
Tolol.
Kata itu memang pantas disematkan untuknya. Jadi sekarang apa? Rere terlanjur lengket padanya, tapi Abid tidak mau lagi menatapnya. Ya, Olla melihatnya. Abid sudah berpaling. Dia tahu, paham, dan mengerti. Hanya sedang membohongi hati untuk mau bertahan.
Dan sekarang dia dalam kesulitan yang lain. Iya, itu benar. Dia baru pulang setelah menghadapi minggu panjang yang melelahkan di UGD. Rere dibawa pulang sebab pengasuhnya libur di hari Sabtu hingga Minggu sore.
Sialnya, dia menganggap apartemen adalah tempat paling aman, cukup kunci pintu dan abaikan siapapun yang mau berkunjung. Tapi ternyata, ada yang lebih cepat dari dia saat bergerak.
Mamanya. Ya. wanita itu sudah duduk di mini pantry dengan tatapan tajam nyaris membuat Olla mengumpat.
"Balikin!"
Olla membuang muka tadi. Kata-kata Mamanya tidak manusiawi. Mama Rere meninggal akhirnya, sementara Rere tidak mau jika tidak bersamanya. Sudahlah, biarkan saja seharusnya. Tak menyukai seseorang juga gak segala bangsa. Mungkin hanya belum diatur undang-undang saja.
"Setelah ini siapa yang mau sama kamu?! Tak ada suami tapi punya anak. Single aja susah dapet jodoh, gimana udah bawa anak?"
Pastinya yang mencintainya, tak akan peduli apa statusnya. Mencintai seseorang tentu bukan melulu soal single atau istri yang dipulangkan ke rumah orang tuanya. Ada hati yang berperan disana. Tak akan ada yang memandang status jika hati sudah terpikat.
"Punya otak cerdas dan cantik yang nggak ada tandingannya, ternyata nggak cukup untuk memutuskan seseorang itu waras atau gila! Percuma sekolah bertahun-tahun, magang, ujian sertifikasi, kalau ujung-ujungnya bodoh karena cinta!"
Olla tersenyum getir menatap Rere yang terlelap.
"Mama aku pesankan taksi ya," jawab Olla pelan.
"Radian mau datang hari ini, Mama nggak mau tau caranya gimana, tapi aku mau anak itu tidak di sini hari ini! Kalau bisa seterusnya!" Melia menekankan.
"Aku capek, Ma ... suruh dia datang lain waktu!" Olla angkat kaki dari meja yang hanya berisi dua kursi itu.
"Dia menuju kemari!"
"Mama aja yang temui, aku mau tidur!" Setengah jam berharganya terbuang percuma. Iya, harusnya dia bisa tidur setelah kelelahan berhari-hari. Mendengarkan Mamanya dengan sabar hanya membuat kepalanya ingin pecah.
__ADS_1
Harusnya Olla sudah tau kalau semua akan berakhir seperti ini. Mungkin sekarang-sekarang ini dia ingin seperti ini.
"Olla, kamu akan nyesel abaikan Mama kali ini!"
Terserah.
Benar. Terserah. Sekarang Olla harus punya pilihan sendiri. Tubuh dan jalan hidupnya miliknya sendiri secara utuh. Dia berhak atas dirinya sendiri mulai sekarang. Cukup sekali saja dia salah dan berakhir mengerikan.
***
Agak aneh memang. Dinka tahu tubuhnya tidak baik seminggu belakangan. Dia merasa keracunan yang dialami Jen juga sedang menular kepadanya. Mens sudah terlambat seminggu, dan dia sedang rutin berhubungan se ks sebulanan ini. Jadi apa kalau bukan hamil?
Tau dia sedang apa?
Seorang Dinka mencoba untuk tidak gila. Dia takut, tapi dia terus menyakini kalau dia bisa. Sejauh ini, dia tidak mengalami apa yang kebanyakan ibu hamil alami.
"Mas, kamu ikut aku nggak hari ini?"
"Kayaknya aku hamil, deh!"
Abid melotot sampai kepalanya berputar kaya burung hantu. Dinka kan takut hamil, tapi kok dia santai gitu? Harusnya kan ada drama nangis histeris, terus minta pelukan, melamun dan meratap berhari-hari.
Oke, jadi Dinka ini takut beneran atau berangsur hilang ketakutannya, atau dia tidak punya pilihan lain?
"Tepatnya aku lupa mens terakhir, tapi dadaku yang nyeri dan bengkak ini apa karena ulah tangan juga gigi kamu, atau emang karena ada bayi yang sedang berusaha hidup di perut." Dinka membalas tatapan suaminya melalui ujung rambutnya yang berantakan, memenuhi seluruh sisi kepala.
"Tapi kalau Mas belum mau, kita bisa lakukan sesuatu selagi—"
Abid sigap memeluk Dinka. Tubuh raksasanya yang masih polos langsung terekspose semua. Ya, semingguan ini begini. Abid lupa berpakaian necis dan berkelas kalau berduaan. Bahkan dia rela membujuk Bee tidur lebih awal ketika melihat Dinka sudah selesai dengan Honey.
