
Abid rencananya akan menyusul. Dia masih bekerja dan akan langsung menuju ke Villa. Dan karena kebiasaan Abid yang jarang memegang hape saat bekerja, membuat Dinka kesulitan menghubungi suaminya tersebut perihal keikutsertaan anak-anak. Dinka berencana mengubah plan yang sudah tersusun rapi kemarin.
Jadi ketika sampai di Villa, Abid syok berat melihat keriuhan bocil membuat ruang tengah menjadi berantakan. Ruangan itu penuh dengan para suster dan mainan anak, sementara anak-anak sendiri berkejaran tak tentu arah.
Dinka di ujung lain ruangan hanya bisa menatap pasrah suaminya.
"Gimana ini?" Begitu sampai di depan Dinka, Abid bertanya seraya mengecup kening Dinka. "Aku udah bawa apa yang kamu minta loh. Itu disembunyikan dimana kalau mereka merajalela begini?!"
"Kunci aja di mobil, Mas! Jangan biarkan anak-anak ke sana!" Dinka kesal sendiri. Dia harus sembunyi-sembunyi mencari bunga, agar malam mereka menjadi romantis, lilin aromaterapi, dan Abid konon katanya membeli beberapa pakaian dinas berbagai model yang bisa Dinka gunakan selama disini.
Keduanya membicarakan rencana ini diam-diam melalui pesan WhatsApp. Tapi kenapa bisa bocor?
"Kamu gimana?!"
"Aku bawa baju ganti tadi! Abisnya Mas susah dihubungi! Ya udah aku inisiatif sendiri. Udah tau endingnya begini, kan?!"
Abid mengerti bagaimana perasaan Dinka, tapi tidak bisa mengganti rasa kecewa yang wanita itu rasakan. Sungguh, Dinka sudah berusaha dan berharap mereka bisa berdua saja, jadi setelah lelah dan pusing yang Dinka hadapi, wajar kalau Dinka kecewa.
"Mas mandi dan makan ya! Aku kebelakang dulu. Arion sudah tidur, mungkin dia lelah ... jadi jangan ganggu dia sama Sus Heni!"
Abid mengangguk patuh. Melihat wajah Dinka yang memendam kecewa, Abid hanya bisa berharap bisa mengurangi perasaan itu nanti. Semoga saja ada kesempatan.
***
"Ya elah, di sini rupanya!" Jen datang dengan semangkuk makanan di tangannya. Dinka menoleh malas.
"Mukanya gitu amat?!" Jen duduk di hadapan Dinka, lantas mengunyah ketoprak full version seolah tidak peka pada perasaan Dinka.
"Lo gak bisa ya, liburan sendiri?!" Dinka menatap kesal kakak iparnya tersebut.
Jen mengusap bibir, menatap Dinka dengan kening berkerut. "Bisa, kenapa emang?!"
__ADS_1
"Ini liburan gue sama keluarga kecil gue! Ngapain lo suruh anak-anak lo ikutin gue?!" Dinka pikir, Jen pasti berencana mengacaukan honeymoon nya.
"Aku nggak nyuruh kok! Sumpah!" Jen kaget. "Ace bilang kalau kamu mau liburan ajak anak-anak ... Trus aku inisiatif nyewa Villa samping itu, karena takut kamu repot jaga anak-anak sendirian."
Dinka mendengus. Yang rese ini sebenarnya siapa sih? Masa Ace juga jadi jahil kaya Agil?
"Sumpah! Aku malah nggak ada plan buat ke mana-mana minggu ini! Dan gak enak aja kamu mesti jaga anak-anak padahal baru sembuh."
Dinka menelan ludah. Perasaannya terlalu campur aduk.
"Emang kamu nggak ajak Ace ya?!" Jen bertanya perlahan. Memastikan saja sih. Dilihat wajah Dinka agak kesel, pasti ada sesuatu yang salah.
Dinka menggeleng.
"Nggak mungkin Ace ngadi-ngadi kalau nggak kamu kasih klu! Atau kamu pernah keceplosan mau liburan sendirian, tanpa anak-anak?!"
