Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Harusnya Kamu Berhenti Selagi Bisa


__ADS_3

Genolla harus senang karena sidang atas dirinya ditunda sampai dua hari, dan hari ini, siang nan terik ini, Olla berjalan menyusuri koridor menuju ruang rapat.


Ketika pintu dibuka, Olla sedikit terkejut sebab melihat ruang rapat masih kosong melompong, hanya kursi pimpinan terisi oleh seseorang.


"Selamat siang, Bu Vivian." Olla masuk dan mengeraskan suara agar Direktur itu menyadari kehadirannya.


"Seharusnya anda berhenti selagi bisa, Dokter Olla!"


Seketika Olla terperanjat, di depannya bukan Vivian, melainkan Ranu.


"A-anda?"


"Ya ... Dokter." Ranu tersenyum puas melihat keterkejutan Olla. "Saya di sini hari ini karena ada janji anda pada saya yang terlanggar."


"Sa-saya—"


"Saya pernah minta anda mundur jika anda tidak bisa bersikap profesional, kan?" Ranu berdiri. "Jadi anda lebih suka diberhentikan secara tidak hormat rupanya?"


Itu tidak mungkin ... dia sudah dengar kalau hanya mendapat surat peringatan pertama saja. Sebab tindakannya saat itu refleks dan murni sebuah bentuk kecemasan pada rekan kerja. Dan Dinka tidak apa-apa setelahnya. Tidak ada nyawa terancam, dan tidak ada laporan maupun aduan dari korban.


"Diberhentikan tidak hormat?" Olla menegaskan. "Saya tidak membahayakan siapa-siapa, Miss."


Ranu tersenyum, sudah menduga akan menerima pernyataan seperti itu. "Kita berdua sama-sama tahu kemana arah pembicaraan kita, Dokter!"


"Tapi saya tidak dalam konteks mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan! Saya murni melindungi rekan saya dari bahaya," sanggah Olla tak terima.


"Dan rekan kerja anda adalah mantan yang masih anda cintai, Dokter! Lalu korban anda adalah istri mantan anda, dengan kata lain, anda menyerang wanita yang anda anggap ... pengganggu." Ranu meletakan duduk persoalan dengan gamblang agar Olla tidak lagi merasa buntu juga tersesat. Ranu bicara sesuai perjanjian dan Olla sudah melewati apa yang dia janjikan sendiri.


"Jika wanita itu orang lain, saya tidak akan jauh-jauh pulang demi mengurus hal ini, kan?"


Olla lupa. Mereka sudah seperti saudara. Olla harus sering diingatkan, bahwa di dunia ada hubungan sedekat dan seerat itu.


Dia gemetar dan bingung, jadi Ranu membantunya mencari pilihan.

__ADS_1


"Buat surat resign dan minta maaf secara terbuka pada Istri rekan kerja anda, atau—"


"Tapi Dinka tidak melaporkan ke management, Miss ... Saya sudah mendapatkan surat peringatan. Lagian dia baik-baik saja."


Ranu terkekeh. "Saya akan memaksa Dinka membalas anda secara pribadi kalau begitu. Di tampar dan dicaci maki di depan banyak orang. Seperti itu?"


"Itu tidak masalah ...." Ya, tidak apa, toh hanya malu sesaat lalu orang pada lupa.


"Dengan begitu Dokter Abid juga akan melihatnya." Ranu beralih dari posisi nya menuju depan wajah Olla. "Apa anda siap mendapatkan kebencian dari mantan Anda?"


Hah? Apa? Dinka belum memberitahu Abid? Jadi Abid belum tahu kelakuannya?


Apa ini kabar baik? Atau justru sebaliknya?


"Pilih saja, Dokter! Opsi sebelumnya atau anda meminta maaf secara terbuka di hadapan Dinka, mendapat balasan yang sama atau satu lagi, Dokter."


Olla mengerut khawatir. Opsi selaku ada dua, jadi kenapa bisa bertambah satu lagi?


"Menulis surat resign dan enyah dari hadapan Dinka selamanya!"


"Tapi Miss—"


"Anda lebih suka di black list rupanya!"


"Jangan—Saya mohon jangan." Olla sekarang serius ketakutan. Kemana saja jalannya telah diblokir. Tanpa dia sadari, dia telah memberi Ranu banyak pilihan yang menyulitkan. Padahal awalnya, Ranu hanya akan meminta Olla mengundurkan diri dan minta maaf saja. Tidak tahu kalau Olla memberinya banyak pilihan yang mencekik.


