Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Kita Nggak Harus Jadi Musuh, Olla!


__ADS_3

"Haih, kenapa baju-baju cowok modelnya kek gini doang sih?!" Dinka menatap kesal jajaran pakaian anak di sebuah toko pakaian.


"Modelnya nggak sebanyak anak cewek!" sambungnya seraya memikirkan keinginan Abid untuk punya anak perempuan.


"Katanya, kalau mau anak cowok atau cewek itu bisa disetel sejak mau dibuat ...!" Dinka menengadah. "Ck, kenapa mesti sibuk googling kalau yang siap sedia menjelaskan tanpa keberatan sampai jelas sejelas-jelasnya saja ada!"


Ia meraih ponsel dan menyentuh kontak Dokter Tiwi. Dokter umum yang menjadi dokter pribadi gratisan. Dasar Dinka.


"Dokter, selamat sore!" sapanya riang seraya meninggalkan deretan baju khusus anak cowok, untuk keluar.


"Nggak ada yang penting, cuma mau nanya aja." Dinka mencari tempat yang tidak terlalu mengundang perhatian. Toilet ... maksudnya depan toilet.


"Jadi gini, Dok ... aku tadi lihat baju anak cowok kok modelnya gitu-gitu semua! Sementara anak cewek bisa macem-macem dan warna warni. Ada yang jilbab pake topi, ada blink-blinknya, ada yang warna sama tapi modelnya beda-beda semua—em, maksud saya, saya ingin program anak cewek secepatnya, Dok!" Dinka terkikik geli. Padahal dia belum sampai ke toilet, tapi bibirnya sudah tidak tahan lagi mengatakannya.


"Ya, kalau nggak cepet nanti model yang kiyowo sekarang keburu habis, gimana dong Dok?"


Dinka tersenyum jahil. "Oh, gitu ya ... baik Dok, baik. Nanti saya—"


"Bruk!"


"Aduh, jalan kok nggak lihat-lihat sih!" gerutu Dinka yang sudah jatuh akibat tertabrak seseorang. Ia mendelik begitu melihat orang yang menabraknya. "Jalan hati-hati dong, ini tempat ramai—haaah!" Dinka memeluk seraya menutup mulutnya.


"Mbak Olla?!" pekik Dinka yang langsung dihadiahi tatapan jengkel dari Olla.


Wanita itu berdiri buru-buru dan langsung menurunkan topinya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh area ini seperti ketakutan.


"Mbak Olla!"

__ADS_1


Olla yang dipanggil gemetar dan langsung kabur begitu kakinya sudah tidak lemas lagi. Kenapa ketemunya Dinka sih, kenapa bukan Nahwa saja? Jadi dia tidak perlu menuju apartemen wanita itu.


"Mbak!"


Olla terpaksa berhenti tapi tidak menoleh. Meski kepergok, setidaknya Dinka tidak melihat wajahnya yang sembab akibat menangis saat digagahi si gila Alvin tadi.


"Kita bisa bicara sebentar nggak, Mbak?" Dinka merasa kasihan melihat fisik Olla. "Aku bicara sebagai sesama wanita."


***


Dan di sinilah mereka berdua duduk. Berhadapan dan saling memperhatikan.


"Kita nggak mesti harus musuhan, kan, Mbak?"


Dinka bertanya. Diantara semua pertanyaan, kalimat itu yang lebih baik dikeluarkan lebih dulu. Nggak semua pertemanan itu harus diawali dengan perkenalan ala-ala anak baru di kelas, kan? Kadang dapat temen baik dari sebuah pertengkaran, salah paham, beda pendapat, bahkan perkelahian. Lihat atlet silat, tinju, WWE, atau taekwondo, mereka musuhan dulu, biar saling mengenal dengan baik, kan?


"Aku nggak dapat untung apa-apa kalau aku baikan sama kamu!" jawab Olla ketus. Kurang lebih begitu lah keadaanya dari sisi Olla. Jika boleh, dia ingin membenci mereka seumur hidup. Sayang, saat ini Olla lelah memikirkan dendam dan kebencian. Bukankah dia sebentar lagi akan mendapat kebencian dari Alvin? Yang luar biasa mengerikan.


"Kalau mau dapat untung ya, jangan temenan Mbak!" Dinka tersenyum tipis. "Jualan aja, pasti untung gede!"


"Cih!" Olla meneguk sedikit minumannya. "Lawakanmu bagus, tapi maaf, aku nggak ketawa, nggak merasa lucu atau terhibur—maaf!"


"Kapan merasa begitu nya? Nanti aku akan datengin Mbak Olla—"


"Kamu mau minta maaf atas nama suami kamu?" tuduh Olla to the point. "Sorry nggak perlu!"


Dinka menghela napas tapi tidak marah atau apa. Justru dia merasa sebaliknya. "Kalau Mbak butuh teman—"

__ADS_1


"Brak!"


"Aiyyooo!" Dinka kaget bukan main melihat Olla berdiri sambil menggebrak meja. Bahkan minuman milik Olla tumpah. Ia takut sampai menutup muka.


"Sekali lagi gue tegasin, kalau gue nggak butuh temen! Ngerti?!" Olla melotot galak. Dia merasa tersinggung dan kesal sebab dipikirnya, Dinka akan mengatakan hal penting. Ternyata dia hanya dijadikan bahan roasting.


"Kenapa?" tanya Dinka seraya menurunkan tangannya.


Olla mencondongkan tubuh ke arah Dinka. Tatapannya tajam dan menyeramkan. Tulang-tulang diwajahnya menonjol dan penuh urat biru. Ish!


"Karena ...," ucap Olla pelan dan dramatis. "Hanya teman yang mampu berkhianat!"


Dinka mengerjap. Astaga ... kenapa kata-katanya tajam sekali. Tapi untuk siapa kata-kata itu? Dia kalau berteman mana pernah berkhianat? Teman baginya selamanya teman.


Olla menarik dirinya kasar, lalu menutup kepala dengan topi dibalut topi jaket. Ia melangkah keluar meninggalkan Dinka yang masih syok melihatnya.


"Haish, kaki sialan!" Olla mengumpati kakinya yang terasa sakit saat di pakai untuk jalan. Dan bagian intinya juga sangat tidak nyaman. Sakit, ngilu-ngilu gimana gitu.


"Aku harus pake masker biar nggak ketemu siapa-siapa lagi! Bisa mati kalau terus jalan kek gini!"


Olla mencari toko yang menyediakan masker, lalu berlari ke depan untuk mencari taksi. Dia harus bergegas ke terminal untuk segera ke desa tempatnya mengabdi.


Ketika duduk di sebuah taksi, Olla merasakan bagian perut ke bawah berdenyut sendiri-sendiri. Seperti terbebas dari kekangan dan beban berat. "Haish, sialan monster botak itu! Bisa-bisanya bikin aset gue bengkak!"


***


Olla sudah disini ya🤗 kalau penasaran silakan mampir, kalau nggak sabar nunggu update, boleh nunggu banyak🤗 aku kurang apik pie jal? 🤣🤣🤣

__ADS_1



__ADS_2