Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Memeluk Bahagia


__ADS_3

"Melelahkan, ya!"


Dinka berujar, di sebelah Abid yang barusan bertemu Olla.


Pasangan itu saling tatap dan tersenyum, meski Abid sempat deg-degan mendapati Dinka tiba-tiba muncul di sebelahnya.


"Mas hanya ingin Olla berhenti, Din."


"Mas peduli sekali sama Mbak Olla, ya." Dinka sedikit tertawa. Sementara Abid tercengang.


Peduli yang bagaimana? Jelas dia tidak peduli pada Olla. Dia sedang menyelesaikan urusan dengan Olla yang menurut pihaknya telah selesai. Hanya ingin menjelaskan dengan clear saja.


"Mas takut Mbak Olla sakit jika terus datang dan berharap."


"Maksud kamu apa?" Yang Abid harus ingat, wanita hamil itu sensi, dan wanita itu selalu benar. Dia harus berhati-hati, atau dunianya akan terbelah.


"Biarkan Mbak Olla dengan keinginannya, Mas. Jangan suruh dia berhenti, karena itu kelihatan Mas peduli. Mas takut Mbak Olla sakit hati dan kecewa jika terus mengharapkan Mas. Biarkan saja dia melakukan apa yang menurutnya benar."


Tatapan keduanya saling terkunci untuk beberapa waktu lamanya. Abid sedang mencerna. Dan anehnya, Dinka mendadak cerdik, sementara dia menjadi sedikit lemot. Tunggu... apa ketika bercinta isi otak ikut tertukar? Atau kepintaran Abid larut dalam cairannya, dan transfer melalui hubungan badan mereka? Wah, gawat kalau begitu!


"Tapi Mas nggak bermaksud kaya gitu. Maksud Mas tuh biar kita nggak direcoki Olla lagi. Mas nggak peduli kok," kilah Abid hati-hati. Dia mencoba menggali lagi, apa sudah benar dia mengatakan itu.


"Ya, Mas nggak maksud tapi Mbak Olla merasa kalau Mas masih peduli. Tujuan dia terus datang kan, biar dinotice sama Mas, trus kalian ada akses bicara, lalu mendekat lagi perlahan dengan cara yang canggung, perlahan menerima, dan akhirnya ... kemungkinan ada hati yang terbuka makin banyak."


Tentang hubungan, Abid memang kaku dan tidak terlalu tau. Hanya mungkin, dia memang setia.


Dinka banyak belajar meski tidak pernah menjalin hubungan. Dari semua orang yang bermasalah di sekelilingnya.


"Mas nggak mungkin kaya gitu, Dinka. Mas takut kamu kepikiran sebab aku sama Olla satu kerjaan. Aku hanya jaga perasaan kamu." Abid menarik Dinka, membujuknya agar yakin padanya.


"Terima kasih, tapi aku nggak selebay itu, kok, Mas." Dinka tersenyum. "Mas cukup tidak menanggapi Mbak Olla, dan jangan terlibat obrolan yang terlalu dekat juga personal dengannya. Kalau Mas sudah selesai, ya udah, selesai saja versi Mas. Lagian kan, Mbak Olla yang menyelesaikan hubungan diantara kalian, jadi bukan kewajiban Mas menghalau Mbak Olla dari hidup Mas."


"Dia pernah pergi gitu aja pas kalian ada ikatan, dan pergi lagi juga bukan urusan yang sulit, kan? Kalian sudah nggak ada hubungan apa-apa selain mantan."


Oke! Jadi mau Dinka agar dirinya tak lagi bicara berdua soal mereka. Baik. Abid bisa sekali. Dan yah, memang tadi dia takut Dinka merasa terganggu saja. Selebihnya tidak ada, tapi kalau memang Olla menganggap dia peduli hanya karena meminta berhenti, oke ... Abid yang akan berhenti.


Dinka benar, logikanya masuk di kepala Abid.

__ADS_1


"Jadi Olla bukan masalah buat kamu even dia keluyuran di depan mata kamu?" Perlu diperjelas, dan penyataan ini akan Abid ingat.


"Aku bisa anggap dia virus kalau aku mau." Dinka tertawa.


"Kamu luar biasa." Abid mengecup kening istrinya kemudian memeluknya erat. Ah, memang yang terbaik disiapkan paling akhir. Dan dia tidak menyesal harus ditinggal Olla demi mendapat ganti seperti Dinka. Yang kuat dan cintanya tidak membabi buta.


"Mas yang biasa di luar."


Abid tertawa seraya menciumi sisi telinga Dinka. "Nggak lagi sekarang, biar penuh rahim kamu sama cairan Mas."


"Jen kayaknya nggak keberatan kalau aku istirahat, Mas."


Abid melepas pelukan, khawatir Dinka merasa tidak nyaman. Bisa karena banyak hal, terlebih pelukannya barusan.


Dinka menggigit bibir, menghindari tatapan Abid padanya. "Pengen yang anget-anget."


