Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Akhir Tapi Bukan Yang Terakhir


__ADS_3

"Kami sudah menjadwalkan operasi untuk Dinka, Bid," ujar Dokter spesialis saraf yang menangani Dinka sejak 6 bulan terakhir.


Abid dengan muka lelahnya mengangguk dengan helaan napas berat menyertai. Bukan Abid lelah dengan kondisi Dinka, melainkan karena dia kasihan dengan Dinka yang sudah pasrah. Sebenarnya, Dinka menolak operasi. Baginya, berjalan selangkah dua langkah, merambat lewat tembok, atau memakai kursi roda dan kruk saja sudah cukup.


Banyak kemungkinan terjadi ketika operasi terjadi. Dinka takut kalau dia harus disuntik dan dibedah di bagian belakang tulang punggung. Uh, pasti sakit sekali. Belum lagi dia harus menutup mata lebih lama sementara Arion saat ini sedang lucu-lucunya.


Ah, jangankan menutup mata, berkedip saja Dinka enggan.


"Kami sudah menjadwalkan agar Dokter dari rumah sakit di Singapura bisa datang sesuai jadwal operasi Dinka. Ini—kasus Dinka, sedikit langka, jadi banyak yang ingin belajar dari kasus ini." Dokter tersebut melanjutkan.


"Akan saya bujuk lagi Dinka lebih keras, Prof ... dia sepertinya sudah biasa dengan keadaan kakinya." Abid memutar otak mulai sekarang. Entah dengan cara apa, dia tidak tahu lagi. Yang jelas, bujukan lembut sudah tidak mempan, tetapi mengasari Dinka juga tak mampu Abid lakukan. Mana tega dia membentak Dinka? Dia kelewat sayang pada wanita itu.


***


Abid baru pulang ketika sarapan di rumah sudah lewat. Hari ini tampaknya semua orang berkumpul kembali.


Selama enam bulan ini, kebanyakan aktifitas keluarga berpusat di rumah ini. Papa Anton bahkan lebih sering di rumah, kalaupun bertugas, hanya di kota-kota dekat saja, yang bisa dijangkau sehari perjalanan. Arion adalah pusat hidup Papa Anton, tak boleh sehari saja terlewat melihat sang cucu.


Hari ini, Mama Kira dan salah satu dari si kembar datang. Azziel yang kalem itu duduk berjongkok di depan Dinka, diantara mereka Arion duduk dan memakan makanan yang baru beberapa hari dikonsumsi.


"Lahap kaya Jen kalau makan." Azziel mengelap sisa makanan yang disuapkan oleh Dinka barusan. Pipi Arion gembul, tetapi Azziel tidak berani mencubitnya.


"Kaya kamu." Dinka tertawa kecil saat menatap wajah Azziel. "Kamu kapan nikah?"


Azziel berdecak seraya membuang muka, dan tanpa sengaja dia bertemu tatap dengan Abid. "Lo sih, nikah duluan ... harusnya lo sama gue!"


Dinka terbahak-bahak. "Basi gombalanmu, Ziel! Udah garing, gak mempan lagi ke aku, ya."


Azziel menatap Dinka dengan wajah tengilnya. "Karena lo udah nemuin laki yang pas di hati lo, makanya lo begini."


Dinka menggelengkan kepala. "Stop deh, entar ada yang denger, malah jadi salah paham."


"Bagus lo salah paham, trus cere ... nikah dah abis itu sama gue! Gue bakal nerima elo sama anak elo!" Azziel tau, ada yang panas di sana, tetapi karena di depan keluarga besar, ucapannya tak bisa diklarifikasi kebenarannya. Ia tersenyum puas. Abid beneran cinta sama Dinka, Azziel puas melihat itu.


Dinka sampai mengerutkan kening menatap Azziel. "Aku nggak yakin yang dibawa Mama kemarin Azziel ... jangan-jangan kamu Agiel?!"


Azziel terkekeh lalu mencium Arion gemas, lantas berdiri.


Dinka masih lekat menatap adik sahabatnya ini. "Agiel apa Azziel, sih?"


"Kita gak seidentik itu kali!" Ia membawa Arion kedalam gendongan. "Gue sama dia dibikinnya gak barengan!"


Jangankan Dinka, Abid saja ingin tertawa keras mendengar ucapan Azziel.


"Tapi kamu lama-lama mirip Agiel, tauk!"


"Gue nggak separah dia, sampai sama bokap dikawinin duluan!"


Tapi tetap, mereka adalah berandalan yang bikin Papanya sakit kepala setiap waktu.


Dinka hanya menggelengkan kepala memikirkan kebenaran ucapan Azziel. Meski kalem, Azziel juga sama degil nya dengan sang kembaran. Dua anak itu adalah ujian paling berat untuk seorang Harris Dirgantara. Katanya, mereka adalah copyan sempurna seorang Harris, dari segi manapun.

__ADS_1


"Kenapa suamilo diem kek batu di sana? Insecure ya, sama kegantengan gue? Pasti dia merasa kalau lo pantesnya sama gue?"


Entah sejak kapan Azziel punya kepercayaan diri setinggi itu sehingga mudah mengeluarkan kata yang bernada merendahkan walau bercanda. Dinka sedikit kaget melihatnya.


Ia memutar kepala ke posisi Abid berada. Bibirnya menyunggingkan senyum kala melihat Abid membuang muka.


