
Keputusannya menghadang laju mobil Abid sungguhlah beresiko, namun beruntung Abid ingat mengerem, jadi mobilnya hanya berguncang sebentar, lalu sama-sama berhenti.
Dinka menggebrak pintu mobil Abid, panik. Dia berteriak seperti orang gila.
"Mas Abid! Buka pintunya!"
"Mas dengar aku, kan?"
Dinka melihat Abid telah pingsan di dalam sana setelah beberapa saat terlihat kebingungan. Dia juga tidak perlu meminta pertolongan sebab banyak orang telah mengerumun.
"Pecahin kacanya aja!" Seseorang berteriak. "Kaca belakang-kaca belakang! Orangnya pingsan!"
Dinka ketakutan, perutnya nyeri sekali melihat bahayanya kondisi sang suami sekarang. Dinka sekali lagi mengintip, melihat dua orang di dalam sana tak sadarkan diri dengan tangan Koko memegang tangan Abid.
"Pak, hati-hati, ya ... suami saya sakit, soalnya." Dinka hanya meminta proses ini aman, selebihnya dia tidak berkata apa-apa. Mereka meminta Dinka minggir sebelum teriakan keras yang mengatakan mereka telah berhasil mengeluarkan Abid.
Dinka sudah berurai air mata sejak pukulan pertama terdengar, kini kakinya berlari sekuat tenaga untuk mendekati mobil kembali.
"Mas Abid!" Dinka langsung mengguncang tubuh suaminya. "Mas ...."
"Kita ke rumah sakit saja, Bu. Bahaya kelamaan di sini!"
Ya, itu benar. Bergegas tubuh Abid di pindahkan ke mobil Dinka di bantu beberapa orang sebelum diantarkan ke rumah sakit terdekat.
Dinka tak henti mengutuk kelakuan nekat suaminya dalam hati. Siapa memang yang memintanya begini? Sejak kapan Abid pegang setir begini?
Dan, yang Dinka baru sadar, tenyata Abid di bawa ke rumah sakit tempat Abid bekerja. Kenapa tidak ke rumah sakit lain?
"Pak—"
"Bu, bantu panggil petugas, ya."
__ADS_1
Dinka keberatan. Jika dia keluar, siapapun langsung mengenalinya dengan mudah. Dan—
"Bu, tolong cepat! Suaminya mau selamat enggak?" Pria yang menolong tadi jelas terlihat memojokkan Dinka.
Dinka tak perlu dihardik dua kali. Dia segera turun dan memanggil petugas yang memang sudah berada di sana.
"Bu Dinka!"
"Tolong suami saya!"
Dan detik berikutnya—seperti sudah bisa ditebak, seorang wanita keluar memakai jas dokter kebanggaannya. Jelas dia berada di sini, dan Dinka harusnya tak perlu merasa bagaimana. Dan kenapa dia masih sempat memikirkan bagaimana perasaannya ditengah situasi darurat begini. Heloow, Dinka ... kamu mikir apa?
"Hati-hati—"
PLAK!
Tanpa babibu, tamparan mendarat di pipi Dinka. Sangat keras hingga suara pekikan dan aduhan terdengar.
Semua orang berhenti untuk melihat dua wanita saling tatap dan hadap. Dinka sempat ambruk ke sisi mobilnya sendiri, sambil memegangi pipi yang terasa perih dan panas.
Olla memutar badan, memberikan instruksi ke perawat yang membantu Abid turun.
"Jauhkan wanita gila ini dari Abid!"
Hati siapa yang tak berkobar mendengar ucapan gila itu?
"Kau yang gila, Olla!" Jeritan histeris itu menginterupsi. "Aku mau dokter yang lain untuk suamiku!"
Seharusnya tidak begini, kan? Kenapa jadi tidak profesional begini?
"Saya seorang istri dari pasien, kenapa saya harus menjauh dari suami saya? Harusnya anda yang menjauh dari suami saya, kan?" Dinka gemetar menuding Olla. "Saya bisa melaporkan tindakan arogan anda pada managemen rumah sakit, jika anda lupa, Dokter! Anda tidak punya hak menjauhkan istri dari suaminya yang sekarat, kecuali anda memegang tuntutan hukum ditangan anda!"
__ADS_1
"Kau yang membuatnya sekarat! Jangan sok polos anda, Nyonya!" Olla membentak tak kalah keras. Dia tahu semuanya, kan? Dia pegang informasi yang cukup, bukti yang kuat untuk menyeret seseorang ke ranah hukum, bahkan ... perceraian.
"Anda juga jangan sok pintar seolah tahu segalanya, Dokter!" Dinka mendekat, mengabaikan perutnya yang mulai tegang dan kaku. "Anda mendengar ocehan anak di bawah umur? Anak berusia sepuluh tahun yang terobsesi dengan mantan pacar ayah angkatnya? Iya?"
Olla terkejut. Dinka tahu? Sejauh apa?
"Saya kira, anda masih akan menahan diri beberapa saat sampai kita berdua saja membahas ini, tapi anda kelewat tidak sabaran, sehingga hanya membuat anda malu!" Dinka membuang muka, menabrak Olla dengan sisa kekuatan yang dia punya, menuju UGD di mana Abid mendapatkan pemeriksaan.
"Dokter Abid hanya syok, dia pasti kembali mengingat kejadian kecelakaan waktu itu." Dokter jaga lain, yang cukup kenal dengan riwayat Abid berkata setelah beberapa saat memeriksa Abid.
"Dia hanya akan tidur sampai beberapa jam ke depan setelah mendapatkan obatnya. Jangan khawatir." Dia tersenyum menenangkan. "Pakai ruangan sebelah untuk membenahi pakaian kamu, Dinka."
Dinka mengangguk untuk menyamarkan tindakannya memeriksa tampilan dirinya yang kacau. Ya, termasuk alas kakinya yang entah dimana.
"Olla berlebihan, nanti akan saya tegur dia," lanjutnya seraya memohon diri. "Koko juga sudah siuman kok, kalau mau lihat."
Dinka mengangguk lega sekali lagi. "Makasih, Dokter Hamam." Dia ingat nama itu, lalu melipir ke ruangan yang tertutup tirai dan memeluk Abid.
Tadi di jalan, dia tidak bisa membayangkan kalau Abid kecelakaan. Meski malam jalanan sudah lengang, tapi tetap saja kendaraan masih begitu banyak yang melintas.
Entah jadi apa andai Abid tidak menoleh dan merespons panggilannya. Dia tahu Abid melihat dan mendengar suaranya saat mobil mereka sejajar tadi. Tapi dia tahu, pikiran Abid kacau.
Dinka melepas pelukan atas Abid yang belum sadar. Menatap mata yang terpejam itu dengan air mata yang berderai. "Mas, tolong jangan keras kepala lagi setelah ini, ya."
"Bu, maaf—Bu!"
Dinka limbung dan ambruk. Pasti dia juga kelelahan.
...****************...
Komen yang banyak, tar aku up lagi😄
__ADS_1