Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
"Ya, Kenapa Mesti Heran, Tante?"


__ADS_3

Melia menajamkan mata menatap dari atas ke bawah wanita di sebelah Abid, lalu berlama-lama di perut dan tas yang tenteng wanita itu.


Jika dihitung kelihatan usianya sudah 6 bulan lebih, terlihat cantik dengan balutan pakaian yang mirip dengan yang dipakai Nagita. Tasnya itu kalau tidak salah, tiga ratus jutaan dari merk yang sama dengan yang dibawanya. Mustahil Abid membelikannya, kan? Dapat uang dari mana emangnya? Abid kan dokter kere?


Nyicil berapa lama itu? Lima tahun?


Tapi Melia tidak menyerang Dinka juga meski Dinka jelas terlihat memprovokasi dengan terus mengelus perutnya.


"Jadi kita kemana, Mas, setelah ini?" Dinka melihat jam tangannya. "Langsung yoga aja kayaknya, kepalaku agak pusing lihat dunia yang ruwet ini."


Sial, yg ruwet mana sih?


"Anaknya Abid?" Melia mendelik remeh ke arah perut Dinka.


"Yang dua ini iya, Tante ... dan yang ke tiga masih di perut." Dinka memasang senyum lebar sampai ke telinga. "Tante siapa ya? Sodara nya Mas Abid? Tapi kok belum tahu kalau dua ini anaknya?"


"Cih, sodara!" Melia membuang muka. "Dia mantan Olla anak saya. Dan gimana bisa hamil kalau penyakitan?"


"Penyakitan bukan berarti gak bisa bikin anak, Tan!" Dinka terkikik. "Dan apa gak salah sih, MAS Abid kelihatan sehat dan bugar, kalau penyakitan pasti kurus kering dan wajahnya cekung. Mas Abid enggak."


Dinka pura-pura heran menatap Abid dan Alvin dalam lirikan menyindir. Dasar Dinka.


Melia mengertakkan gigi kuat-kuat. "Maksud kamu apa?"


"Kasih lihat fakta, Tan ... kalau mata bisa salah menilai." Ia memicing malas. Ya ampun, yang beneran penyakitan siapa sih? Apa mata wanita itu sudah kena katarak?

__ADS_1


Alvin tidak tampak terganggu, dia hanya mematung dan memperhatikan. Biasa orang cacingan itu pandangan kosong dan kurang fokus. Olla sendiri bingung mau menyela dari mana. Mamanya dan Dinka begitu seru berdebat.


Jadi Olla hanya mendekati Mamanya dengan wajah kesal. Ia menarik-narik tangan Mamanya, tapi sama sekali tidak digubris oleh Mama Melia.


"Fakta kalau suami kamu mandul?" Melia kesal. "Nggak mungkin itu anak Abid, pasti itu anak haram! Dan saat Olla memutuskan Abid, kamu cepat-cepat ambil alih pelaminan!"


"Wah, skenario Tante epic sekali ya, untuk ftv kisah nyata! Dan Tante yang jadi sutradaranya! Arahannya bagus, kemudian Dokter Olla pemerannya! Sip, yang satu sumbu pendek, yang satu nggak tahu malu. Klop sudah!" Dinka bertepuk tangan.


"Ya, Tante nggak usah heran kenapa mas Abid bisa hamilin saya dengan mudah, karena selain saya subur, Mas Abid juga sehat! Mungkin setelah drama putri yang tertukar, ada lagi yang namanya surat keterangan medis yang tertukar." Dinka terkekeh senang melihat Melia yang pucat. Sungguh ini melelahkan, tapi Dinka sedikit terhibur.


"Stop merundung Mama aku, Dinka! Ini urusan kita!" Olla akhirnya menyela melihat Mamanya mulai sesak napas.


