
Untuk pertama kali, Olla melihat senyum di wajah Alvin sejak pertama kali melihatnya. Pria itu barusan menyejajarkan posisi dengan Olla yang berdiri bak patung di halaman kantor catatan sipil. Olla sedang memikirkan sesuatu. Meski masa depan yang pasti hanyalah kematian, tapi Olla ingin sebelum ajal datang, dia melakukan sesuatu yang benar.
"Hotel mana?" Olla melirik sekilas pria ini seraya menghembuskan napas. Wajah Alvin yang begitu itu—polos dan tampak bodoh, sebenarnya membuat Olla tak tega menjalankan rencananya, tapi mau bagaimana lagi kan?
Olla sudah tahu sejak awal apa alasan Alvin mau menikahinya tanpa syarat dan banyak bicara yang memusingkan. Tapi Olla mendiamkannya, sebab dia tidak merasa Alvin perlu bicara jujur apapun motivasinya.
"Untuk apa?" Suara pria itu berat, indah sebenarnya. Miriplah sama tipikal suara Abid, tapi ... beda bentuk fisik.
"Kita baru saja menikah, apa kau lupa?" Olla menoleh. "Aku tidak mau langsung serumah sama orang tua kamu."
Olla kembali menatap halaman kantor catatan sipil yang begitu terik ini.
"Aku tidak mempersiapkan sejauh itu, tapi kalau mau kamu itu, kita check-in sekarang!"
Olla mendenguskan tawa mencibir. "Tidak usah repot mempersiapkan sesuatu yang berkesan untuk aku, sebab aku tidak seistimewa itu."
Alvin mengerutkan kening, menatap Olla bingung. Kedengarannya seperti sindiran. Pernikahan ini mendadak, tapi Alvin sama sekali tidak bermaksud tidak menghargai Olla.
Olla menarik napas dalam. "Aku tidak seberarti akta nikah di tanganmu itu, Vin ...!"
Dengan berani, Olla memutar badan hingga dia bisa berhadapan langsung dengan mata Alvin. Pria itu gugup dan tegang ditatap begitu berani dan lugas.
"Karena kamu hanya butuh pernyataan resmi dari lembaga negara, bukan aku ... benar, kan?"
__ADS_1
Alvin terkejut mendengar itu, sampai dia tidak bisa menyembunyikannya sedetik saja.
Olla tertawa kecil melihat reaksi Alvin. "Aku tau semuanya, Vin ... karena aku nggak mungkin kesini tanpa pengetahuan apapun soal kamu."
"Jadi apa mau kamu, Olla?" Alvin merasa tidak perlu lagi menutupi atau basa basi yang sungguh basi.
"Warisan kamu, bagian kamu, sudah bisa kamu ambil sekarang, kan?" Olla menghadap ke halaman perlahan. "Kita check-in sekarang selagi menunggu surat sah dari pengacara keluargamu keluar!"
Dengan begitu getir Olla sedikit tersenyum ke Alvin, "Apa kau tidak ingin bercinta denganku?"
"Aku cukup memuaskan meski tidak begitu mahir!"
Alvin tidak bereaksi sama sekali, malah mengantongi kedua tangannya, lalu berjalan mendahului Olla dengan napas besar dan dada sesak. Langkahnya pun terayun lebar.
***
Bukan hotel paling mahal, tapi cukup nyaman. Pria ini sepertinya tahu bagaimana bosannya menunggu, jadi menyiapkan segala sesuatunya demi kenyamanan mereka berdua.
Dan, selagi menunggu tim pengacara Alvin tiba, mereka benar-benar bercinta. Olla membiarkan Alvin mengambil hak istimewa sebagai suaminya.
Dan, untuk pertama kali, Olla bisa mengakui, Alvin cukup prima. Bahkan Olla tak bisa pura-pura menikmati. Alvin cukup teliti memperhatikan respons tubuh Olla.
"Tidak perlu bangun, Ayah dan kakakku sudah mengutus pengacara mereka kemari!" Alvin memakai bajunya setelah mencabut miliknya dari tubuh Olla.
__ADS_1
Pria itu mengambil bir dan rokok, membiarkan kerah baju putih itu tetap berdiri dan kancingnya tidak terkait.
"Berapa persen yang kamu minta?" Alvin menyelipkan batang rokok ke bibirnya, lalu menyalakannya.
Olla menarik selimut menutupi dada. Ia sama sekali tidak tahu Alvin akan berkata demikian, jadi dia tidak menjawab. Malah asyik memerhatikan postur Alvin yang cukup bagus.
"Bisnis tetap bisnis walau terbalut dalam pernikahan. Dan aku tidak bisa membiarkan partner bisnis ku merugi banyak." Alvin menarik rokok dari bibirnya, mengepulkan asap putih pekat ke ruangan ini. Ia memunggungj Olla. Pikirannya berkelana.
Melihat Olla yang diam, Alvin tahu bahwa Olla sama sekali tidak menginginkan apapun darinya. Mungkin Mamanya tidak menginformasikan keuntungan apa yang akan didapat jika setuju menikah dengannya.
"Tidak usah sungkan! Sebutkan berapa dan apa, nanti aku akan mengurusnya."
Alvin memutar badan, menatap Olla yang terdiam.
"Kau benar, kau sangat memuaskan." Pria itu terkekeh pelan. "Aku tidak bisa mengabaikan pengalaman ini, kan? Mungkin, dari sepuluh, kamu 9,9 nilainya."
Bilang saja dari 10 wanita, dan dia wanita paling baru yang bercinta dengannya.
"Beri saja aku apa yang ada di dompetmu!" Olla bangkit. "Aku tidak boleh serakah sebagai istrimu! Isi dompet suami lebih berharga dari semua harta di dunia."
Olla berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun. Dia harus tetap berpura-pura biasa seperti ini dengan pria. Rasanya, Alvin terlalu baik mendapatkan dirinya yang senantiasa menjaga diri. Hah, meski Alvin bukan yang pertama, tapi bagi Olla tidak semua pria yang menjadi kekasihnya harus menikmati tubuhnya.
Sejujurnya, hanya pada Abid dia berharap sangat banyak dan tinggi, tapi mungkin Abid punya prinsip yang sama dengannya.
__ADS_1
Menjadi kekasih bukan berarti boleh saling membuka pakaian.