"Kalau beneran positif dan kamu nggak keberatan bawa bayinya Mas 9 bulan ke depan, Mas seneng Dinka ... tapi yang harus kamu pikirkan adalah dalam hati kamu sendiri. Kamu siap atau enggak."
__ADS_1
Abid meletakkan dagu di pundak Dinka, menciumnya dan mengingat lagi, apa rasanya seperti saat Nara hamil dulu? Se ks mereka jauh lebih memuaskan semingguan ini, memang. Jauh lebih hangat dan menggigit.
"Kamu berhak atas tubuh kamu sendiri, Dinka ... Mas tau rasanya takut akan sesuatu, jadi kamu bebas menentukan pilihan." Sedih mengatakan itu, tapi dia tidak boleh egois. Dia hanya ingin Dinka bahagia dengannya. Bukan dijadikan mesin pembuat bayi, walau dia sangat ingin memamerkan perut Dinka yang sebulat bola pada semua orang.
"Tapi, Mas ... aku ingin hamil dan mengundang Mbak Olla di acara empat bulanan nanti. Apa salah kalau ingin hamil dengan alasan itu? Aku ingin menyumpal mulut mantan kamu itu dengan hasil karya kamu. Hanya saja, aku harus yakin, Mas udah move on dari Mbak Olla dan apapun pengaruh Mbak Olla nantinya, nggak akan bikin Mas berpaling." Pertama mungkin dia harus memecahkan rekor anti ngadu lebih dulu. Dia tau menikah itu bicara berdua, apa-apa berdua. Dan kedua hal itu sempurna jika dua-duanya saling mengerti juga menerima.
Percuma bicara kalau tidak ada pengertian di dalamnya. Tak ada penerimaan satu sama lain. Melupakan apapun di masa lalu, dan belajar lebih baik lagi.
"Agak bulsit kalau ngaku doang tapi nggak ada bukti. Tapi Mas udah lupa sama Olla. Pengaruh Olla bukan apa-apa lagi. Dengan aku tidak lagi merespons dia lebih dari hubungan formal, harusnya Olla sadar diri, kan? Mas pikir, Olla pintar dan masih ingat ucapan Mas sebelum Mas nikahi kamu dulu. Tapi kalau dia mau, kamu juga ingin semuanya jelas, Mas akan lakukan lagi."
Abid mencium telinga Dinka. "Gimana nggak move on, selain goyangannya mantap, istri Mas ini bawa hoki numpuk-numpuk."
Dinka berdecak. "Jadi kalau Mas nggak abis tandatangan sama rumah sakit jadi dokter tetap, Mas nggak akan move on gitu?" canda Dinka.
"Hehe, orang sakit hati itu move on sangat mudah, Dinka ... tapi bonus di Mas banyak banget, kan? Jadi, move on lebih gampang." Ya, gitu emang. Mobil baru di garasi adalah buktinya. Ah, Abid tidak tau bagaimana rasanya untuk Dinka, tapi perasaan ini lebih banyak dan lebih besar ketimbang dengan Olla, Danisha—mantan sebelum Olla, bahkan Nara sekalipun.
"Andai ada kata-kata luar biasa yang bisa mewakili apa yang Mas rasakan sekarang, Mas akan katakan tiap hari, Dinka! Mas senang nikah sama kamu. Dan Mas beruntung jodoh Mas kamu tikung di H-10. Makasih udah doa kenceng banget buat nikung Mas."
Dinka tersenyum lucu. "Tapi aku nggak doa apa-apa, Mas ... selain ingin hidup lebih baik. Malah aku mau sama kamu karena kamu impo, kalau enggak aku nggak mau."
"Artinya Mas adalah hidup yang lebih baik yang kamu ucapkan itu. Jadi jangan ragu ya, hidup sama Mas. Walau Mas nggak janji hidup kita akan mulus terus, Mas nggak akan ada sama kamu setiap saat, tapi Mas pastikan kamu akan Mas bahagiakan dengan semua yang Mas miliki." Abid berucap pelan, masih di posisi yang sama.
"Maksudnya dengan benda raksasa yang keras lagi ini?" Dinka menyenggol organ Abid yang susah tidur kalau dempet-dempetan dengannya begini.
Abid terkekeh. "Mas akan pelan-pelan, Dinka."
Astaga ... boleh tidak bilang kalau enak itu juga lelah dan menguras tenaga? Papa Anton, gimana ini? Anaknya kelewat enak sampai kasur saja muak, sampai botol sampo lelah jungkir balik, sampai handuk numpuk, sampai dinding kamar tutup telinga. Bahkan sampai Mama Resti harus antarkan anak-anak ke sekolah.
Dia harus bahagia kan? Biar digunjingkan habis-habisan kemarin, tapi Dinka menebus semua itu dengan sempurna. Resti bahkan mulai merencanakan memamerkan Dinka di beberapa kesempatan.
Kadang yang baik memang datangnya belakangan. Tapi sangat sepadan.
__ADS_1