
"Papa ...." Honey menangis pagi ini saat Dinka berpamitan menginap di rumah orang tuanya pada sang Mama mertua. Abid sibuk menelpon dan mengusap kepala Honey lembut. Bibirnya mengisyaratkan agar Honey diam dulu, saat pandangan mereka bertemu.
Di sisi lain, Bee menghabiskan sarapan tanpa banyak bicara walau hatinya sangat kesal pada Honey. Susah sekali Honey diajak kerja sama dan tidak suka melihat tingkah kekanakan adiknya itu.
"Aku selesai," ujarnya dingin. Lantas turun dari kursi dan menarik tas miliknya sendiri. Belvedere Elveston mencium tangan semua orang, dan ke Dinka hanya sekilas saja.
"Aku berangkat." Bermuka masam, Bee mengambilkan tas Honey dan menghampiri adiknya tersebut. "Ayo, Honey!"
"Nggak mau! Aku maunya sama Mama dan Papa!" teriak Honey kencang hingga Abid terpaksa menjeda panggilan teleponnya.
Dinka sejenak menatap sang Mama mertua yang sudah mendelik pada Honey. Wanita itu sudah siap meledakkan kemarahan pada Honey.
Dinka segera berdiri dan mendekati Bee. Diusapnya bahu Bee pelan. "Honey biar sama Tante saja, Bee. Bee tunggu saja di mobil."
Bee menyingkirkan tangan Dinka dengan gerakan memutar bahu yang sangat kasar, hingga tangan Dinka jatuh. Kemudian dia melangkah lebar menuju mobil. Wajahnya merengut dan melirik Dinka bersungut-sungut.
Dinka menarik napas. Sebenarnya dia ingin memaki anak kecil itu, tapi sudahlah, biarkan saja. Yang ada nanti malah makin ribut kalau meladeni. Di sebelah sudah ada singa yang siap menerkam jika satu kata saja, Bee berani mendebatnya.
"Honey!" Abid menaikkan Honey ke pangkuan. "Papa hanya sebentar di rumah Mama Dinka—"
"Tapi Honey nggak mau pisah sama Mama Dinka, Pa. Honey—"
"Honey ... denger kata Oma!" Resti kesal mendengar rengekan Honey yang bebal itu, sehingga dia segera beranjak dan memaksa Honey duduk di tempatnya lagi.
Abid dan Dinka tak berani menyela, beruntung Resti tak sampai membuat Honey makin histeris. Abid tahu, Honey paling disayang Oma-nya, tapi bukan berarti jika tidak patuh dibiarkan. Begitu cara Resti mendidik anaknya. Tegas dan disiplin, no mean no!
"Sekarang bukan saatnya libur, Honey! Besok Honey masih sekolah, banyak yang Honey siapkan! Sementara kalau ikut menginap, waktunya nggak keburu, belum kamu juga telat masuk sekolah! Sekali ini, biar Papa pergi sama Mama Dinka dulu, lain waktu kamu boleh ikut! Paham, kan?" Resti sungguh menjelaskan hingga ke detail. Lagipula, besok ada kegiatan out bond di sekolah Honey, dan untuk itu Honey harus persiapan melakukan ekstra.
Honey mengangguk. Sejujurnya, jika diizinkan ikut, dia ingin memberitahu rencana Bee semalam. Dia tidak leluasa mengatakan jika masih ada Bee di sekitar mereka, tapi juga tidak mau Bee kena marah Oma-nya.
Duh, sulit sekali, sih.
"Sudah Abid, Dinka ... buruan berangkat. Sekalian bawa tas di meja dapur. Kasih ke Mama dan Kakak Ipar kamu, ya! Wanita hamil seperti ipar kamu pasti suka masakan yang ringan dan berkuah asem gitu." Resti mengisyaratkan agar mereka segera berangkat. Honey dan Bee sudah ada sopir sendiri, sementara Papa Anton yang sering nyetir sendiri ke kantor.
__ADS_1
Dinka melakukan apa yang Mama mertuanya suruh, lantas bersama Abid bergegas berangkat usia meminta maaf ke Honey. Sungguh Dinka sangat menyesal, tapi mungkin pertimbangan Mama Resti ada benarnya. Dinka manut saja.
Dalam perjalanan, Abid tak henti memikirkan ucapan Koko semalam. Ya, ketika Dinka tidur. Abid keluar rumah dan berbincang dengan Koko. Namun, hal yang tak terduga disampaikan Koko.
"Mas, kemarin Mbak Dinka ketemu sama Mbak Olla. Mereka sempat ngobrol sepertinya."
