
Setelah ciuman kemarin itu, Dinka menjadi pendiam. Masih jelas dirasakannya jantungnya seperti mau lepas. Dia berdebar-debar tak karuan hingga kakinya terasa lemas, badannya panas dingin. Sejujurnya, bukan soal ciumannya, tapi alur yang terjadi setelah ciuman maut Abid menyerangnya. Pasti ke sana.
Belum lagi tatapan Abid yang menyeramkan itu. Hah, mending ketemu poci sajalah. Paling dibacain doa, langsung kabur.
"Mulut kamu kalau bicara terus, akan aku cium sampai kamu lemas bahkan pingsan kaya kemarin! Ingat, Dinka ... kamu udah setuju satu saja syarat dariku! Aku bisa ambil kapan saja aku mau!"
Begitu ancam Abid kemarin. Jadi Dinka pilih diam, sesekali bibirnya bergerak saat dia harus mengeluh. Bahkan ketika Abid memerintah, Dinka hanya menuruti tanpa banyak cingcong seperti Dinka biasanya.
Termasuk hari ini, Abid meminta Dinka mematikan ponsel. Untuk apa? Jelas untuk membuatnya diam. Walau itu untuk urusan pekerjaan, Abid tidak peduli. Dinka pergi tanpa persiapan, jadi wajar kalau kelabakan, kan? Abid kedengaran egois, tapi Dinka lebih baik menuruti, daripada dia dibikin hamil sama pria itu. Menahan bicara selama Abid sakit, jauh lebih baik daripada harus berakhir mengerikan.
Sekali lagi, bayangan Jen yang mirip orang kurang waras saat dipaksa untuk tes ini itu, sampai raut ketakutan Jen saat mendengar vonis bayinya akan digugurkan karena virus itu, hadir lagi. Dinka sudah senang kala mendapatkan suami abnormal, tapi kenyataan mengatakan hal lain. Kini, setiap detiknya, Dinka dilanda resah. Suaminya ternyata upnormal, atau kata Bang Boril, Di Atas Normal. Itunya! Bengek ga sih, hidupnya?!
Abid sudah tidak demam lagi. Sisa batuk dan pilek yang masih belum sembuh benar. Dinka memesankan bubur dari sebuah restoran sesuai yang Abid mau. Sayang pagi yang cerah ini, Abid belum mau bangun juga.
Dinka menggoyang badan Abid, berulang-ulang sampai tubuh pria itu berguncang. Wadah bubur yang dia pegang terpaksa dia jauhkan agar tidak sampai tumpah ke kasur.
Dinka berhenti, menunggu sejenak, lalu menepuk lengan Abid. Dia masih bungkam, meski sudah jam tujuh pagi, bubur sudah mulai dingin. Dinka yakin makanan ini nggak akan enak lagi saat dingin.
Tapi siapa peduli, yang mau makan saja masih ngorok.
"Ini yang terakhir!" batin Dinka.
Dinka mengguncang lagi lengan Abid, lebih keras, lebih bertenaga. Menepuknya, lagi, lagi, dan lagi.
"Mas!" Dinka menyerah. Berteriaklah ia di depan telinga Abid. Membuat pria itu membuka mata dengan cepat dan menoleh, sehingga kepala mereka saling membentur.
"Oouuh!" Dinka mengeluh saat bubur hangat itu tumpah ke bajunya. Mengabaikan betapa sakit benturan di keningnya. "Mas!"
__ADS_1
"Mau ngapain kamu?!" Dia melihat Dinka melotot dengan sebelah tangan mengepal, seakan siap meninjunya.
"Mau adu kepala sama Mas!" Dinka kesal. "Pake nanya lagi?"
Abid terkaget-kaget, sungguh tidurnya setelah subuh tadi terasa nyenyak. Mata pria itu melirik jam, setelah melihat wajah kesal Dinka.
"Makan tuh bubur kamu! Tadi minta itu!" Dinka mendorong wadah bubur ke dada Abid yang sisa setengahnya, sebelah tangannya sibuk mengusap kening. Pantas keras kepala, kepalanya sekeras batu rupanya.
Dinka beranjak ke kamar mandi dengan wajah dongkol. Kenapa Abid suka sekali membuatnya kesal?
Abid melihat kasur terkena tumpahan bubur, lalu menghela napas. "Astaga, kacau sekali sih, hidup ini!"
Dia segera beranjak. Dengan sabar dikemasnya seprei dan meminta ganti sprei baru dari pihak penginapan. Abid mengambil ponsel, lalu mengusap layar.
Dengan cepat, dia mengetikkan angka yang menjadi pin ponselnya. Namun, layar menyatakan pin salah.
"Apa-apaan ini?" Abid mengumpat gusar. Dia menoleh ke kanan dan kiri lalu segera ingat, kalau ponselnya di pakai Dinka kemarin. "Bocah itu kurang ajar sekali! kalau nggak suka paswordnya, minimal jangan diganti begini kan?"
Abid segera menuju kamar mandi dengan tatapan penuh amarah. Didobraknya pintu kamar mandi hingga terbuka lebar.
"Aaa ...!" Dinka menutup dadanya yang hanya terpasang kaca mata saja. Kakinya menghimpit segi tiga istimewanya.
Sisa mata Abid yang melebar, dan dadanya yang berdenyut kaget. Namun pria itu sok biasa saja. Dia melangkah lebih dekat, seolah apa yang dilihatnya tidak memperngaruhi pikirannya.
"Mas jangan kemari! Pergi!" Dinka mundur. Ketakutan, dan sibuk menutupi tubuhnya yang terekspose di hadapan pria.
"Ck, nggak usah mikir aku tertarik lihat badan kamu yang lurus itu, ya!" Abid berkata sinis, seraya mengulurkan ponsel. "Kamu ganti pinnya?!"
__ADS_1
Sekenanya Dinka berjongkok, lalu menerima ponsel Abid dengan menengadahkan wajah. "Nggak suka, ya?"
"Ck, aku cuma nggak tau aja kalau ganti!" Abid menatap Dinka dari atas, langsung menembus belah an dada Dinka yang menggembung.
Abid menelan ludah. Dia memang terang sang bila melihatnya tanpa sengaja seperti ini. Kendati Dinka berusaha menutupinya, tapi tetap saja itu terlalu nyata di mata Abid.
"Kirain nggak terima kalau tanggal jadiannya aku ganti!" Dinka langsung mengetikkan angka di ponsel Abid sehingga langsung terbuka.
Dinka tersenyum, lalu mendongak. "Eh, buju buneng!"
Dinka terjerembab ketika melihat celana boxer Abid membengkak. Matanya melebar, saking kaget dan syok. Tangannya sudah lepas memegangi penutup tubuhnya, sehingga terlihat seluruh bagian depan tubuh Dinka.
Abid menelan ludah, seraya membatin. "Sial memang! Kenapa lihat dada rata begitu aja sudah bangun, ya!"
*
*
*
Sori Midori ersa mayori makan cimory, aku br update. Kemarin libur soale lepi bututku heng😠ini pake hape, jadi gantian sama bocil yg sekarang lagi libur😢 jadi kalau gak malam bgt, ya pagi banget updatenya, ya!
Dan, aku baca ulang lagi ini Dinkes, soalnya outline lengkap ada di lepi😄 dobel sial ya🤣
Btw, makasih yg udah tetep stay tune sama Dinka-Mas Abid ya😘😘😘
Peluk jauh dr Icel😘
__ADS_1