Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Mari Bicara Mas


__ADS_3

"Sayang ... Dinka." Begitu melihat Dinka masuk, Abid bergegas bangun. Ya, memang Abid itu hanya pingsan, dan bangun dalam keadaan segar bugar, tanpa kurang satu apapun.


Abid merasa bersalah tentu saja. Bangun dan hanya ada Koko di sana. Dinka katanya ke poli kandungan. Beruntung, banget ... kalau saja Dinka dengar siapa yang dipanggilnya saat membuka mata, Dinka pasti marah. Alam bawah sadarnya masih kental dengan Nara yang mengalami kecelakaan itu bersamanya.


Koko mundur dan memberi ruang pada Dinka yang berjalan pelan ke arah ranjang.


"Pipi kamu kenapa?"


Dinka menggeleng, "Mas masih sakit? Yang mana? Apa yang Mas rasa?" Dia mengalihkan perhatian.


"Kamu kenapa ini, Dinka?" Abid kukuh memeriksa pipi Dinka yang berusaha dijauhkan darinya.


"Nggak apa-apa—"


"Karena tabrakan sama Mas, ya?"


"Bukan ... kita nggak tabrakan, kok." Dinka melihat ke kantung infus. "Panggil Dokter ya, infus udah mau habis."


"Kenapa nyusulin Mas, sih, Yang ... kamu hampir celaka semalam." Abid khawatir. Pipi Dinka merah nyaris ungu. Kena apa sih, kok bisa begitu? Abid membayangkan bagaimana kejadian semalam secara samar, tapi untuk luka itu sepertinya bukan benturan.

__ADS_1


Namun yang dia ingat hanya ingatan acak akan Nara.


"Mas yang bisa celaka!" Dinka tersulut ketika Abid membahas kenapa mesti nyusul. Ya, gila aja, sih ... kalau saja Bee tidak chat dengan Olla, mana dia tau kemana suaminya selama ini setiap malam. "Lagian, kapan aku minta Mas nyetir? Gak semua ketakutan mesti di lawan, kan, aku bilang?"


"Ya, tapi—"


"Mas ... udah deh. Jangan nyiksa diri sendiri begini ...," ujar Dinka lelah. "Aku sama siapapun di masa lalu Mas itu beda. Aku bisa semuanya sendiri, tapi aku bukan orang yang susah diajak bicara. Kita nggak butuh kamu bisa nyetir hanya agar terlihat keren dan kuat, plis deh, Mas."


Abid membuang napas, tangannya menangkup tangan Dinka. "Aku minder sama kamu."


"Hah?!" Siapa yang percaya sih? Dulu galaknya minta ampun, giliran jadi istrinya minder, Abid kenapa sebenarnya?


Abid meringis kikuk, tapi juga merona. Ditembak istri sendiri kok merinding ya. "Ya abisnya, aku bisa jadi dokter tetap juga karena kamu, Yang ... gak minder gimana?"


"Gak ada habisnya kalau bahas gitu terus! Udah deh, abis ini aku mau senang-senang aja jadi istri kamu. Nggak ada drama ngamar lagi kaya gini, ya ... capek tau! Malu sama Mamaira kalau tiap ngamar gratis terus, kan?" Dinka mencak-mencak, sesuai hobinya. Dan yang diomeli cengar-cengir salah tingkah sendiri. Kaya anak kecil.


"Mas ke dokter lagi, terapi lagi. Dan kita jenguk Nara secepatnya. Aku mau izin sama Nara buat miliki kamu di dunia." Sedih nggak sih? Dunia saja? Nanti nggak sama-sama kalau udah di alam baka? Nanti dia sama siapa, kalau Nara yang jadi bidadari Abid?


"Kok di dunia aja?"

__ADS_1


"Kejauhan kalau ke akhirat, Mas." Dinka menjawab sekenanya. "Jalani dulu di dunia, sambil minta yang terbaik di akhirat kelak."


Tapi kalau Abid sama dia, Nara sama siapa? Kasihan kan? Duh, delima ... eh, dilema.


"Kita bisa sama-sama selamanya kalau kamu mau." Abid menyela jemari Dinka dan menggenggamnya erat.


"Kalau gitu, Mas harus adil sama Nara juga. Doain dia tenang di sana. Jangan Mas coba lupa sama dia." Dinka menceploskan apa saja yang sekiranya membuat hubungan mereka mengganjal. Biar lega, biar plong, dan kaya pasangan lain yang sedihpun mereka tertawa.


"Oke ... Mas akan sebut dia di doa, Mas ... Jangan marah, ya." Abid jujur. Dia sudah melakukannya selama ini, jadi mumpung ada kesempatan, ngaku saja sekalian.


Untuk apa sih, marah? Dia bukan pemarah, hanya tukang ngomel. Dinka membuang muka. Lelah dituduh pemarah dan pencemburu.


"Sini peluk, Mas dulu. Kangen tahu." Abid menarik Dinka dan membawanya merebah bersama. Tak lupa ciuman dia daratkan di bibir Dinka cukup lama. Namanya juga bicara, jadi ya mesti lip to lip, mouth to mouth lah, mau pake apa lagi memang. Dan mereka sedang deep talk sekarang, jadi jangan ganggu.


Koko membuang muka dengan mata berotasi sempurna. "Mereka itu sakit beneran apa enggak sih? Heran deh."


Koko keluar begitu saja. Di sini hawa terasa gerah.


Dinka sengaja membuat suasana tidak seharu layaknya pasangan yang habis terkena musibah. Dia benci melow, dia benci suasana haru yang bikin air matanya mudah keluar. Ditambah, hormon kehamilan ini membuatnya cepat sekali menangis. Ah, Dinka tidak suka. Dia tidak mau. Dia takut perasaannya semakin nyata. Semalam, dia melihat kalau dia telah jatuh, jatuh makin dalam dan tak bisa diselamatkan lagi.

__ADS_1


Dia merasa takut kehilangan ... kehilangan Abid.


__ADS_2