisa naik pelaminan.


Rendi melewati Abid yang mengulas senyum, canggung sekali keadaan kali ini. Sisa pertengkaran masih membekas, dan Rendi belum bisa mempercayai Abid—sejujurnya. Sekali lagi, dia masih memikirkan motif. Apa yang mendasari Abid menerima Dinka?


"Saya belum sempat berkunjung, jadi selagi masih cuti, saya kemari. Kebetulan tadi saya sama Dinka di petshop."


Rendi berhenti dan menoleh. Sepertinya itu sesuatu yang bagus. Ke petshop dimana Dinka mengais rupiah. Kedengaran seperti ada roman yang baik di antara keduanya.


"Sekalipun dekat, Dinka jarang datang kemari." Rendi tersenyum. "Kekurangan karyawan, dengan alasan hewan juga butuh tangan yang telaten, hati yang tulus, dan jiwa penyayang."


Rendi terkekeh, di susul Abid tersenyum simpul. Dinka ini unik.


"Dia lebay banget, kan?" sambung Rendi di sela tawanya. "Kekanakan sekali ...."


"Saya rasa Dinka benar, Pa." Tawa Rendi lenyap mendengar ucapan Abid. Keningnya berkerut. "Semua pekerjaan butuh passion dan perawat hewan harus menyayangi hewan tersebut. Dinka sudah benar dengan keputusannya. Kepercayaan pelanggan itu yang utama, Pa."

__ADS_1


Rendi mengangguk. Ini semacam presentasi dari seorang pelamar kerja. Tapi Rendi tahu, Abid tidak sedang bersandiwara. Dari mata pria itu jelas sekali terlihat.


"Papa nggak heran kalau kamu jauh lebih luas pandangan dari pada orang tua macam Papa." Rendi mengakui. Dia saja tidak paham konsep yang Dinka ambil. Rendi salut akan usaha Abid ini. Abid tersenyum kecil.


"Pa, maaf kalau ini sudah sangat terlambat. Tapi saya tetap ingin mengatakannya." Abid menghadap Rendi dengan sempurna. Rendi kembali heran atas sikap Abid. Agak mengerikan dengan perubahan ekspresi di wajahnya. Sebentar ramah, sebentar serius, sebentar penuh tawa.


"Saya sungguh-sungguh ingin memulai hidup baru dengan putri Papa. Saya ingin bahagiakan dia sepenuh hati saya. Saya mohon, Papa jangan melihat Dinka sebatas pengganti di pelaminan, tapi lihat saya sebagai suami Dinka dan dia adalah istri saya satu-satunya. Wanita yang akan menemani saya menapaki masa depan."


Rendi jelas tercengang sepuluh detik lamanya.


"Saya minta Papa memberi restu saya dan Dinka."


Astagfirullah, anak ini kenapa?


"Pa-Papa sudah merestui, Nak ... Papa hanya—canggung." Rendi bingung. Sepertinya Abid bisa membaca gesture dan sikap seseorang.


Mungkin Abid anak indihom.


"Ya ... Papa hanya kaget dengan pernikahan kalian. Papa belum kenal kamu dan keluarga kamu dengan baik." Rendi terkekeh. "Tapi Papa sudah merestui kalian."


"Terima kasih, Pa." Abid tersenyum simpul. Ya, menikahkan dan merestui itu berbeda. Kadang, menikahkan hanya demi terlihat semua baik-baik saja. Berbeda dengan merestui, dimana seorang ayah menyerahkan putrinya ke tangan pria yang telah menjadi pilihan hati.


Ya, Rendi menikahkan Dinka dengan Abid hanya agar semua terlihat baik. Dia tidak mau Dinka mewujudkan ancamannya. Namun sekarang, dia telah memberi restu sepenuhnya. Dia ikhlas menyerahkan Dinka ke tangan Abid. Bukan lagi pundaknya yang akan digapai Dinka saat lelah, melainkan Abid. Bukan bahunya yang akan menjadi sandaran saat Dinka butuh ketenangan, tetapi bahu Abid.


Pelukannya masih sama—penuh cinta, tapi yang Dinka cari pasti dada Abid yang debarnya menenangkan semua gundah di hati Dinka.


*


*


*


Bocans dulu, biar pagi2 besok bisa ngetik. Kita kebut Dinka, lanjut Om duda Nuga. Mon maaf. aku keteteran dgn kerjaan RL🙏

__ADS_1


__ADS_2