Abid ingin mendapat kesan kalau dia tidak melihat apa-apa, tapi tampaknya dia gagal, jadi sebagai ganti dia berjalan pelan ke kerumuman yang tampak bahagia di sisi lain.


Bukan dia tidak ingin menyapa Dinka, menciumi nya seperti biasa, tapi ... secara tidak langsung, ada bos besar disini, dia harus menyapa nya dulu, kan?


"Wah, suami lo jeles nya mengerikan, ya?"


Dinka tertawa saja. Azziel mungkin tau kenapa Abid tidak mendatanginya lebih dulu, tapi memang anak ini agak lain, jadi ya sudah, biarkan saja dia bicara apa, cukup iyakan saja. Mungkin karena partner in crime nya sudah berkeluarga jadi Azziel kesepian.


"Anaklo beneran gemoy, boleh gue bungkus bawa pulang ya!"


Ya ampun anak ini ....


Dinka berhenti memerhatikan Abid lalu beralih ke Azziel lagi. Bocah yang usianya berjarak dua tahun darinya itu sedang berputar-putar dengan posisi Arion diangkat tinggi-tinggi.


"Ziel—!" Hati-hati!


"Om, bawa dedeknya hati-hati!"


Dinka melihat Bee dan Honey langsung berlari menuju Azziel. Keduanya pasti tidak suka melihat Arion dibawa berputar oleh Azziel setinggi dan selama itu, meski Arion tertawa.


Dinka maklum, lalu menggeser kursi roda mendekati Azziel.


Namun, Azziel yang berputar, kemudian Honey yang bermaksud menghentikan Azziel menubruk begitu saja tubuh Azziel, alhasil, Azziel oleng dan ....


"Arion!"


Dinka refleks memijakkan kaki ke tanah dan mengulurkan tangan ke arah Arion jatuh.


"Ziel!"


"Astaga, Arion!"


Semua orang yang melihat langsung berteriak, bahkan Abid yang sedang bersalaman dengan Mama Kira juga melesat begitu saja ke arah Arion.


Namun kendati mereka sudah berupaya, tetap saja tidak bisa menjangkau.


"Bruk!"


"Arion!"


Waktu terasa berhenti sejenak saat Arion jatuh. Tak ada yang bergerak bahkan bersuara. Mereka semua terlalu syok.


Arion ....


Tangisan Arion memecah keheningan. Dinka berjalan ke arah anaknya dengan tangan gemetar.

__ADS_1


Matanya sudah bergetar dan basah. Ia melihat Arion nya mendarat di atas tubuh Bee yang terkapar di tanah.


Kepala Arion membentur kepala Bee, wajar anak itu menangis, kan?


"Bee?!"


"Mami, gigiku rasanya ada yang patah!" Air mata Bee meluncur begitu saja. Wajahnya meringis menahan sakit hingga merah keunguan. Tapi ia mengusap kepala dan pantat Arion yang masih menangis.


Dinka terpana melihat Bee. Ya ampun. Anak ini ....


Setelah semuanya, akhirnya Bee memanggilnya Mami. Setelah bulan-bulan yang menurutnya terlalu canggung, akhirnya Bee merengek dan menangis.


"Bee ...."


"Mami, Arion berat!"


Dinka tertawa sambil mengusap air matanya. Ia berjalan cepat ke arah Bee dan mengambil Arion, dan membantu Bee berdiri.


"Makasih, ya, Sayang ... udah selamatkan Arion."


Bee memeluk Dinka erat saat dia berdiri. Menyembunyikan wajah saking malunya. Ia merengek untuk pertama kali setelah beberapa tahun. Sejak lama dia ingin begini, namun dia terlalu banyak tahu diri. Dia hanya anak angkat yang harus terus waspada.


Merengek dan manja itu sikap yang tidak sukai oleh sebagian banyak keluarga sambung.


"Sayang ... Dinka!"


Dinka menoleh ke arah Abid. Semua orang di sana bengong dan melongo. "Arion nggak papa, Mas."


"Kamu jalan dan berdiri, Sayang!"


"Hah?!"


Dinka seketika menunduk dan menatap dirinya. "Eh ... kok bisa?!"


Ia menggerakkan kakinya, membuka ke kanan dan kiri, depan belakang. Hahaha ....


"Mas?!" Dinka mengangkat wajah menatap Abid. "Kok bisa sih aku berdiri lagi? Kakiku nggak lemes lagi!"


Abid datang lalu memeluknya sekaligus dengan Arion. "Ya Allah, Sayangku ... keajaiban loh ini! Arion nyelamatin kamu!"


"Keknya, ini karena karma deh, Mas ...."


Abid bergegas melepas pelukan dan menatap Dinka yang berbinar-binar.


Dinka mendekatkan wajah, dan Abid harus mundur. Didepan semua orang, nggak mungkin Dinka nyosor, kan?


Dinka tersenyum kecil, lalu berbisik. "keknya karena aku pernah ngatain kamu lemes kek terong overcook, dah ... makanya kakiku lemesnya lama."


Abid menjauh dan menatap Dinka heran. Apaan sih, garing bener! Apa-apa kenapa mesti dihubungkan dengan karma?


Abid mengernyit heran.

__ADS_1


"Ya ...." Dinka menunduk, lalu memutar-mutar telunjuk di dada Abid. "Keknya pas aku ngatain kamu, kamunya nyumpahin aku tanpa sadar!"


Astaga ... ni wanita keknya perlu di ajak ngamar, dah ....


__ADS_2