Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Dikira Dibuang, Ternyata ....


__ADS_3

Kan, wajah itu merengut makin dalam hari ini?


Mereka sudah bicara sejak malam itu tentang apa yang baik dan tidak, lalu bagaimana seharusnya. Kenapa? Dia khawatir ada motif gelap menunggangi keinginan Dinka. So nggak ada salahnya berjaga-jaga. Dia masih sehat, masih kuat membuahi setidaknya 10 tahun ke depan, atau 20, 30, atau kalau beruntung 40.


Dia harus bicara lagi soal ini nanti. Dinka setuju, lalu apa sekarang? Dan kenapa Dinka itu? Dia mengambilkan barang yang semalam ditanyakan olehnya.


"Mas, yang dari Mbak Olla mana saja?!"


Lalu itu semua ada di hadapannya sekarang. Dinka sedang memaksakan pakaian itu melekat di badannya. Jam ditangan kirinya, lalu dasi—walau dia memang tak butuh benda formal itu, di lehernya.


"Dinka, semua ini barang pemberian dari Olla, loh! Aku pikir akan dibuang—"


"Udah pakai aja!" Dinka bersungut, lalu ketika dia mengambil ikat pinggang, matanya menatap Abid penuh tanya. "Serius, nggak ada celana dari dia?"


Mata Dinka bertatapan dengan Abid. Yang membuat pria itu takut dan cemas. Ini Rusia dan Ukraina udah reda, kan? Apa mau ganti di kamar ini yang meledakkan perang besar? Dinka bisa jadi punya sesuatu di balik tempurung kepalanya. Wanita ini mengejutkan, sejak pertama kali mereka memutuskan bersama, Abid harus ingat terus hal itu.


"Dinka ... Mas salah apa sama kamu benernya?" Dia alih bertanya, jelas semalam dia memberi tahu mana saja yang dari Olla.


"Gak ada salah apa-apa! Udah ... berangkat sana!" usir Dinka seraya mengibaskan tangan. Dia terlihat risi sekali melihat suaminya ini. Muak yang ditahan-tahan.


"Astagfirullah, Dinka ... istri salihanya Mas. Kenapa gitu sikapnya begini?"


Dinka meletakkan handuk Abid yang setengah basah di pundak. Dia menegakkan tubuhnya dan membuang napas kasar. Langkahnya maju hingga sampai di depan Abid.


Dia meraih tangan Abid. Menciumnya lembut. "Assalamu alaikum, Mas!"


Didorongnya Abid pelan, lalu menutup pintu dan menguncinya.


"Din, Dinka ... sepatu Mas belum kebawa." Gedoran terdengar. Mata Dinka berlarian mencari sepatu Abid.


"Yang dari Mbak Olla ada, nggak?"


"Nggak ada kalau sepatu kerja! Adanya sepatu buat olahraga!" teriak Abid.


"Ambil satu yang mana saja, Din ...!"


Dinka mengambil satu dan membuka pintu. "Kerja yang rajin, ya, Mas! Fokus ... jangan mikirin aku terus!"


Sepatu di serahkan sehingga memaksa Abid mendekat.


Wajahnya datar, cenderung kesal kelihatannya. Apa ini? Uang bulanan sudah diberi, kendati uang itu hanya untuk keperluan yang sangat kecil. Mereka ditanggung Mama Papanya sejak ... sejak Dinka di sini. Dulu mama Resti masih minta uang buat ini itu, tapi sejak Dinka di sini, Mama Resti mengcover segalanya. Abid curiga.


"Din—"


"Sama Mbak Olla satu shift lagi, kan? Long shift? sampai nanti malam?"


Oh, jadi ini ...?

__ADS_1


"Mas bisa pulang demi kelonin kamu, Din ... tenang aja. Itu bisa di atur—"


"Assalamu alaikum lagi, Mas!"


Blam!


Abid memejamkan mata rapat sekali, takut kalau pintu itu mengenai mukanya.


"Astagfirullah!" Abid membuang napas, lantas memakai sepatu di tangga.


"Ayo berangkat, Papa." Honey mendekat dan membantu Papanya memakai sepatu. "Mama Dinka capek kali, Pa."


Abid tersenyum dan mencium kening Honey. "Kamu ajak main Mama Dinka terus, sih ... jadinya capek mamanya, kan?"


Honey terkikik. "Mama Dinka capek perasaan juga kali, Pa."


"Maksudnya—"


"Uncle Papa ... Bee udah siap!" Bee datang dengan senyum merekah. "Ayo Papa!"


Dia menarik tangan Abid yang sudah selesai memakai sepatu. Ya ampun, Papanya harus pakai sepatu diluar. Tega sekali Tante Jahat itu.


"Sarapan dulu, trus Papa antar ke sekolah." Abid meraih kedua anaknya, lalu menoleh ke arah kamar. Dia berharap Dinka keluar dan ikut sarapan. Mereka sudah sebulan penuh menikah, mulai terbiasa, dan Dinka terkadang makan pagi lebih lambat. Dia maklum, kamar sekarang dibersihkan sendiri oleh Dinka, membawa pakaian kotor ke ruang cuci, membersihkan ranjang yang lebih mirip arena adu banteng, atau apalah, modelnya. Carut marut tak keruan. Lalu urusan pribadinya sendiri sebelum berangkat ke lapak jualannya.