"Apa?" Abid memikirkan suasana hujan yang dingin malam ini. Mungkin sejenis wedang jahe. Biasanya wanita hamil suka minuman tradisional itu.


"Dikekepin Mas misalnya." Dinka melipat bibir. Mungkin selain agak geser, Dinka memang suka frontal mengungkapkan maunya. Ya elah, dia lelah kalau harus pake kode.


Abid terkekeh. "Mas harus nemui Mbak Jen sama big bos dulu. Setor muka minimal, soalnya kalau setor transferan, duit Mas serinya terbatas."


"Sama-sama aja, sekalian pamit. Abis itu Mas bakal angetin kamu pake berliter-liter cairan anget milik Mas."


Meski Dinka mengharap Abid melakukan itu padanya, tapi tetap saja dia merona dan panas di pipi. Namun, dia segera menggandeng tangan suaminya meninggalkan tempat itu.


"Hah, ternyata hamil semenggairahkan ini, ya." Dinka membatin. Dan, lebih gila, dia sedoyan itu pada burung suaminya. Seketagihan itu pada penyatuan tubuh yang menurutnya—dulu, menjijikkan.


Jadi, kalau sudah tau rasanya, kecanduan adalah akibatnya.


Lalu, siapa yang disalahkan jika dia menjadi maniak begini?


"Perut kamu buncitnya pelan banget, ya." Berjam-jam setelah acara Jen, Dinka juga sudah berkali-kali melakukan hubungan badan dengan Abid.


Kini tangan Abid mengusap perutnya yang seperti membentuk buntalan kecil yang ogah-ogahan membesar.


"Makan kamu banyak, tapi badan masih kerempeng begini," komentar Abid saat dia mencium pundak Dinka yang terbuka. Sementara Abid sudah bugar setelah minum air lemon dingin, Dinka justru kelelahan. Setidaknya sudah tiga kali mereka mengulangi, dan Dinka perlahan mulai mengantuk.

__ADS_1


"Dia cewek nggak, sih?" Abid menyangga kepala dan menatap Dinka. "Feeling aku cewek," lanjutnya.


"Kenapa emangnya, Mas?" Mungkin permintaan itu ada kaitan dengan Bee.


"Lucu aja kalau ada cewek lain diantara kita." Abid terkekeh. "Honey bilang, kamu suka melotot kalau aku ngobrol sama wanita selain dari keluarga kita."


"Wajar kalau cinta itu cemburu, Mas. Aku lagi mastiin mata kamu nggak lihat dada yang lebih besar dariku." Dinka miring dan menyuruk ke pelukan Abid.


Abid terkekeh. "Bagusan yang sekal dan pas ditangan, Dinka. Selera Mas yang imut dan pu tingnya besar."


Tangan Dinka mencubit perut Abid. Dulu dia malu melihat bentuk pu ting su su nya yang besar dan dia harus menutupi dengan pad khusus agar tidak tercetak. Namun belakangan dia bangga sebab bentuk itu memudahkannya untuk mengAsi anaknya kelak.


"Tau nggak sih, kamu itu kurangnya apa?" Abid bertanya.


Dinka mendongak. Dadanya berdebar tak karuan. Apa itu?


"Kurangnya hanya nggak mau dipanggil Sayang. Padahal Mas ingin panggil kamu begitu," jawab Abid setengah mengandung permohonan. Dia harus menahan diri saat pelepasan dengan tetap memanggil nama Dinka saja tanpa embel-embel sayang.


Greget banget sebenarnya, pasti nikmat dan plong.


"Jujur ya, Mas ngga pernah manggil Olla atau Nara sekalipun dengan sebutan Sayang," akunya.


"Olla just Olla, dan Nara itu Dek." Abid melanjutkan. Nara adalah adik kelasnya. Kebawa suasana kelas saja sampai mereka menikah. Nara merasa bahagia dengan panggilan itu.


Dinka tersenyum geli. "Coba panggil kalau gitu."


"Sayaaang ...." Abid sedikit mendesah. "Dinka sayangnya Mas Abid."


Dinka terkekeh, merasa lucu sekaligus geli. "Oke ... Tapi jangan begini pas di depan orang, takut muntah orang yang denger."


Abid berbinar. "Siap komandan."


"Kapan-kapan kita ke rumah Nara, ya, Mas. Aku ingin kenalan sama dia."


Abid surprised. "Oke ...."


Olla sudah kalah berapa puluh level dari Dinka soal beberapa hal? Olla hanya pintar dan visioner, bukan toleran terhadap masa lalu orang. Even dia kekasihnya sendiri. Uh, beruntung kan, dia menikah dengan Dinka, yang meski biasa saja tapi spek nya luar biasa.

__ADS_1


Dan mereka berdua sepertinya tidak layak dibandingkan. Dinka bisa membawanya terbang dan menyingkat beberapa tahapan agar sampai di posisinya kini. Hidupnya dipermudah, jalannya dimuluskan, dan itu karena dia menikah dengan Dinka.


__ADS_2