
"Serius, Mbak Mel?!"
"Iya, Jeng Hana, saking nggak sabarnya Alvin, sampai dia minta nikah hari ini juga." Melia tersenyum bangga di hadapan teman arisannya. "Jadi ini tuh cuma bentuk rasa syukur saya... tau kan Olla itu susah banget di suruh menikah. Padahal saya sudah gatel pengen nimang cucu."
Mereka—10 orang membenarkan. Kenyataannya diantara mereka hanya Melia saja yang belum menikahkan anaknya.
"Tapi Mbak, kok nggak dipestain? Alvin Perkasa loh suaminya?!" Narita sedikit heran. "Bukannya kalau nikah dia jadi Direktur Utama di Andika Utama Tambang?"
Melia tertawa kecil, lalu menarik sesuatu dari tasnya. "Ini titipan dari Alvin Perkasa Utama, buat Jeng semua."
Ia menyodorkan kwitansi yang dibubuhi tanda tangan Alvin. Meski terkesan kuno, tapi ini terlihat lebih menyakinkan.
"Dikit, Jeng ... Alvin juga masih merintis meski dia punya perusahaan sendiri." Terdengar rendah hati tapi 25 juta per orang sebagai ganti pesta, rasanya Melia keterlaluan.
Semua orang saling pandang.
"Emmm ... awalnya saya hanya nulis 10 juta saja, tapi oleh Alvin dirobek dan di suruh ganti—ekhem!" Melia menutup mulutnya dengan tangan dan menunduk.
Mereka menelan ludah, saling pandang lagi dan kemudian mengangguk.
"Kami bukan mau uang, Mbak Mel ... tapi kami ingin gantian bantu Mbak Melia—"
Melia terlihat tidak suka. "Aiyooo, aku ingin sebenarnya tapi Olla tidak mau, dan aku nggak bisa maksain keinginan aku ke Olla. Dia sudah cukup tertekan dengan hubungannya yang lalu."
"Tapi Mbak—"
"Sudah, tolong ambillah!" Melia membagikan lembaran kwitansi ke tangan mereka. "Cairkan secepatnya, aku tidak enak hati sama Alvin. Takutnya, dikira aku nggak kasih ini ke kalian!"
Mereka menerima dengan tatapan kosong. Satu saja dalam pikiran mereka; Olla pasti yang paling menderita di sini. Ya, semua tahu bagaimana sikap Melia kepada Olla. Kasihan sekali anak itu.
"Mbak, kami bukan menolak, tapi ini berlebihan ...."
Melia menatap mereka bingung. Ia masih memegang dua kwitansi yang akan dibagikan ke dua orang terakhir. Lantas ia duduk dengan pandangan penuh tanya.
Narita sebagai juru bicara menunduk. "Kami terlihat seperti pengemis yang dengan mudah menerima pemberian dari pacar Olla. Kami—"
"Ini bukan kemauan saya sendiri, Narita! Alvin yang memaksa saya." Melia tersinggung. "Saya sudah menolak, tapi Alvin terus mendesak, dia minta maaf karena tidak bisa mewujudkan keinginan kalian mengadakan pesta. Alvin belum ada waktu."
"Kami mengerti kalau Alvin sibuk, tapi kami nggak minta uang sebanyak ini sebagai kompensasi."
__ADS_1
"Ya, Mbak... saya pikir, resepsi diadakan beberapa bulan lagi. Kami siap menunggu."
"Sudahlah ... aku hanya menyampaikan saja, kalau kalian mau menolak, bilang ke Alvin sendiri! Saya permisi."
Melia berdiri dan meninggalkan meja dengan muka kesal. Dasar emak-emak tidak tahu diri, bilang saja kalau nominalnya terlalu kecil!
Semua orang saling pandang. Lalu Narita mulai bicara lebih dulu.
"Mbak Melia keterlaluan nggak sih?"
"Kakak iparnya Alvin bilang, maharnya Olla hampir satu miliar, dan Mbak Mel minta rumah juga uang bulanan seratus juta. Dan uang ini, aku dengar Mbak Melia minta untuk penalti di rumah sakit tempat Olla kerja dulu. Tau kan, Mbak Mel bilang kalau Olla terpaksa mengundurkan diri karena tidak tahan difitnah terus sebagai pengganggu rumah tangga Abid?'
