
Dinka kaget melihat sekelilingnya. Banyak yang datang silih berganti. Menyapanya, menanyakan kabar dan bagaimana perasaannya, tetapi dia masih susah bicara.
"Bukannya aku cuma habis lahiran, ya?" batin Dinka. Tapi kenapa semua orang begini heboh? Bahkan Jen memeluknya sambil menangis. Bukan hanya Jen, tapi semua menangis. Aneh banget mereka.
Lalu bayi itu ... bayi tampan itu yang tumbuh di perutnya selama ini? Astaga ... nggak nyangka dia bisa mengeluarkan bayi sebesar itu.
Itu hasil karyanya, kah? Ya ampun. Beneran itu keluar dari perutnya? Tapi kenapa tak ada rasa takut sama sekali? Juga tidak sakit? Eh, tapi ... rasanya ada yang aneh di kaki. Gatal tapi kenapa tidak bisa digaruk.
"Bu Dinka, apa yang ibu rasakan?" Tiba-tiba seorang dokter datang dan menyalakan senter terang ke mata. Ih, silau Dok!
"Jelas baik, lah, Dok ... masa gitu saja nanya?!" Dinka menelan ludah. Suaranya tidak keluar. Bibirnya kelu.
"Eh, ini kenapa lagi? Aneh, banget sih!"
Dokter itu tersenyum saat Dinka jelas terkaget-kaget. Mungkin matanya membeliak sampai membuat Dokter itu paham apa yang dia rasakan.
"Istirahat dulu, Bu ...."
"Istirahat lagi? Tapi kan nggak capek? Itu, Dok ... aku mau gendong anakku! Eh, Dokter ...!"
"Yah, malah kabur!"
Lalu semuanya pergi, dan dia lelah kembali. Mengantuk kembali. Lantas dia tidak ingat apa-apa lagi.
***
"Bu Dinka mungkin akan lumpuh sementara waktu, Dokter Abid."
Itu suara siapa sih? Dinka terusik.
__ADS_1
"Kita harus memastikan setelah Bu Dinka sudah fit. Bersabar, ya, Dok."
"Tentu, Prof ... makasih atas perhatian Prof ke saya dan istri."
Dinka membuka mata. Ah, ini sebenarnya ada apa? Masa iya, lumpuh?
"Mas—"
Ah, tapi dia basis bersuara sekarang. Baguslah.
"Mas ...."
"Eh, ya Sayang!" Abid bergegas menghampiri Dinka. Sejak terbangun siang tadi, Dinka sudah tidak perlu ditopang oleh alat bantu pernapasan. Bahkan semua peralatan medis telah dilepas. Dinka dalam keadaan baik dan sehat.
"Haus." Meski parau, Abid tahu apa mau Dinka jadi dia segera memberi Dinka air minum.
"Kamu laper, nggak, sih ... tidur selama itu?!"
"Tunggu kamu sembuh ... kita makan di tempat yang kemarin pas hamil nggak bisa kamu datengi." Abid menatap Dinka lain. Bukan apa-apa, dia hanya kasihan sebab mungkin Dinka tidak bisa lagi bergerak semaunya—dalam waktu dekat.
Posisi jatuh Dinka sedikit terduduk, dan kata dokter tadi ada masalah pada tulang ekor, yang menyebabkan kelumpuhan. Tetapi lebih jelas, akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tergantung bagaimana kondisi Dinka setelah ini.
"Udah malam, ya?"
"Iya ... dan baby kita udah tidur, jadi Mas nggak bisa bawa kemari." Abid menyisihkan botol minum, lalu mencium Dinka lama di kening.
"Senang kamu kembali, Sayang."
Dinka tersenyum.
__ADS_1
"Emang aku kemana?" tanya Dinka lemah.
Abid melepas ciumannya, menangkup pipi Dinka gemas. "Kamu jalan-jalan entah kemana ... sendirian, ninggalin aku sama baby kamu di sini."
Dinka terdiam cukup lama. Mencoba mengingat lagi apa yang terjadi padanya terakhir kali.
"Sudah ingat?" Abid mengagetkan Dinka.
"Ya, sedikit," jawabnya lemah. "Honey—?"
"Dia terus menyalahkan dirinya sendiri." Abid tersenyum.
"Ah, ini bukan salahnya, Mas." Ya ampun, anak itu pasti sekarang murung memikirkan dirinya. "Aku ingin pulang."
Abid mengusap pelan kepala Dinka yang selama dirawat selalu diperhatikan hijabnya oleh Abid. Bahkan Abid meminta perawat perempuan untuk memastikan hijab Dinka terpasang rapi.
"Kamu sembuh dulu, baru kita pulang ... Oke?!"
"Aku uda sehat." Dinka ternyata masih sama keras kepalanya dengan sebelum hilang kesadaran.
Abid langsung menghadang Dinka yang mencoba menggerakkan kakinya, tetapi tidak bisa.
"Dinka ...."
"Mas, aku bakal ngerepotin kamu setelah ini." Dia tidak menangis, tidak juga marah, justru merasa menjadi beban. "Mas boleh kok kalau mau nikah lagi."
Dinka menatap kakinya yang sama sekali tidak mau bergerak. Mungkin selamanya akan begini kan? Pasti kalau cedera di bagian itu susah sembuh nya.
"Mau nyari yang diatas kamu itu susah, Din ... lagian untuk apa nikah lagi kalau udah punya kamu yang begini baik ke Mas, kan? Udah kasih Mas kebahagiaan sebesar ini, udah kasih Mas hidup yang istimewa, udah kasih semua yang berharga ke Mas. Mas udah stuck sama kamu, Sayang, tolong jangan bilang yang aneh-aneh, ya." Sumpah demi apapun, saat melihat Dinka yang begini tegar, hati Abid bergetar hebat. Harusnya Dinka menangis, sedih, meratap, tapi kenapa malah memikirkan orang lain?
__ADS_1
Apa hati Dinka seluas itu? Seikhlas itu? Ah, Dinka ....
Abid menggenggam tangan Dinka erat, menatap mata bulat sayu itu lekat dan dalam. "Ini ujian buat kita Sayang ... kali ini biar Mas yang berjuang untuk kamu."