
Abid langsung menekan Dinka di ranjang. "Mau bukti?"
"Bu-bukan begitu, Mas!" Mata Dinka melebar, tangannya menahan dada Abid yang mulai mengimpitnya. Dinka melengos, saat Abid mendekatkan wajahnya.
"Aku hanya bertanya." Dinka terengah sesak. "Aku cuma nanya!" Napas Abid mulai bisa dirasakan pipinya, dia sendiri mulai takut dan kembang kempis.
Raksasa Abid memang tak tertandingi. Dinka menyerah, tekanan tubuh jumbo Abid membuatnya lemas.
Dinka kelabakan cari alasan. "Kata Mama Resti Mas itu impo ten, makanya Mbak Olla mundur!"
Abid tercengang.
"Apa? Mama?!" Jelas dia tidak percaya. Nggak mungkin Mamanya bilang begitu, kan? Apa Olla juga tahu dari Mama Resti?
"I-iya!" Dinka terbata, "sehari sebelum kita ketemu kemarin, Mama Resti datang dan bilang begitu! Kalau enggak dari Mama, aku tau dari siapa emangnya?"
Abid menarik dirinya, duduk kembali setelah menempatkan itu yang sedikit mengeras agar terasa nyaman. Ehm, sebenarnya akhir-akhir ini—tepatnya ketika dia merencanakan bulan madu, itu kerap mudah terang sang. Hanya membayangkan bagaimana bulan madu saja, Abid sudah tak keruan.
Dinka duduk dan memeluk bantal. Menyisir ke belakang rambutnya yang lembut seperti iklan sampo lain itu dengan jarinya yang gemetar.
"Mama bilang Olla batalin pernikahan karena aku impo ten, begitu?"
Dinka mengangguk cepat. "Iya!"
__ADS_1
Dia menatap Abid. Sepertinya ada sesuatu yang tidak benar. Tapi Dinka menyangkalnya. Orang gila pasti dia ngaku waras. Abid juga kan? Dia impo ten tapi ngaku perkasa.
Sesaat setelah itu, Abid menatap Dinka lurus. Entah apa yang di pikiran pria itu, tapi jelas dia telah menggenggam sebuah kesungguhan.
"Kamu percaya?!"
"Iya ... emang aku mesti ragukan apa, Mas? Yang bilang Mama kamu sendiri. Wanita yang lahirin kamu." Dinka menggigit bibir. Cemas.
"Terus kenapa kamu mau nikah sama aku kalau aku kalian duga nggak bisa muasin wanita?!" cedar Abid.
Dinka memeluk bantal makin erat. Apa sudah waktunya spill alasan ke Abid? Itu kan rahasia perusahaan.
"Aneh kan, kalau kamu tau kenapa aku gagal nikah karena itu tapi kamu nekad jadi pengganti Olla, tanpa syarat apapun?!" Abid mengendik curiga.
"Anu ... itu ...." Dinka beneran takut sekarang. "Aku—"
"No-no!" Dinka menyangkal semua itu. Bola matanya bergerak ke kiri. "Aku ada alasan sendiri. Bukan karena mereka, bukan juga kasihan, em—"
"Oke, kalau gitu aku anggap kamu adalah wanita yang berdoa agar aku gagal nikah!" Abid menyimpulkan, membuat Dinka membulatkan matanya. "Kamu pasti sudah suka sama aku sejak pertama ketemu waktu itu! Jadi, aku rasa semua orang butuh bukti, agar siapapun, baik Olla, Mama dan siapa saja yang berpikir aku impo ten, tau siapa Abid sebenarnya!"
"Nggak!" Dinka menjauh. "Jangan lakukan itu, Mas!"
"Aku harus, Dinka!" Abid menarik kaki Dinka hingga wanita itu tergolek di bawahnya seraya menutup muka dengan bantal.
__ADS_1
"Mas, Dinka mohon ... jangan! Ini tuh bukan ajang pembuktian! Aku-aku nggak butuh ituan sama kamu! Udah, aku percaya sama kamu, aku bisa terima kamu!" Demi apapun, Dinka menyesal terjebak sejauh ini. Dia jaga jarak percuma, dekat-dekat juga nggak ada beda. Abid suaminya. Dia berhak sepenuhnya.
"Kata kamu, kamu bisa diajak kerja sama, suka dan duka ... ini apa? Kamu bahkan sudah ingkar dua poin. Denda 2 M loh!" Abid menyeringai. Kini dia paham plot ciptaan Dinka. Pikirnya, dialah yang akan ingkar sehingga Dinka beroleh untung, begitu? 2 milyar itu pasti bisa memakmurkan hidupnya sampai 7 tanjakan, 8 turunan.
Ingkar 1 poin, 1 milyar. 6 poin? Wah! Sultan dadakan gak tuh si Dinka!
Abid mengiyakan 2 Milyar, sebab se ks lebih mudah ketimbang Dinka harus cari uang sebanyak itu buat bayar ganti rugi, kan? Dan dia sehat. Dulu iya, dia terlalu sedih, terlalu sakit, kehilangan, depresi, sampai organnya sempat loyo beberapa bulan. Abid bahkan tidak punya gai rah hidup lagi saat itu.
Jadi jangankan berdiri, terang sang pun tidak bisa kan? Wajar dokter khawatir saat itu dan dia ingat kata dokter kalau dia terancam impo ten. Saat itu, Abid tidak peduli apapun.
Semua orang terluka, wajar jika berduka. Setiap manusia punya cara sendiri untuk berdamai dengan kesedihannya.
Abid orang yang lama sekali berdamai dengan lukanya. Tapi sekarang dia baik-baik saja. Dia sehat, hanya memang susah membuka hati. Olla adalah cara dia move on, yang sayangnya harus kandas oleh pikirannya sendiri.
"Mas, aku tuh takut hamil dan melahirkan," jawab Dinka akhirnya. Dia jelas melanggar apa yang dia ucapkan sendiri. Saking malu karena alasannya yang konyol, Dinka menutup muka dengan bantal sampai tak terlihat ujung poninya.
"Bisa kok dibuat nggak hamil," balas Abid seraya menunduk ke telinga Dinka yang terhalang bantal. "Coba aja dulu ... dua atau tiga kali! Tapi paling bagus sebulan—"
"Yaaak!"
*
*
__ADS_1
*
MP gak nih? 🤣🤣🤣