"Enggak! Aku nggak bilang apa-apa!" Dinka kukuh pada jawabannya. "Aku cuma bilang mau ke tempat renang Arion kaya biasanya, bukan mau ke sini!"
"Jadi mereka tahu dari mana?!" Jen bingung. Tapi Dinka tidak. Ada Honey yang gemar membuka ponselnya. Pasti Honey yang membocorkan rencana ini ke Ace.
"Mami!" Honey berteriak ruang menuju mereka berdua.
Jen dan Dinka saling pandang lalu membuang napas. Jen paham, bisa jadi Honey tidak mau pisah dari Dinka.
"Ya udah, entar anak-anak sama aku aja!" Jen mengalah. Dia tahu bagaimana rasanya mendamba. Tetapi tak pernah punya kesempatan berdua.
"Bukan gitu—"
"Sama aku nggak usah sungkan. Yang kamu nggak bisa lakuin sendiri, bilang ke aku, entar aku bantu!" Jen menyela dengan tidak sabar.
Dinka merasa tak enak hati sebenarnya, tapi sudahlah, Honey juga sudah duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Honey, kamu suka buka hape Mami, ya?!" Dinka bertanya tanpa sungkan meski ada Jen di sana.
"Maaf, Mi ...," rengek Honey seraya memeluk Dinka. "Tapi Honey pikir, Mami tuh nggak ngajak aku sama Bee! Tak taunya sama Mami Ace dan Opa Oma juga. Honey nggak mau jauh dari Mami, nanti Mami tidur lama lagi kaya waktu itu!"
Jen ingin tertawa rasanya. Honey sudah terlalu lengket sama Dinka, jadi wajar kalau merasa begitu.
"Honey nakal ya!"
"Janji nggak lagi! Asal Mami janji ke mana-mana selalu bilang ke kita. Aku takut Mami!" Honey makin erat memeluk Dinka. Bahkan anak itu sudah terisak-isak.
"Okey, Mami maafin ... asal setelah ini, Honey jadi anak yang baik! Nggak boleh buka WA Mami tanpa seizin Mami! Ngerti!"
Honey mengangguk. "Ngerti Mi!"
Dinka mengusap rambut Honey sampai anak itu tenang.
Jen bukan tidak takjub sebenarnya tapi dua anaknya juga begitu lengket dan sayang dengan Dinka. Jadi dia sudah biasa. Sejujurnya, sebagai sesama wanita yang punya keponakan, kedekatannya dengan anak-anak saudara Jen dia kurang dekat. Dekat tapi tidak sampai lengket.
Setelah beberapa saat lamanya, Honey mulai tenang dan Dinka membiarkan Honey kembali bermain.
"Honey tuh lupa kalau yang buat kamu tidur lama itu dia!" Jen berbicara lagi setelah sekian waktu diam.
"Tapi dia juga yang menyembuhkan—"
"Walau caranya juga bisa bikin Arion celaka!" Jen menyela cepat. Dia tahu, Honey tidak boleh disalahkan di depan Dinka langsung.
"Ya gimana lagi! Dia anak Mas Abid! Aku harus menerimanya." Dinka berekspresi datar saat bicara.
"Tapi kalau dia membahayakan kamu, kamu boleh memperingatinya." Jen pikir, Dinka agak berlebihan pada Honey. "Sayang itu ya harus diberi tahu pas salah, dan diberi peringatan ketika membuat orang lain celaka. Meski Abid sudah memarahi Honey waktu itu, tapi kamu nggak boleh diam saja! Honey terlalu sembrono!"
Dinka setuju. Tapi kenapa rasanya memarahi Honey seperti Bee dia tidak bisa.
__ADS_1
"Honey bisa jadi anak baik ditangan kamu!" Jen berdiri. Dinka menatap kakak iparnya. Agak heran dengan ucapan Jen kali ini.
"Tapi bisa jadi anak yang kurang ajar jika kamu salah mengasuhnya! Darah kalian tidak sama, dan belum terlambat membuat dia paham apa artinya membuat orang lain celaka dengan perbuatannya yang sembrono!"