"Anak-anak barang sama kamu, Bid ... Heru ke bandara jemput Papa barusan." Resti sudah anggun duduk di meja makan dengan kopi di cangkir mengepul di depannya.


"Sarapan punya Honey di bungkus aja, Oma! Janjian sama temen mau tukar sarapan hari ini." Honey menatap Omanya penuh, lalu tangannya mengambil susu di gelas. "Bawakan susu juga, Oma!"


Resti tersenyum. "Tunggu disiapkan Bibi, ya!"


Honey mengangguk dan menghabiskan susu, sementara yang lain segera menyantap hidangan yang tersedia.


Sedang asyik menikmati sarapan, Koko masuk tergopoh-gopoh.


"Mas Abid, maaf ... mobilnya nggak bisa distarter." Koko bukan melapor kalau dia tidak bisa membawa kemana mobil itu untuk diperbaiki, tapi memberi tau Abid lebih awal agar memakai jasa angkutan yang lain.


Abid menarik napas. "Panggil orang bengkel, Ko ... minta beres hari ini juga!"


Abid keluar galaknya, saat mengeluarkan ponsel. Koko mengangguk. Lalu segera kabur dari ruang makan. Dia tahu harus apa.


"Kita bareng Mama Dinka saja, Pa!" Honey menyeletuk. "Papa boleh naik taksi."


Honey merosot lalu memanggil Dinka di kamar, yang tak berselang lima menit sudah siap dengan helm, kunci motor dan paperbag ditangan.


"Mas naik taksi apa aku antar?"


Abid membeliak kaget, "Taksi aja!"

__ADS_1


Dinka mengangguk lalu menuju Mama mertunya untuk pamit. Abid sudah melesat keluar ruangan mendahului Dinka.


Dia menggandeng Honey. "Bee?"


Pria kecil itu melengos, lalu ngacir ikut Papanya keluar.


"Ya sudah!" Dinka mengendikkan bahu. Terserah saja, sih, ya.


***


Dinka dan Honey melaju sambil bernyanyi. Dengan lihai, Dinka meliuk untuk mencari celah untuk menyalip. Sementara Abid masih berkutat dengan kemacetan yang mendadak parah dari biasanya.


Abid hanya bisa menggeram saat melihat Honey melambai dengan riangnya. Dinka sengaja memamerkan kemampuan di depan Abid, hingga keadaan itu membuat Abid ngilu sebadan-badan. Dia mual, berkeringat dingin, dan sesak. Nggak mungkin dia takut hanya melihat saja, tanpa mengalami.


"Papa kenapa?" Bee panik. "Papa jangan mati!" Dia mengguncang sang Papa dengan air mata berderai. Astaga ....


"Hu ... bungi ... Mama Din ...ka—huek!" Abid sesak, sehingga ucapannya terbata-bata. Perutnya mual sekali, dia bahkan sudah muntah.


Bee panik mengambil ponsel lalu mencari kontak Olla, oh bukan ... Dinka. Sekarang bukan waktunya untuk semaunya sendiri. Papanya dalam bahaya.


"Halo Tante ... Papa sesak napas gara-gara lihat Tante ngebut tadi—"


Bee berdecak saat merasa panggilan dimatikan sepihak oleh Dinka. Bee tak peduli, lalu terus berusaha membuat Papanya bangun. Bahkan Bee memberi Abid minum dari botol minumnya.


"Papa kenapa?!" Bee menangis tersedu-sedu.


Mungkin Abid kelelahan. Dia selama berminggu-minggu lebih banyak bekerja, baik pakai otak maupun otot. Seluruh organ tubuhnya bekerja tak kenal lelah siang dan malam. Termasuk rutin mengajak Dinka olahraga agar tidurnya yang sisa sekitar 3 jam itu bisa nyenyak.


Taksi berhenti, seketika tangis Bee juga terhenti, Abid masih samar membuka mata, tapi dia tak bisa bergerak.


"Mas kenapa?" Dinka panik saat membuka pintu. "Pak, apa bapak nggak bisa cepet jalannya?!"


Dinka mengomel melihat Abid pucat dan berkeringat. "Bapak pindah saja! Biar saya yang nyetir!"


Abid mendengar itu dan menggeleng pelan. Wanita itu nyetir motor saja ugal-ugalan. Gimana mobil? Apa dia sudah waktunya setor ke malaikat hari ini? Tuhan sudah ingin bertemu dia, kah?


"Mas tahan, ya!"


Tau-tau, Dinka sudah duduk di kursi kemudi. "Bee, Honey, pegangan! Kita akan ngebut! Pak sopir, boleh pingsan duluan kalau mau jantungnya aman!"


Selanjutnya, Dinka mencari jalan lain untuk mengatasi keadaan ini. Dia paling bisa mencari jalan alternatif hingga nanti akan mudah sampai di Rumah sakit.


Abid jangan tanya. Dia menahan napas dan pingsan baru sepuluh meter berjalan. Astaga ... memalukan sekali!


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2