Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Perkerjaan Tambahan Sus Heni


__ADS_3


"Mamiii!" Honey langsung memeluk kaki Dinka sangat erat.


"Hon—Honey!" Abid merasa tak enak hati melihat sikap anaknya ke Dinka. Namun belum sempat ia melakukan apa-apa, Sus Heni menimpali.


"Maaf, Pak ... Bu," ujar Sus Heni begitu berhasil menyusul—terengah. "Pas saya keluar, anak-anak sudah sampai di depan."


Sus Heni menundukkan kepala. Ia sempat melihat apa yang majikannya lakukan, jadi dia baru paham kenapa dia diminta pergi ke villa sebelah.


"Maaf, Pak," lanjutnya lirih penuh sesal.


Dinka dan Abid hanya bisa menghela napas. Di bawah, ada Bee yang tampak sama sungkannya dengan Sus Heni. Tentu tangisan Arion yang jadi penyebabnya dan Honey si buang keladinya.


"Honey!" Abid berjongkok, meraih pundak Honey tanpa berani memandang Dinka yang tak mampu bergerak. "Dedek nangis karena teriakan kamu, kamu nggak merasa bersalah gitu ... udah bikin dedek nangis!"


Honey merengut. Ia tak merasa begitu. Tadi Arion kan nangis terus? Emangnya suaranya yang bikin Ion nangis?


"Honey sekarang tidur sama Abang, sama Sus Heni—"


"Honey belum ngantuk! Masih belum main sama Mami seharian ini, Honey mau ajak Mami main abis ini!" Honey melirik Papanya, tanpa melepas dekapan pada kaki Dinka.


"Honey!" bentak Abid seketika. Hal itu membuat tangisan Arion yang hampir tenang, pecah lagi. "Oh, sorry, Arion sayang!"


Astagfirullah. Abid sontak berdiri dan mengelus pucuk kepala anaknya. "Sama Papa aja, biar Mami istirahat bentar," bujuk Abid lembut.


Honey melihat itu. Ia merasa diperlakukan berbeda sejak ada Arion.


"Mami—" Ia berniat protes, tapi ....


"Honey tidur sama Sus Heni! Jangan ganggu Mami! Mami capek urus dedek seharian! Kamu sebagai Kakak tuh harusnya ngerti!" Abid kesal. Astaga, bisa-bisanya Honey begitu. Merengek pada Mami nya bahkan Arion belum berpindah tangan. Anak ini lama-lama....


"Mas jangan teriak gitu lah! Honey takut nanti!" Dinka merasakan tangan Honey mencengkeram lebih erat dari sebelumnya. Ia tahu, Abid pasti baru kali ini bertindak begitu. Bahkan ia melihat sesal di antara ekspresi kemarahan suaminya.


"Honey nggak boleh keterlaluan sama kamu, Dinka! Dia harusnya tau kondisi kamu kaya apa! Dan kamu nggak harus mengerti dia!" Astaga, kenapa emosi Abid mendadak memuncak. Ia melihat Honey seperti ada hal yang tak mampu ia ungkap sebelumnya.


"Mas—Honey!"

__ADS_1


Dinka kaget bukan main. Honey langsung lari begitu saja mendengar ucapan Papanya. Dinka hanya bisa pasrah melihat ini.


"Nggak gitu cara negur Honey, Mas!" Dinka tetap tidak Terima Honey dibentak, lantas usai memberi Abid tatapan penuh kecewa, ia turun menyusul Honey.


Arion masih di gendongan. Abid bahkan tak kuasa mengucapkan sepatah kata untuk menahan Dinka tetap fokus pada Arion. Bukan maksudnya mau membentak, tapi Honey sudah keterlaluan.


Banyak sangat keterlaluan yang Honey lakukan. Tapi Abid seakan tak punya kesempatan menasihati Honey.


"Arghhh!" Sialnya, sikap Dinka yang terkesan memanjakan Honey, tak bisa Abid cegah begitu saja. Dinka tampak bahagia memanjakan Honey. Jadi bagaimana dia mampu merusak kegembiraan itu dari wajah istrinya tercinta?


Abid mengusap wajahnya kasar. Lalu dengan tak berdaya ia menyusul Dinka ke kamar yang ditempati Honey. Ia tahu, sudah saatnya ia bicara soal ini pada Dinka.


"Mami fokus sama Arion saja!"


Langkah Abid terhenti di balik tembok menuju kamar Honey. Ia mengintip.


"Honey emang keras kepala dan manja, Bee!" Dinka begitu sedih, terdengar dari suaranya yang pelan dan sendu. "Nggak dibentak juga kali, caranya biar dia bisa nurut."


"Papa udah benar, Mi! Jangan khawatirkan Honey." Bee menatap adiknya yang menangis gelisah. Tidak keras, tapi Bee tau Arion merasa tidak nyaman dan lelah.


