Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Gimana Anak Papa, Din?


__ADS_3

Dinka tidak setega itu sebenarnya, tapi apa mau dikata, dia sudah cukup sabar untuk ukuran wanita tidak sabaran dan ketebalan sabarnya tidak lebih dari satu mili meter.


"Mungkin Bee masih nggak terima kalau Olla tergantikan, tapi aku udah kasih pengertian ke dia, sesuai dengan jalan pikiran anak seusia Bee," ucap Abid kala itu.


Sayangnya, Dinka mengerti sekali dan maklum. Semua serba mendadak dan Bee luput dari perhatian. Mereka mengabaikan Bee.


Dinka menarik napas saat menuju tempat pembuangan sampah akhir. Di sana, biasanya langsung dihancurkan untuk didaur ulang, rasanya tidak sabar sekali untuk minta agar barang ini dicabik-cabik. Ya Allah, gemas sekali.


"Aku beli dengan uang yang aku hasilkan dari cucuran keringat, Dinka!"


Memangnya siapa yang tidak begitu?


Dinka berbalik malas dengan mata yang terlihat muak.


"Kamu nggak bisa seenaknya buang barang-barang ini!"


Bruk!


"Ambil balik sana! Jual lagi kalau perlu, biar modalmu yang tak seberapa itu balik!" Dinka pada akhirnya keluar sikap urakan yang sudah bertahun-tahun dia jinakkan.


Tas itu jatuh tersuruk di kaki Olla. Bahkan wanita itu kaget sekali. Mungkin tidak menyangka Dinka akan seugal-ugalan ini padanya.


"Balenciaga mungkin masih bisa kamu beli, Olla, tapi jam tangan itu, aku tahu harganya. Dan nggak mungkin kamu bisa beli cash, meski keluargamu cukup kaya!" Dinka tahu banyak, mengingat Jen dan Naja yang akrab dengan benda-benda bermerek itu.

__ADS_1


"Kamu pintar menebak, aku yakin kamu cari tahu dulu soal aku, baru dengan arogant kamu datengin aku!" Olla meremehkan. Dia pikir gadis ini memanfaatkan Abid untuk balik menyerangnya. "Hebat sekali!" tawanya menyindir.


"Kasih tepuk tangan dong," balas Dinka dengan senyum miring di bibirnya. "Balikin uang Mas Abid kalau gitu!"


Olla terperangah. Senyumnya hilang seketika. "Kamu—"


"Kan kamu minta balik, ya udah, balikin juga uang dari Mas Abid! Berapa puluh juta, sih? Kok kayanya berat banget kalau dibuang?" Dinka balik menekan.


"Tapi aku ikhlas kalau mau kamu ambil, itung-itung sedekah." Dinka terkekeh. "Tukar tambah aja di toko resmi biar didaur ulang dengan gaya yang Mbak Olla mau."


"Itu nggak sesimpel itu, Dinka!" Olla meradang. Kenapa juga dia mau ladeni Dinka, kan? Harusnya dia pergi saja, tapi wanita ini pintar sekali memancing emosi.


"Kamu aja yang buat ribet urusan ini, tapi emang sih, orang yang kesurupan pasti ngaku dia sadar sepenuhnya!" Olla membuang muka, malas mendengarkan Dinka. "Makanya nggak sadar diri, dan malah makin ngereog heboh bahkan memanfaatkan anak kecil!"


"Iya, Bee cerita semuanya, dan anak itu sedang dihukum Papanya berdiri dengan satu kaki dan tangan diatas kepala! Kamu tau kan, apa akibat kalau nggak bisa kontrol mulut?!" Dinka bohong sepenuhnya. Bee malah makin gencar menjauhinya. Tapi dia pikir, Bee butuh pendekatan dan tindak penyadaran yang lain. Kekerasan dan ancaman sepertinya tidak mempan sama sekali.


Setelah kejadian tadi saja, Bee bahkan menolak semua pemberian Dinka melalui Honey. Apalagi bicara, tidak pernah pastinya. Dinka sedikit tahu, Bee pasti malu dan gengsi mendekat lebih dulu.


"Bee yang salah paham—"


"Stop salahkan orang lain, Mbak!" Mata Dinka menangkap getar ketakutan di mata Olla. "Anak kecil kaya Bee nggak bisa dikasih tahu pake kode, kita harus jelaskan pelan-pelan. Bee jadi nakal karena kamu! Aku yakin kamu sengaja!"


Olla membuang muka. Napasnya satu dua dan gemetar.

__ADS_1


"Stop ya Mbak Olla yang cantik, atau saya bisa laporkan ke temen saya, agar Mbak Olla diberhentikan. Ingat ya, dikeluarkan dari sini, blacklist sudah jelas mengikuti meski tak ada yang keterangan soal itu! Mbak Olla—"


"Cukup!" Olla menolehkan wajahnya dengan cepat, menatap wajah Dinka. "Aku memang hanya mantan, yang buruk, yang hanya merepotkan, tapi aku sayang Mas Abid!"


"Telat, Mbak!" Giliran Dinka yang membuang muka ke arah lain dengan tawa mengejek yang sangat menjengkelkan.


Tangan Olla mengepal. Matanya melotot makin tajam. "Suatu saat aku pasti akan kembali, Dinka ... jangan sombong dulu!"


"Ya, semua orang berhak bahagia dengan ekspektasinya sendiri!" Dinka maju selangkah dan menepuk pundak Olla dua kali. "Tapi yang sadar diri dan pergi, mencari cinta lagi, justru menjadi manusia paling bahagia dan keren di dunia! Sesekali, gengsi digedein, Mbak ... kesannya Mbak Olla kaya nggak ada yang mau!"


Dinka mundur dan mengambil jalan lain. Sementara Olla hanya bisa menahan dadanya yang kian sesak. Rasanya jantungnya ingin lepas.


Keduanya saling bertatapan tajam.


"Bye, Sista!" Dinka melambai saat Olla berjalan menunduk meninggalkannya. "Astaga, apa aku keterlaluan sama dia, tadi? Tapi aku gemas pun, gimana dong?!"


***


"Gimana anak Papa Din?" Papa Anton baru sempat menjenguk, tapi yang dijenguk sedang ke lonan dengan Honey di ranjang. Lelap dan tampak tak terganggu.


"Enak—eh, maksud saya—"


Papa Anton tidak bisa berkiti-kiti lagi. "Papa balik dulu!"

__ADS_1


***


__ADS_2