
Dinka menuduk malu. Ya siapa yang enggak, gitu ...? Kalau hanya ada Mamanya saja, Dinka tidak akan sungkan langsung merangsek ke pelukan Mama Kira bahkan memanggilnya "Mamaira" dengan nada manja seperti biasa. Iya, Mamaira adalah singkatan paling ajaib yang pernah ada di dunia dan itu milik Dinka secara paten. Singkatan yang meluluhlantakkan hati mama sahabatnya itu sehingga dia menjadi anak lain di super rich family tersebut.
Ya, apa yang dipunyai Ranu, Dinka juga punya. Kira selalu membeli dua apapun yang Ranu inginkan. Dia ada anak lain yang merasa harus disamakan. Selucu itu Dinka memang. Kira tak keberatan sama sekali.
Namun di sisi Dinka, ada muncul rasa tinggi hati dulu. Tapi sekarang—terutama hampir 6 atau 7 tahun lalu, dia mulai tahu apa arti sungkan. Dinka merasa dirinya rumit. Mamaira adalah mamanya Ranu, temannya, sahabat bagai kepompong-nya, tak terpisahkan, sahabat selamanya, dan sebutan apapun itu pokoknya, yang begitu sayang padanya, sehingga sah baginya menerima barang dan uang pemberian ibu sahabatnya tersebut.
Tapi etapi ... setelah Jen merebut kakaknya dari Ranu—Dinka sepakat menyebutnya begitu, Dinka mulai mundur. Mulai sedikit mengambil jarak. Dia merasa kalau dia jahat ketika dua wanita itu anak dari Mamaira. Satu disayangi, satu dibenci bahkan Dinka sempat ingin istri Kakaknya itu lebih baik mati.
Keadaan menjadi sangat runyam dan Dinka sendirian. Dia banyak berbohong, play victim, memutarbalikkan fakta, dan merasa paling menderita sendiri.
Tak bisa mengadu pada siapapun, Dinka justru merasa dikucilkan karena dia manusia paling jahat. Dalam kesehariannya, dia memilih menjauh dan mengambil jarak. Beruntung, dia segera tahu kemana arah yang benar, walau untuk berucap lembut dia tidak bisa. Dia telah menemukan cara lain yang lebih baik, untuk membuat semua membaik.
"Ma, ini berlebihan."
Dia berkata begitu setelah Kira dan dia berada di luar ruang UGD. Abid dipindahkan ke kamar VIP. Lagi-lagi Dinka merasa dia tidak pantas untuk mendapat semua itu.
"Kamu anak Mama, Dinka ... sama kaya Jen dan Ranu. Udah, ya ... jangan bilang berlebihan. Dan kayaknya, suami kamu akan Mama rekom ke Papa biar bisa praktik di sini secara penuh. Nggak harus ke rumah sakit lain. Nanti Mama urus sama Papa soal kontraknya. Mama nggak akan biarin kamu susah, suami kamu kesana kemari tiap hari sampai lupa pulang."
Dinka bisa apa. Hanya elusan di pundaknya yang dia sambut dengan pelukan. "Mama makasih ya, maaf kalau Dinka selama ini bikin Mama dan keluarga susah! Dinka janji nggak akan nakal lagi, soalnya, Mas Abid begini pasti lihat aku bawa Honey ngebut tadi."
Kira tertawa. "Coba bilang begini ke Mama kamu, habis pantat kamu ditabok dan dicubit."
Dinka tertawa juga. Itu benar. Tapi kenapa ya, Mamanya tidak bisa sesabar Mamaira? Apa karena Darren anak yang baik, lalu ada anak yang bandel modelan kaya dia? Apa memangnya yang diharap dari anak perempuan? Penurut? Anak baik? Dinka bukan anak yang begitu? Tidak tahu, tapi rasanya, dia tahu harus bagaimana tanpa menunggu arahan Mamanya. Dia tidak pintar di bidang akademis seperti Darren, tapi pandai dalam menjual barang. Dia merasa begitu. Dan itu bertentangan sekali.
Lagian, lihat Papanya yang bekerja siang malam, pusing tujuh ratus keliling tapi hidup mereka begitu-begitu saja? Bu dak korporat sebenarnya, dan Dinka tidak mau begitu. Meski kecil, dia lebih suka jadi bos untuk usahanya sendiri. Kelihatan kalau dia punya sesuatu yang bisa dia banggakan. Keringatnya sendiri.
***
"Kenapa gitu mandang aku begitu?" Dinka sedang menyuapi Abid buah potong. Raksasa ini setelah pingsan nafsu makannya luar biasa mengerikan.
Sudah berapa piring buah dia habiskan sendiri.