"Kau yang merasa punya urusan, tapi aku enggak ya! Dan aku nggak merundung, Dokter Olla, tapi mama kamu yang ngehina aku!" Wajah Dinka berubah serius saat menatap Olla. "Kau yang selalu mencoba punya urusan sama kami, bahkan dengan menggunakan anak kecil yang masih labil dan kurang stabil!"


"Dia yang hubungi aku terus!" Olla menuding Bee yang langsung mengkeret nempel ke kaki Papanya. "Ini semua dia yang mulai!"


"Dia yang mengacaukan aku, Dinka!" Olla lepas kendali. Dinka pikir yang membuat dirinya berakhir menjadi pegawai katering siapa?


Olla menuding Bee keras dan tegas. Dia sudah marah dan lelah. "Dia yang bikin aku nampar kamu saat Abid pingsan dan akhirnya aku dipecat! Ini semua dia penyebabnya!"


Bee ketakutan. Olla sungguh mengerikan.


"Kamu nampar istriku?!" Abid kaget. Kenapa tidak ada yang cerita? Jadi luka memar yang kata Dinka alergi itu disebabkan tangan Olla? Apa Olla tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya? Olla biasanya orang yang berpikir panjang, tapi sekarang? Olla sudah banyak berubah rupanya.


Melia kaget. Alvin bahkan akhirnya mampu berekspresi, sementara Olla seperti tersedak cabai sekilo.

__ADS_1


Abid maju. "Jadi gimana aku balas kamu, Olla?!"


Mata Abid jelas menampakkan kemarahan. Bukankah itu bahaya? Wanita hamil digampar sampai memar, pantas Dinka buru-buru periksa. Jadi begitu ceritanya.


"Ini salah Bee juga!" Olla berkeras, sehingga Bee ketakutan sendiri. Ia sampai harus menunduk agar tidak dilibatkan dalam urusan ini.


"Oke, Bee juga salah, tapi kenapa sih kamu sampai harus nyakitin wanita hamil, ha? Salah apa Dinka ke kamu? Yang ada urusan sama kamu itu aku, bukan Dinka!"


"Bid ...!"


"Aku nggak takut kalau harus ke penjara demi balas kamu seperti apa yang Dinka rasakan, Olla! Kamu udah kelewatan! Kamu membahayakan istri aku, Olla!"


Abid mengangkat tangannya. Olla bahkan sudah memejamkan mata dan memasang sikap defensif, tapi ....


"Eh ... stop-stop!" Nahwa berlari menghampiri sekelompok orang yang begitu rusuh itu.


Padahal, Melia sudah siap pura-pura jantungan, agar Abid dituntut dan dipenjara. Alvin sudah siap melindungi Olla agar dia bisa segera menikah dan mewarisi usaha ayahnya, dan Bee sudah siap, kalau dirinya digampar setelah Olla oleh sang Papa. Tapi ... Nahwa datang bagai penyelamat.


"Maksud saya, tolong namparnya di luar toko saya! Jadi usaha saya nggak kena kutukan! Ih pamali tengkar di toko orang!"


Abid segera menarik tangan Bee lalu menggandeng Dinka pelan meninggalkan kedai jus itu. Membiarkan Olla dan Mamanya kebingungan.


"Mas, aku bisa jelaskan, Mas ...." Dinka merasa bersalah kan, waktu itu dia tidak jujur?


"Diam semuanya, sampai kita tiba di rumah!" Abid menatap Dinka, lalu beralih ke Bee. "Jelaskan di rumah sejelas-jelasnya! Dan kamu Bee ... kamu harus jelaskan ke Papa, gimana bisa kamu menyesatkan orang dewasa dengan pikiran mu, sampai membahayakan Mama Dinka!"

__ADS_1


Bee secara refleks merepet ke Dinka. Ia tak tahu lagi harus minta perlindungan siapa.


Jika saja dia tidak malu, pasti dia sudah nangis gulung-gulung. Kemarahan Papanya bisa mengakibatkan hukuman yang tak pernah main-main. Ya Tuhan!


__ADS_2