Mereka mengangguk.
"Olla katanya hanya dimanfaatkan Abid sebagai tameng saja. Tapi kelihatannya, Olla tidak sebodoh itu deh!"
Hana menatap mereka semua bergantian. "Dan Abid sekarang punya anak, jadi menurutku, Olla sedang menyelamatkan lelaki yang dicintainya agar tidak terjebak dalam pernikahan toxic."
"Mbak Melia pasti bohong soal Abid impoten ... yang sebenarnya adalah, Abid tidak sekaya Alvin!" Narita menyimpulkan.
"Itu kata-kata yang paling pas."
***
Bukan di kamar Alvin, melainkan di kamar lain yang dipesan oleh Ayah Alvin dan Kakaknya, mereka melakukan serah terima atau apa. Jadi ketika Olla selesai dari kamar mandi—sengaja berlama-lama, Alvin sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan memegang akta nikah.
"Ada yang salah?" Olla melihat gelagat kemarahan di mata Alvin. Dia melongok ke samping dan tidak ada siapa-siapa di sana.
"Mana ayah dan kakakmu?"
Alvin mencampakkan akta tersebut dengan kasar ke lantai, lalu menarik Olla dan langsung dibelit dengan pelukan dan ciuman yang ganas.
"Akta nikah tanpa mempelai wanita bukan bukti yang kami mau, Alvin!"
Kalimat itu menggema di kepala Alvin saat merenggut bibir Olla begitu ganas.
"Bawa dia ke rumah malam ini, lalu pastikan dia mengandung dalam waktu dekat! Dengan begitu, Andika Utama Tambang menjadi milik kamu, sepenuhnya!"
Sial! Alvin tidak berpikir sejauh itu, keluarganya akan menekannya. Dia sudah habis banyak untuk Olla. Dia sudah habis-habisan mendapatkan perusahaan itu, tapi mereka ternyata lebih licik.
__ADS_1
"Vin—mmph!"
Olla harus hamil! Dia sudah membeli wanita ini dengan jumlah yang tak terhitung nilainya.
Alvin mengabaikan suara keberatan Olla.
"Vin—aaaahh!"
Alvin membanting tubuh kurus Olla ke ranjang hingga terpantul.
Olla ketakutan dan berusaha menjauh mundur, tetapi Alvin dengan sigap meraih kaki Olla dan membukanya lebar. Tak sabar, Alvin hanya menurunkan sedikit celananya, lalu memasuki Olla yang terus meronta.
Ia marah, kecewa, dan frustrasi. Dia butuh pelampiasan. Olla adalah tempatnya.
"Arrrghh, Vin ... sakit!" Ketika benda itu masuk, Olla merasakan sensasi tersayat yang terasa perih. "Arrrgh!"
Ya Tuhan, pria ini seperti monster!
***
Tidak tahu berapa lama Alvin tertidur setelah membuat jalan lahir milik Olla bengkak dan berdarah. Tahu-tahu, sudah gelap saat membuka mata. Ruangan begitu gelap dan sepi.
"Olla!"
Alvin menajamkan telinga. Tidak ada sahutan atau suara sedikit saja yang mengindikasi Olla ada di sini.
"Olla?!"
Alvin berdiri lalu menyalakan lampu. Ia menatap ranjang dan sofa, dimana Olla meletakkan tasnya.
"Kemana wanita itu?!" Bergegas ia menuju kamar mandi dan dia tidak menemukan siapapun di sana.
"Sial" Alvin berlari ke arah meja lampu untuk mencari ponselnya. Namun, justru ia melihat dompetnya terbuka dan isinya berceceran.
"Dompet suami jauh lebih berharga dari semua harta di dunia!"
Alvin bergegas mengambil dompet tersebut, pikirannya kacau. Bersamaan, jatuh kertas dengan tulisan besar-besar.
"Bye, Suami!"
__ADS_1
"Shiiiit!" umpat Alvin seraya meremas kertas tersebut.