Ah, kapan-kapan Olla wajib diajak diskusi jika dia butuh saran saat hendak mencekik orang.


"Oke ... silakan tulis surat pengunduran diri anda, Dokter! Saya menunggu besok pagi di meja saya." Ranu mundur dengan aura tenang. Dia bersikap sebagaimana seorang pemimpin bersikap.


"Apa?!" Olla memekik. Meja? Meja mana? Apa maksudnya itu?


"Saya menempati ruangan Dokter Vivian kalau anda belum tahu, Dokter!" Ranu mengerti. Olla pasti tidak akan paham.

__ADS_1


"Tapi Bu Vivian—"


"Tidak usah mencemaskan orang lain yang naik ke posisi lebih tinggi, Dokter ... khawatirkan diri anda yang setelah ini akan bekerja dimana!" Ranu tersenyum seraya mengendikkan kepala.


Ah, ya ... dia lupa.


"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, saya rasa pintu masih belum tertutup, Dokter. Saya masih banyak pekerjaan setelah duduk di sini." Ranu mengendik lagi ke mejanya sendiri, yang diberi tulisan Direktur.


Olla tergagap sesaat. Dia diusir begitu saja. Tanpa ada perdebatan yang menujukkan kalau dia berhak membela diri. Dia menjadi terdakwa tanpa menjadi tersangka lebih dulu. Dia dituduh bersalah tanpa aduan yang jelas. Ah, pengadilan macam apa ini?


Bibir Olla masih penuh dengan ungkapan terhadap kesemena-menaan sang pemilik rumah sakit yang arogan. Ini berat sebelah, ini tidak adil. Ini terkesan kolutif dan tidak profesional. Tapi ... dia belajar dari sebelumnya, semakin banyak bicara, semakin banyak pula dia menderita. Ah, kenapa? Kenapa di sini begini?


Olla melangkah goyah meninggalkan ruangan rapat. Dia tahu di sini gaji tinggi dan tak pernah terlambat, bonus-bonus bahkan mengguyur mereka bak hujan, tidak ada unsur yang terkesan membuat mereka keberatan, tapi ketika mereka melakukan kesalahan, hukumannya juga tak main-main. Memang tidak tertulis, tapi semua hafal seperti tertanam di kepala mereka. Seolah mereka membaca hukum tersebut setiap hari. Olla hanya menganggap remeh. Dia kelewat merasa dia tidak akan pernah melakukan kesalahan.


Sementara Ranu langsung melihat kembali rekaman cctv dan mengirimkan ke Dinka. Mungkin dia butuh rekaman ini untuk bicara dengan suaminya.


Sayangnya, Dinka hanya berdecak melihat kiriman Ranu.


"Ngapain sih, dia kirim beginian? Dari Swiss bisa ya, edit-edit begini?" Dia mendumal kesal. Sekarang dia duduk dengan Jen di rumah. Jen dan Darren berkunjung sebab tidak sempat datang saat opname kemarin. Ada Mama Desy juga di sini, dan semuanya sedang memegang perut Jen yang katanya menendang-nendang.


Sementara perutnya berkedut saja tidak pernah. Yang berkedut justru di tempat lain, yang membuat Abid kesenangan. Asem memang.


"Ini kayaknya laki, ini!" Resti memekik senang. "Sama kaya cucuku, Jeng!"


"Nendangnya masih acak, Jeng ... kalau cowok hanya sebelah aja." Desy yang berpengalaman merasa tak terima.


"Cucuku belum nendang, pasti dia cewek." Resti mengendik pelan ke perut Dinka. Tak ada raut tidak suka, mereka hanya bicara random saja asal suasananya gempita.


"Kan Mas Abid pengennya cewek, Jeng ... ya bagus kalau bisa keturutan." Desy tertawa senang.


"Modelnya sih, laki, Mah!" Jen menyeletuk, matanya memicing saat menatap Dinka. "Mukanya kucel kek cucian gak disetrika!"


Refleks Dinka memegang wajah. Benarkan begitu?

__ADS_1


"Aku ke salon kalau gitu!" Dinka sontak berdiri. Tidak bisa kalau mukanya kucel. Padahal dia hanya belum mandi dari pagi.


Semuanya tertawa. Dinka yang sensi begitu membuat mereka senang, setidaknya ... anak itu punya perasaan. Kelewat cuek dan datar membuat semua orang berpikir Dinka tak punya hati.


__ADS_2