"Kagumi kamu, lah ... ngapain lagi memangnya?" Abid cengar-cengir. "Boleh nggak Mas bilang kalau mulai sayang sama kamu setelah kejadian tadi?"
__ADS_1
Boleh ....
"Kelihatan nggak tau diri, ya?" Abid duduk tegak, masih nyengir. Dia harus ungkapkan sekarang, kalau tidak dia makin kelihatan nggak tau diri jika nanti akan ada kejutan-kejutan lain yang muncul. "Tapi Mas udah mau bilang dari kemarin, hanya kamunya marah-marah terus."
"Boleh nggak sayangnya barengan aja? Aku takut masih ada yang belum selesai." Dinka membeberkan fakta. Kegigihan Olla suatu saat pasti mempengaruhi saat Abid sedang jalan menujunya.
"Nggak bisa ... Mas udah sayang duluan—"
"Tapi nggak mau keluar di dalem juga, kan? Mas masih ragu?" Piring buah itu diletakkan Dinka di meja. "Mas hamili aku kalau emang sayang sama aku."
Abid terperangah. "Tapi Din ... kamu takut hamil, kan? Kamu juga punya ketakutan kaya Mas, kan? Hamil itu proses yang besar, kamu tiba-tiba gitu minta hamil setelah kamu gigih nggak mau dihamili, kan? Mas ingat, loh ... gimana kamu mendelik ke Mas waktu itu."
Mungkin Dinka nggak tahu gimana rasanya saat tinggal tembak, tapi dilarang? Itu menjengkelkan sekali.
"Udah enggak, aku pengen hamil dan klaim Mas Abid sepenuhnya." Dinka melipat tangan di dada. Menatap Abid penuh tekat.
"Aku takut karena takut kena karma, bukan takut karena trauma pernah hamil, Mas ... kita beda."
"Jadi Mas setuju, kan? Jadi kapan shot di dalem? Tapi masa subur udah habis, dan aku udah jelang mens, mungkin bulan depan Mas harus usaha ekstra buat bikin aku hamil ... dan—"
"Kamu begini pasti karena mau mens ... iya, kan?" Abid hafal. Dia pernah mempelajari itu dulu sewaktu masih kuliah. Blok yang begitu rumit dan melelahkan untuk dipelajari.
Dinka berhitung seraya menaikkan matanya ke atas. "Bisa jadi, sih ... Tapi belum keluar, kok."
"Bisa jadi kamu udah hamil, Din ... ingat kemarin pernah keluar dua kali di—"
"Satu—"
"Enggak, dua ... Dan itu bisa banget bikin kamu hamil."
"Hah?"
"Beli tespack gih!"
__ADS_1
"Mas jangan boong!" Dinka curiga. Kapan dua kalinya? Dia hanya merasa satu kali.
"Satu kalipun, kemungkinan jadi mungkin sekali. Aku udah lama nggak keluarin sendiri, kok." Abid yakin sekali pada kualitas cairannya.
"Kan test nya harus pagi-pagi, Mas, jadi ya masih besok pagi." Dinka mendadak cerah.
"Ya udah nanti aku minta sama temen di poli kandungan biar anter kemari." Abid mengambil kembali buah di piring. "Suapin lagi!"
"Ck, minta gratisan mulu." Dinka meraih piring dan mencebik kesal.
Abid nyengir. "Hehehe, istriku kan anak kesayangan nyonya bos besar, pasti apa saja Di kasih."
Dinka memikirkan sesuatu, lalu naik ke pangkuan Abid, lalu menggoyangkan pinggulnya pelan ke depan dan belakang.
"Kenapa? Mau? Sebelum mens, mau jatah?" Abid peka, seraya menyingkap jilbab segi empat instan Dinka.
"Enggak, Jen dan Darren kalau opname biasa bercinta juga." Dinka memberi kode. Dulu, dia pikir sempat-sempatnya melakukan itu padahal tangan di infus, dan bau dimana-mana adalah desinfektan. Tapi sekarang, dia tahu kenapa bisa hal intim seperti itu terjadi. Ada hal-hal yang membuat mereka merasa dekat, intim, dan menggebu. Tempat baru selalu menyenangkan untuk sesuatu yang mendebarkan.
"Kata Jen, biar bisa rileks saat PMS menyerang."
Abid terkekeh. "Itu sugesti."
Dinka mendekat, menatap lurus ke bibir Abid. "Aku ingin membuktikan sendiri."
Tangan Abid merengkuh pinggang, Dinka dan mengerahkan ke alat vitalnya yang telah tegang sempurna. "Lakukan kalau begitu!"
"Jadilah poni yang lincah memacu Mas, Dinka!"
*
*
*
__ADS_1