
"Ngidam dong, Sayang ...!" Abid merengek sebab sudah menginjak empat bulan usia kehamilan, Dinka sama sekali tidak menunjukkan tanda ngidam.
Besok akan ada syukuran dan pengajian untuk acara 4 bulanan. Dinka sibuk melihat persiapan di rumah. Acara diadakan di rumah, sederhana dan Mama Resti ingin acara ini lebih intim dan sakral. Hanya mengundang keluarga besar juga rekan yang penting saja—keluarga Dirgantara maksudnya.
Dia duduk di sofa, ngemil kacang rebus, yang dipetik langsung di kebun milik Darren. Yang metik harus Darren, dan kakaknya itu ngomel sepanjang pagi hanya karena harus nyetir subuh-subuh ke perkebunan yang jaraknya sangat jauh.
"Lo hamil sama suami lo, kenapa mesti repotin gue, sih!" omel Darren seraya menyerahkan sekantung penuh kacang tanah yang benar-benar masih penuh tanah. Mukanya menyeramkan dan masam sampai teh yang diminum Dinka tadi pagi terasa basi.
Kemudian pria itu menatap perut Dinka dengan delikan luar biasa kesal. "Masih aer juga nyusahin! Pas keluar nanti, kita bikin perhitungan! Pertama kali lo harus ketemu sama gue! Denger baek-baek, ya!"
Dinka mengerucutkan bibir menahan geli. Kakaknya mendadak galak sejak Jen menjadi sangat manja akhir-akhir ini. Dia kelelahan, stress dan tertekan. Dinka melihat itu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ingat anak-anak lo nyusahin gue selama ini, ya ... ini hanya kacang, Ren! Lo gitu amat sama gue!"
Dan Darren hanya mendengkus sebelum pergi berpamitan ke kedua orang tua Abid. Anehnya, Darren jadi sumringah saat bicara dengan mereka.
Abid tahu kalau Dinka ingin Darren yang memenuhi keinginan ngidamnya, jadi dia iri sekali. Sudah ke taraf dengki yang rasanya ingin sekali menonjok Darren karena tidak diskusi dulu dengannya soal ini.
Sekarang dia memaksa ibu dari anaknya ini ngidam yang hanya boleh dituruti olehnya.
Sayangnya tidak bisa.
__ADS_1
"Mas Abid bantu pasang tulisan di tembok itu! Mas kayaknya nggak butuh tangga buat masang itu!" Hanya tulisan biasa, tapi kelihatan susah pasangnya. Dinka menoleh. "Aku pengen Mas yang masang."
Abid membuang muka. "Itu urusan mereka, dan bayi kamu nggak pengen banget aku begitu."
Dinka meraih lengan Abid yang duduk di sisinya. Dia menatap kulit kacang yang ada di pangkuan Abid sejak pertama kali mengupas.
"Suami lain kesel loh kalau istrinya ngidam yang aneh-aneh! Mas harusnya seneng."
"Mas ngerasa kamu tuh nggak serius anggap Mas suami kamu." Abid dongkol. Astaga. Dia tahu Dinka tidak seperti itu, hanya sedang sensi saja dirinya saat ini.
"Aku pikir dulu, deh ... mau ngidam apa. Aku nggak pengen apa-apa sejauh ini." Dinka melepas tangannya dan kembali mengupas kacang.
Dinka menulikan telinga dengan mengunyah kacang keras-keras. "Mas mau aku kupaskan? Kacangnya enak manis, kaya aku."
Dia menyodorkan biji kacang ke depan Abid yang langsung ditepis pelan oleh Abid.
"Mau cincin? Mobil? Ngusap kepala Dedy Corbuzier? Atau jambak rambut anak punk?"
Dinka terkekeh. "Mau kelonan saja, Mas ... mumpung pada sibuk."
Dinka meletakkan kaki di pangkal paha Abid, menggerakkan jempol ke arah organ Abid. "Aku ngidamnya enak kok, cukup Mas kuatkan stamina aja. Aku doyan nganu soalnya."
__ADS_1
Abid terperangah. Bukan dia kaget, tapi suara Dinka tidaklah pelan, jadi yang di sana—segerombol manusia yang mendekor ruang tamu, mendengar dan kompak berhenti dari pekerjaannya. Seperti di komando, mereka saling tatap dan bergerak sungkan.
"Mas nggak mau? Nggak mau enak-enak? Mudah loh, ngidamku yang itu." Dinka menaik turunkan alis, lalu meraba dada Abid, membuat Abid menelan ludah.
"Mari genepin 6 kali 24 jam, biar kaya minum parasetamol. Diminum 4 jam sekali, kalau panasnya belum turun."
Tawa tertahan orang-orang itu membuat Abid membungkam mulut Dinka. Astaga ... Dinka kamu kok diam-diam kaya gini, sih? Sagne an orangnya.
Tanpa babibu, Abid menggendong Dinka ke kamar. Ya ampun, malu sekali Abid di roasting bini sendiri.
"Mbak, beresin kulit kacang di sofa!" teriak Abid yang mengundang keheranan dari penghuni dapur.
"Mereka mau adu mekanik, udah jangan heran lagi! Abid jadi kaya orang gila, tiap libur!" Resti memecah keheranan semua orang. Apalagi yang ditutupi memangnya? Kelakuan anaknya terlalu kentara, kurang halus membuat alibi.
Mbak yang dimaksud termasuk pengasuh Bee dan Honey hanya menarik napas. Mereka tidak memikirkan apa-apa selain tak habis pikir. Apa tidak lelah mereka begitu terus. Pantas sampo jadi boros akhir-akhir ini, mereka berdua biang keroknya ternyata.
"Besok Mbak Dinka suruh potong rambut aja, Bu ... saya lelah harus bolak balik beli sampo khususnya Mas Abid."
Resti tertawa keras. "Nanti saya yang banyakin stok. Mereka lagi usaha buat bikin lahiran lancar. Nggak apa-apa."
Begitu saja mereka menyikapi. Gimana lagi hadapi pasangan bucin begitu selain ngalah dan pengertian.
__ADS_1