"Mami nggak harus baik terus ke kami! Kami udah banyak nyusahin Papa sama Mami. Jadi biarkan kami sedikit tahu diri!" Bee menunduk. Dia harus tahu diri. Bukan tidak tahu terimakasih begini. Mereka harus lebih berbakti, lebih dari siapapun di dunia pada dua orang ini. Tanpa Papa Abid, mungkin mereka berdua sudah mati. Tanpa Mami Dinka, mungkin tak ada tangan keibuan menyentuh kepala.


"Bee, ini tuh bikin Mami merasa ninggalin Honey." Dinka keberatan. "Honey nanti mikir kalau Mami nggak sayang—"


"Biar Bee yang jelasin ke Honey, Mi! Honey pasti ngerti!" Bee ingin membungkuk dan memohon agar Dinka segera pergi. Jika terus begini, dia bisa lepas kendali. Ini saja air matanya sudah mengambang di mata.


Abid ingin keluar sebenarnya, tapi dia tidak ingin membuat Bee sungkan. Bee hanya begitu pada Dinka. Padanya saja, Bee banyak diam.


Dan pengertian Bee ... rasanya adalah hasil ulah bar-bar Dinka yang sempat membuat Bee tertekan dulu.


Apa mungkin sikap Dinka memanjakan Honey ini juga akan sama hasilnya dengan apa yang dilakukannya ke Bee? Lelaki harus dikerasi, perempuan harus dimanja saat kecil? Baru kebalik pas dewasa? Dinka suka dikasari soalnya, sementara dia ... eheem—suka dimanja.


"Em—Bee!" Abid membuang harga diri. Ia muncul tanpa menutupi bahwa dia sudah menguping sejak awal. Astaga, ingat dikasari dia jadi bersemangat.


Dinka dan Bee menoleh bersamaan.


"Papa percaya sama Bee! Bee pasti bisa kasih Honey pengertian." Abid mengambil posisi diantara Dinka dan Bee. Sok keren.

__ADS_1


"Mami lelah karena Ion. Ion kan masih bayi. Belum bisa adaptasi dengan lingkungan baru kaya Bee dan Honey. Jadi sebagai Abang, Bee harus bantu Mami, ngerti kan?"


Dinka mendengus. Modus ni laki!


Bee melirik Dinka dan mengangguk tanpa ragu. "Bee masuk dulu, Pa."


Abid langsung sumringah dengan senyum formalitas yang terpampang sampai ke telinga. "Anak baik Papa cepet bobo, ya!"


"Malam, Mi!" Bee melambai kecil ke Dinka yang langsung dibalas senyuman dan ucapan good night tanpa suara.


Sus Heni muncul serta merta. "Bu, perlengkapan Arion sudah saya siapkan, kalau Ibu mau nyemil, sudah saya siapkan buah dan yogurt. Em, saya temani Honey ... boleh ya, Bu?"


Dinka mengerutkan kening. Ia curiga melihat tingkah Sus Heni yang agak lain. Apa mereka tadi ketahuan?


"Ehe ... saya agak masuk angin pas naik mobil mewah tadi! Saya nggak biasa, Bu," kilah Sus Heni. Dia sudah sakit di pipi sebab pura-pura terus dari tadi.


"Ya udah, nggak papa! Saya bisa bantu istri saya, Sus! Sus istirahat saja, kalau perlu saya kasih obat biar nyenyak tidurnya," tawar Abid serius. "Saya ambil dulu—"


"Ndak usah Pak!" sela Sus Heni cepat-cepat. "Saya biasa tidur cepet kok, dan kalau udah tidur kaya kebo pingsan! Nggak bakal denger apa-apa, walau petir menyambar juga!"


Ia menatap Abid dan Dinka bergantian. Senyumnya masih sama lebar seperti tadi. "Saya masuk, ya, Pak, Bu."


Sus Heni melesat secepat mata berkedip.


"Wah ... semesta mendukung ya, Mas!" sindir Dinka ke Abid yang menurutnya terlalu kentara.


"Kenapa?" Abid sinis. "Nggak apa-apa kali! Sus Heni juga pasti tau ngapain suami istri kalau nyuruh anaknya tidur cepet!"


"Mas harus bayar juga tuh!"


"Apa?"


Dinka menepuk pantat Arion sedikit keras. "Pengertiannya Sus Heni! Ngertiin bosnya yang mau kuda-kudaan diluar perjanjian kerja di awal!"


Dinka menekankan dengan wajah maju tepat diujung hidung Abid, lalu mengibaskan jilbab bergo nya seraya memutar badan meninggalkan Abid.


"Eh—?"

__ADS_1


Ada ya, yang begitu?


__ADS_2