Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Tidak Seperti Seseorang di Masa Lalunya


__ADS_3

Papa Anton tidak membiarkan semua orang panik, jadi dia berangkat sendiri ke rumah sakit. UGD masih ramai bahkan Papa Anton masih sempat menemui beberapa orang yang melihat kejadian tersebut.


"Bapak bisa lapor untuk melihat bagaimana keadaan di lokasi melalui rekaman cctv. Saya hafal tempat itu, ada cctv di empat sudut jalan kalau tidak salah. Tempat itu memang rawan kecelakaan." Yang mengantar Dinka tadi menjelaskan ke Papa Anton. Sebab mengherankan sekali kejadian tabrakan hari ini.


"Baik, terimakasih informasinya." Papa Anton menepuk pundak pria tersebut lantas berlalu menuju ruangan di mana Abid di rawat.


"Pak Anton!" Dokter Hamam baru saja keluar dari tirai sebelah ranjang Abid. "Senang melihat anda yang datang." Ya, kalau Mama Resti pasti semakin kacau keadaan di sini. Selain Abid, Dinka juga harus mendapatkan infus.


"Abid gimana, Mam?" Papa Anton to the point. "Anak itu sudah saya ingatkan, tapi kamu tau Abid kan?"


Dokter Hamam mengangguk. "Mereka baik, Abid akan tidur beberapa jam kedepan, dan Dinka di sebelah ... dia kram dan masih tidur juga."


"Dinka?"


"Bapak tidak tahu Dinka yang nyusul Abid tadi?"


Papa Anton menyembunyikan kenyataan bahwa dia tahu Dinka pergi, hanya tidak tahu kemana. "Nggak ... saya pikir Dinka lagi berantem sama Abid."


"Bapak boleh kok lihat Abid. Nanti akan kami pindahkan di ruang VIP sama Dinka sekalian, agar mudah diawasi. Koko udah siuman, tapi dia minta izin tidur dulu." Dokter Hamam tahu kalau urusan rumah tangga Abid bukan lagi urusannya. Jadi, dia memilih undur diri. Setiap rumah tangga pasti ada ujian dan masalahnya, tidak perlu menjudje siapapun paling salah.

__ADS_1


Papa Anton melihat Dinka lebih dulu, setelah mendengar penjelasan Hamam soal Abid dan Dinka secara menyeluruh.


Pertama kali dilihatnya adalah keadaan fisik menantunya, baru ke gundukan kecil yang kembang kempis pelan seirama tarikan napas Dinka.


Dinka masih tidur. Wajahnya pucat samar-samar, terlihat lelah dan pipinya merah. Anton hanya tersenyum melihat bagaimana menantunya ini luar biasa menghadapi anaknya. Bisa dikatakan, Abid beruntung beristrikan wanita yang tangguh.


Dinka memang tidak bangun, tapi Papa Anton menunggui menantunya sedikit lebih lama, mungkin dia sedikit berharap Dinka sadar kalau dijenguk olehnya.


Tak berapa lama, Papa Anton keluar, dan melihat Abid yang posisinya selang satu bed dari Dinka. Begitu membuka tirai, Anton terkejut oleh presensi Olla yang tampak sendu menatap Abid.


"Om—"


"Kamu boleh pergi, saya akan jaga anak saya," ujar Papa Anton dingin.


"Tidak perlu, tapi terima kasih. Sejujurnya, tindakan nyata lebih baik dari ucapan basa basi yang sungguhan basi." Papa Anton menatap sekilas Abid yang tidur, lalu ke Olla yang terlihat menegang tapi berusaha tersenyum.


"Tolong jangan tekan Abid untuk memegang setir, Om ... kita sama-sama tau kondisinya." Olla berlapang dada. Semua pihak Abid menolaknya, jadi dia bisa apa? Dia sebenarnya siap beralih dari Abid, tapi jika begini, jadi pelakor dia lebih dari rela. Abid tersiksa bersama istri barunya. Siapa memang yang terima?


Sebagai mantan yang perhatian, Olla boleh tidak terima pastinya.

__ADS_1


"Kami tidak menuntut Abid apa-apa seperti seseorang di masa lalunya." Papa Anton menatap Olla lebih tajam dari sebelumnya, membuat Olla menahan napas, tersindir.


"Saya yakin, Abid begini karena ingin terlihat lebih baik di depan istrinya sekarang. Dia tahu telah membuang waktu terlalu banyak untuk hal yang tidak berguna." Sudut bibir Papa Anton tertarik sedikit, membentuk senyum sinis.


"Abid sedang menebus kebodohannya di masa lalu, dengan membersamai orang yang salah."


Orang yang salah? Dia ... orang yang salah? Dimana salahnya?


"Saya harap ini terakhir kita bertemu dan membahas urusan pribadi secara detail, Dokter Olla. Kita tidak punya hubungan darah, kerabat, atau rekan. Masih bagus kami tidak memakai cara primitif untuk membalas semua sikap lancang anda selama ini. Saya bersyukur, menantu saya—istri Abid adalah orang yang lapang, tabah, dan benar-benar abai untuk hal-hal yang tidak penting."


"Tapi—"


"Ada banyak dokter di sini selain anda, dan ada ribuan pasien lain selain Abid yang pantas anda tangani, Dokter. Abid kami sudah baik-baik saja." Papa Anton menukas dingin. Yang tidak bisa lagi dibantah oleh Olla.


Benar, tak ada alasan baginya untuk berlama-lama di sini. Dia dengan sadar sepenuhnya membungkuk untuk melewati Anton. Tidak punya muka, juga tidak terlalu benar, dia hanya menyarankan sesuatu yang baik untuk Abid, bahkan untuk pernikahan mereka.


"Setidaknya, sebagai orang yang memutus lebih dulu, anda harus tahu malu, Dokter. Kembali dan mengejar lagi, hanya membuat anda terlihat menyesali keputusan anda."


Olla berhenti. Tangannya mengepal. Dadanya mendadak panas.

__ADS_1


"Anak saya sudah memohon kemurahan hati anda dengan cara yang amat hina, Dokter ... wajar sekarang kalau dia menghindari anda seperti dia melihat setumpuk kotoran. Dia diam bukan karena tidak enak hati pada Anda, tapi karena dia sudah selesai. Anda yang harus segera selesai dengan kami."


Ya, dia sudah hampir finish, jika saja istri Abid itu tidak menantang dirinya lagi. Seperti ini kah, istri pada suami yang masih trauma? Tampaknya, masih harus ada diskusi lagi soal ini dengan wanita kesayangan Abid itu.


__ADS_2