
Sepanjang jalan, Dinka tidak memikirkan apa-apa selain rasa sakit yang luar biasa, tetapi dia tersenyum melihat Abid yang menatap jalanan begitu serius. Tangannya sesekali mengusap perut Dinka, memintanya bersabar. Mata pria itu basah, rasa cemas tak bisa lagi Abid sembunyikan.
Tapi dia kan dokter? Bukankah harusnya dia lebih tenang? Memeriksa dulu keadaan istrinya, baru dibawa ke rumah sakit. Ini? Bahkan dia lupa kalau takut mengemudi? Jangan-jangan dia juga lupa kalau seorang dokter?
Dinka tersenyum diantara rasa sakitnya. Senang rasanya bisa membantu suamunya pulih.
"Sabar, ya, Sayang ... kita hampir sampai! Aku udah telpon UGD, udah minta disiapkan ruang penangangan. Udah minta Dokter Tiwi dan timnya berjaga!" Abid melihat senyum Dinka sebagai tanda yang lain. Dia takut kalau senyum itu senyum untuk malaikat yang hendak menjemput istri dan anaknya. Astaga, jangan!
Abid memegang tangan Dinka, dan menambah kecepatan agar mereka bisa sampai lebih cepat.
"Tolong jangan lagi, Tuhanku! Mungkin jika ini terjadi lagi, lebih baik Kau matikan aku saja!" batin Abid.
Abid menangis hingga bahunya berguncang. Sungguh dia tidak sanggup harus kehilangan sekali lagi.
"Bertahan, ya, Sayang-sayangnya Papa!" Abid menciumi tangan Dinka berulangkali. "Maafin Papa, maafin Papa!"
Ia merasa tak berdaya. Sumpah.
"Mas fokus aja. Aku hanya akan melahirkan dalam waktu beberapa jam lagi." Dinka mencoba tersenyum. Ia tahu kalau hanya ada dua kemungkinan atas keadaannya kini. Hidup atau mati.
Bersamaan dengan itu, Abid terganjal lampu merah. Ia mengumpat kasar, sangat kasar.
"Lampu merah sialan!" lanjutnya usai menyebut seluruh umpatan yang paling buruk. Kaki Abid bergerak gelisah, sampai Dinka terganggu dengan gerakan kaki Abid. Tapi dia diam saja.
Saking kesalnya, ia menyalakan tanda bahaya. Agar pengemudi di depannya memberi jalan, tetapi nihil, pengendara motor nekat memenuhi jalan Abid.
__ADS_1
"Shyyyit!" Abid memukul setir kemudi lalu membuka kaca jendela. Ia melongok keluar.
"Woey, minggir!" teriak Abid. "Istriku pendarahan!"
Sayangnya, mereka hanya menoleh saja, lalu kembali cuek menghadap depan. Namun, salah satu pengemudi ojek online, ngeh akan keadaan Abid, lalu dengan sadar turun dari motor dan meminta puluhan pengendara motor memberi jalan pada Abid.
Abid melongo saat diberi aba-aba oleh pengendara ojek online tersebut.
"Maju terus, Pak ... akan saya kawal sampai tiba di rumah sakit." Abid mengangguk.
"Makasih, Mas."
"Sama-sama, tetap hati-hati, ya, Pak! Semoga istrinya bisa segera tertolong."
Abid kembali mengangguk, namun tak lama kemudian, lampu sudah hijau. Bisa dimaklumi seharusnya, sore begini biasanya jam pulang kantor, wajar kalau semua orang ingin segera pulang dan melepas lelah bersama keluarga atau pasangan.
Ia langsung turun dan berlari menggendong Dinka yang tangannya terasa dingin juga basah oleh keringat.
"Ya Allah, Sayang ... kamu nahan sakit sampai begini!" Abid menahan isaknya.
"Siapkan brankar!" Abid berteriak, meski beberapa petugas sudah membawa ranjang dorong tersebut ke arah Abid.
"Dorong hati-hati! Langsung bawa ke ruang penanganan!" perintah Abid, "Dokter Tiwi mana? Tadi sudah aku suruh standby!"
"Beliau menolong persalinan, Dokter!" jawab seorang perawat yang membantu membuka jalan untuk Dinka.
__ADS_1
"Sudah hampir 15 menit istri saya pendarahan." Abid menjelaskan dengan suara panik dan tersengal. "Cepat lakukan tindakan untuk istri saya. Kemana saja sih, Dokter jaga di sini? Bukankah sudah aku telpon tadi?"
Kesal sekali Abid, sebab dia sedang tidak bertugas, dan apapun yang dia ucapkan, penanganan kondisi Dinka bukan menjadi wewenangnya.
"Mas, jangan teriak! Mereka udah dengar, kok."
Abid menarik napas, lantas beristigfar.
"Maafin Mas ya, Din." Abid menunduk. Ia kembali menangis melihat bagian depan rok Dinka yang sudah berwarna merah tua.
"Udah jangan gitu. Aku yang minta maaf, kalau selama ini bikin Mas repot." Dinka mengusap kepala suaminya. Bibirnya terasa kering. "Aku haus, Mas."
Abid tersentak lalu menoleh serampangan untuk mencari minum untuk Dinka. "Mas cari sebentar, dan kamu jangan kemana-mana."
"Iya, Mas." Dinka sempat tersenyum. Dia sengaja mengalihkan perhatian Abid dari kepanikan akan dirinya.
"Mas akan cepat." Seakan Abid tak rela meninggalkan Dinka. Ia melepas tangannya begitu berat.
"Maaf, Mas ... Tapi aku nggak kuat." Dinka kemudian menangis dan mengaduh keras.
"Tolong ini sakit!" Segera dokter jaga memanggil Dokter Tiwi.
"Dokter, Bu Dinka sudah sampai!" Lantas ia menjelaskan kondisi Dinka secara lengkap sesuai dengan pemeriksaan awal.
"Dokter, aku nggak kuat lagi!" Dinka merasa kakinya semakin lemas walau terasa panas. "Dokter!"
__ADS_1
Rasanya, dia ingin mati saja. Ini menyakitkan!