
Yang pertama kali ingin Dinka lakukan setelah sembuh adalah berenang bersama Arion. Anak gembul tampan itu senang memakai pelampung dan memercik air hingga seluruh kepalanya basah. Kemarin, dia hanya bisa melihat saja, Baby Ion berenang dengan Sus Heni dan instruktur. Duh, Dinka gatel pengen ikut nyebur.
Namun, karena Dinka enggan berenang dengan jutaan pasang mata melihat, jadi dia menginap di sebuah villa. Meski sebenarnya dia suka villa dengan view pantai, tetapi keinginannya yang tak terbendung ini, memaksanya menginap di villa tak jauh dari kota ini.
Sebenarnya, masih banyak saudara Papa Anton dan Mama Resti yang mengabarkan kondisi Dinka, tetapi Dinka mengarang banyak alasan agar bisa segera mewujudkan keinginannya tersebut. Sehingga siang ini, Dinka sudah sibuk berdandan agar bisa sampai di villa lebih awal.
"Arion udah siap!" Bee tergopoh datang dengan Baby Ion di gendongan. Bee yang badannya kurus sedikit kepayahan dengan bobot tubuh Arion.
Ia meletakkan Arion di ranjang, sejenak menarik napas.
Dinka tersenyum dan segera mendatangi Bee.
"Udah pinter aja nih, Kakak dandani adiknya," komentar Dinka seraya mengusap kepala Arion. Mata Dinka terpaku ke Bee yang mengusap tengkuknya.
"Aku ... lebih suka dipnggil Abang." Bee salah tingkah dan canggung. Jujur saja, kecuali darurat Bee masih jarang bicara dengan Dinka. Walau kadang bibirnya suka kelepasan menyebut "Mi" pada Dinka. Dia masih terus ingat bagaimana sikapnya juga perasaannya ke Dinka dulu. Dia malu sekali jika ingat.
Pria kecil yang kini sudah jauh lebih lunak itu menolak membalas tatapan Dinka. Justru dia senang menatap ke arah lain.
"Oke, deh ... Mami akan panggil dengan sebutan Abang," jawab Dinka tanpa pikir panjang. Walau dia agak gimana gitu pas manggil orang dengn sebutan Abang. Misal Abang bakso, Abang somay, Abang tambal ban, hehehe. Tapi Dinka tidak tertawa, pasti Bee akan tersinggung nanti.
Bee menoleh karena terkejut. Permintaannya dikabulkan secepat kilat.
"Tapi dengan satu syarat." Dinka melanjutkan seraya tersenyum
Bee langsung kecewa. Pasti syaratnya berat.
"Bee harus lebih deket sama Tante Dinka, harus mau meluk Tante, mau ngobrol sama Tante, mau berbagi cerita sama Tante ... kalau Bee nggak mau, Tante nggak mau manggil Bee abang. Gimana?" Dinka berkata riang dan penuh senyum.
Mata Bee berbinar. "Se-serius—hanya itu?!"
__ADS_1
"Ya ... hanya itu saja." Dinka puas melihat ekspresi Bee yang sungguh terkejut tersebut. "Mudah, kan?"
"Tapi—" Dia malu, canggung, merasa tak pantas. Bukankah dia anak yang buruk selama ini? Jadi pantaskah dia mendapat ibu angkat yang baik begini? Oh, sungguh dia tidak tahu diri kalau begitu.
"Berat, ya ... deket ke Tante kaya deket sama Tante Olla? Kamu tau nggak Bee, Tante iri loh sama Tan—"
"Aku nggak deket sama Tante Olla, Mi," sahut Bee cepat. Itu fitness, eh fitnah. Tidak ada yang namanya dekat dalam hubungan antara Bee dan Olla. Hanya Bee mengatakan dekat karena dia ingin membuat Dinka marah. Baiknya Olla hanya pura-pura, jadi bagaimana bisa Mami Dinka iri pada Tante Olla?
Bee tampak emosional mengatakannya. "Aku dulu malah nggak suka sama dia, sampai aku sering jailin dia."
"Serius?!" Dinka takjub. "Tapi itu nggak mungkin kan, kamu selalu bela dia dulu."
"Nggak!" Bee menggeleng kuat. "Aku nggak suka sama pacar Papa."
"Tapi sama Tante—?!"
"Sama Mami aku sayang banget—"
"Ma ... mi," ulang Bee terbata dan ragu. Namun melihat mata Dinka yang terlihat bahagia, Bee ingin mengatakannya tanpa ragu. Sekali lagi. "Aku sayang Mami Dinka!"
Dinka langsung meraih Bee dalam pelukan. "Mami juga sayang Bee. Sayang banget."
Ia mengecup kepala Bee berulang-ulang. Bahkan Arion tertawa melihat Abang dan Mami nya saling memeluk. Celotehan bayi itu membuat Dinka tersenyum bahagia.
"Ion suka lihat Mami sama Abang pelukan?" Dinka bertanya pada Arion yang menendang udara dan berbicara tak jelas.
"Maafin Abang ya, Mi ...."
"Mami juga minta maaf kalau ada salah sama Abang." Dinka melerai pelukan, menatap wajah kecil Bee dan menangkup pipi. "Kita mulai dari awal, ya, Bang. Mami ingin semua yang terjadi di masa lalu dilupakan. Kita hanya belum kenal, bukan tidak mau sayang atau berniat saling menjahati. Oke?!"
__ADS_1
Bee mengangguk, lalu memeluk Dinka lagi. Lebih erat, lebih lama. Bahkan sampai napas Dinka engap, dan Arion mulai lelah dan mengantuk.
"Abang ketiduran ya? Lama bener meluknya? Itu Ion udah capek tiduran." Dinka mengatakan kebenaran. Dan Bee yang larut dalam rasa hari dan bahagia pun melepas pelukannya cepat-cepat.
"Maaf, Mi!"
Bee mengalihkan perhatian ke Arion dan menggendongnya. Ya ampun, dia kelewat ingin memeluk Dinka dan sudah terlalu lama menahan diri agar tidak berdekatan dengan Dinka, jadi dia sampai lupa diri.
"Mami siap-siap aja, Ion biar sama Sus Heni dan aku." Bee mengambil Arion cepat-cepat. "Kami tunggu di mobil, Mi!"
"Hah?!" Dinka kaget. Tapi dia ingin ke Villa berdua—bertiga saja, sambil bulan madu lagi. Ini kok ....
Malah rombongan. Ya ampun. Gagal bahagia dengan bercinta di mana-mana kalau anak-anak ikut.
Belum reda syok Dinka, terdengar suara orang berlari dari luar.
"Ante ...!"
Suara itu muncul berbarengan dengan Dinka menoleh ke pintu.
"Ace udah siap, udah sama pengasuh dan Jenna di bawah! Ace pinjam mobil Opa yang jauh lebih gede, biar muat banyak orang!"
Dinka nyaris terguling. Tuhanku, apa-apaan ini? Ace sudah siap dengan ransel kesayangannya. Bahkan dia tersenyum ke arah Bee.
"Opa, Oma, Mami, Papi udah booking Villa sebelah Ante, jadi kita bisa liburan bareng."
"Hah?!"
Dinka tidak bisa berword-word lagi, selain menganga hingga dagunya jatuh menyentuh kaki. Matanya hanya bisa mengedip berulang. Astaga.
__ADS_1
"Ide Ace bagus, kan, Ante?"
Wastagaaaa ... dasar bocil kematian ep-ep.