Sejak tadi dia ingin bertanya, tetapi tak ada waktu juga. Mungkin Olla mengatakan sesuatu pada Dinka, yang membuat wanita itu murung dan makin kuat menutup diri.
"Kemarin ketemu Olla?" tanya Abid memecah kebisuan.
Tiga kepala di dalam mobil itu bergerak serempak. Abid menatap Dinka, Dinka mendelik ke arah Koko, dan Koko melengos, membuang pandangan ke arah luar mobil.
"Haish, si bos mah!" batin Koko gemas. Bisa-bisanya diungkap di sini.
Dinka membuang napas, melirik Abid sekilas. "Iya ...." Dia harus hati-hati bicara. Siapa tau Olla sudah mengadu dan bicara yang bukan-bukan.
"Jangan dengerin omongan dia!" Ucapan Abid pelan dan santai. Kening Dinka berkerut saat menoleh pada Abid.
"Dia bilang apa ke Mas?"
"Ohh ...." Sesuatu di perut Dinka pecah dan mengeluarkan tawa penuh kemenangan. Astaga ... ini demi dia, kan, ya?
Dinka melengos keluar saat diam-diam menipiskan bibir—menyembunyikan mulutnya yang hampir tertawa.
"Kami udah selesai. Nggak ada urusan lagi secara pribadi." Abid bicara seolah tahu itu yang mengganggu Dinka sejak seminggu ini. Buktinya suara Dinka tak lagi dingin.
"Aku nggak apa-apa, Mas." Dinka memikirkan lagi ucapan Olla. Dan benar, dia tidak apa-apa.
"Dia bicara apa sama kamu?"
"Hanya nanya kabar dan sedang apa di rumah sakit. Dia buru-buru juga waktu itu." Dinka masih menatap luar, tetapi kemudian memutar kepala ke arah Abid.
"Kalian nggak rapat bareng hari itu? Mas udah jalan keluar sama temen-temen Mas dan Mbak Olla datang pas aku udah mau pulang, udah malem banget ...."
__ADS_1
Abid menaikkan alis. "Kamu lihat saya?" Dinka mengangguk dengan polosnya.
"Kok nggak nyamperin, biar bisa sekalian ke dokter kandungan sama-sama!"
"Aku nemui temen yang baru pulang dari Swiss, Mas ... aku nggak mau ganggu Mas sama temen Mas." Dia terlalu gemetar saat mendengar ucapan Abid hari itu, marah dan kesal, jadi bagaimana dia menghadapi Abid? Pertama kali pasti dia akan memarahi Abid karena ucapan itu. Abid pasti malu dimarahi di depan teman-temannya.
"Xaquilla?"
"Ranu ...."
"Ohh ... kirain anaknya pemilik rumah sakit!"
"Iya, Ranu itu anaknya Paman Harris. Dia temen aku dari Paud sampai kuliah." Dinka mengangguk. Saking lemotnya, dia lupa sama nama lengkap sahabatnya sendiri. Xaquilla ... hahahaha ... dia ingat nama itu juga yang membuatnya kesal karena ada nama Xaquile lain yang kerap diucapkan begitu mirip.
"Pantas dia sadis ke saya hari itu. Temenmu rupanya!" Abid paham sekarang. "Dia khawatir kalau kamu tersakiti oleh pernikahan ini."
"Semoga kekhawatiran dia nggak kebukti! Sejauh ini mulai nyeri-nyeri tipis." Dinka terkekeh miris.
"Maaf ...." Abid menunduk. Dinka menatap Abid.
"Jangan minta maaf, ini bukan salah Mas sepenuhnya. Aku yang mau nikah sama Mas Abid. Harusnya yang minta maaf aku, dan aku wajib tau diri ketika menuntut Mas ini itu. Aku mudah menerima karena memang aku nggak pernah sama siapa-siapa sebelumnya. Sedangkan Mas Abid baru saja patah hati. Aku ngerti—hegh!"
Tanpa babibu, Abid menarik Dinka ke pelukan. Membenamkan wajah Dinka ke dadanya yang lebar.
Bagaimana Abid tidak makin meleleh mendengar ucapan begitu dewasa dari wanita yang terlihat seperti balita ini? Dia bosan diatur dan memaklumi selama ini. Dinka melakukan hal sebaliknya. Dia memahami Abid sepenuhnya.
"Kamu jangan menahan diri kalau nggak suka, Dinka. Kamu boleh marah, kamu boleh cerewet, kamu boleh tanya, dan kamu boleh menandai milik kamu dengan cara apapun. Jangan ditahan, aku takut kalau kamu diam."
Dinka ... bagaimana hati kamu? Masih di tempatnya? Atau sudah jatuh? Si galak sudah meleleh loh.
*
*
__ADS_1
*