
"Bu Lisa gimana?"
Abid menarik bantal yang dipakai Dinka untuk bersandar, dan mengganti dengan tubuhnya. Memeluk Dinka dari belakang, mengusap perutnya, menciumi leher Dinka adalah bagian yang paling Abid suka.
Sudah berjam-jam berlalu sejak Bee diinterogasi. Mereka sudah mulai tenang kembali. Bee tampak menyesal, sekarang sudah tidur. Honey juga sudah tidur setelah makan malam tadi.
"Diganti besok lusa, Mas." Dinka merebah. Punggungnya sakit, sekitar pinggul terasa tertekan. Namun, rasa itu hanya terasa saat menjelang tidur seperti ini. Hamil semelelahkan ini ya? Iya, Dinka mudah lelah, meski hanya bergerak sedikit.
"Dedek nendangnya kenceng, ya?"
Dinka mengangguk. "Jarang gerak, tapi sekali gerak sakit banget. Kayak dikeruk-keruk dari dalam," keluhnya manja.
Abid mencium pelipis Dinka lembut. "Maaf ya, udah bikin kamu sakit begini. Mau Mas usap-usap biar agak reda?"
Anggukan lagi sebagai jawaban, ditambah mata Dinka memejam. Sudah siap sekali dia bermanja-manja.
"Nggak tega lihat kamu kaya gini, Din." Abid mengusap pipi Dinka yang sungguh cekung. Tulang pipi menonjol, kantung matanya juga terlihat jelas dari posisi ini. Dinka makan banyak, beragam, tak ada pantangan sama sekali. Tapi tubuhnya makin kurus, dan perutnya sebulat semangka. Tidak terlalu besar, sehingga jika Dinka memakai pakaian longgar, sama sekali tak tampak perutnya yang buncit itu.
"Mas oles pake krim itu ya." Abid ingat Dinka selalu pakai krim anti stretch mark merek kenamaan agar garis-garis kejam itu tidak muncul.
Dinka mengangguk lagi, kemudian menegakkan tubuh susah payah dibantu Abid.
Krim itu berada di laci meja rias Dinka, Abid segera mengambilnya. Dinka mengolesnya sembari menatap cermin, entah apa maksudnya.
Segera ia membuka baju tidur Dinka dan mengoleskan pelan krim tersebut ke seputaran perut buncit itu.
Sesekali Abid menciumnya. Dinka merasa hatinya tidak baik-baik saja. Indah sekali sih, jadi pengen nangis.
"Maafin Mas, ya, Din."
"Jangan minta maaf mulu deh, Mas. Ini belum lebaran!" Dinka terkekeh. Mengusir air matanya yang siap turun. Ih, apaan sih, masa gitu aja udah mewek.
Abid tersenyum geli. "Bee keterlaluan banget. Aku nggak tahu kenapa dia bisa mikir begitu."
__ADS_1
Abid menatap Dinka, sungguh menyesali apa yang terjadi. "Kamu boleh tetap marah ke Bee, kok ... dan nggak usah merasa nggak enak hati ke aku kalau Bee nakal."
"Nggak lah, Mas ... Aku nggak bisa marah sama anak-anak kaya Bee. Gimana ya, kadang aku sedikit ngerti kenapa Bee bersikap begitu." Dinka merinding menikmati sentuhan Abid yang kini mulai merambah ke bawah pusar.
"Tapi, Din ... apa kamu bisa ngerti kenapa waktu itu dia bisa ngompori Olla?"
Dinka berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Dia nggak tahu apa yang kita rasakan aja, sih, Mas ... karena nikah dadakan tanpa pacaran, lalu mama angkatnya berubah, mungkin Bee nggak terima aja."
"Dia juga belum mengerti kalaupun dijelaskan, kan?" Abid berhenti mengoles, ia menatap Dinka lurus. "Keadaan terlalu rumit untuk dimengerti Bee."
Iya, Dinka sepakat. Gimana sih, menjelaskan kaburnya Olla dengan meninggalkan setumpuk rasa malu ke anak 10 tahun? Tapi, mereka salah juga, ketika memaksa Bee menerima begitu saja tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Sakit?"
"Nggak lagi." Dinka menarik napas, agar dadanya terasa lega. Perutnya itu kalau dibawa duduk, rasanya nyundul paru-paru.
"Bukan ini, tapi pas ditampar Olla." Abid masih berniat membalas sakit yang Dinka rasakan. Sungguh dia tak bisa mengendalikan diri mengingat hal itu.
"Lagian, gimana aku sempat mikir aku sendiri, pas lihat kamu kaya orang linglung gitu. Mas tuh natap aku tapi sama sekali nggak sadar kalau aku yang gedor-gedor kaca mobil."
"Din ... Mas mohon, jangan terlalu baik dan mikirin orang lain terus. Kamu juga harus mikir diri kamu sendiri. Kamu bisa saja ketabrak sama mas waktu itu, kan? Kamu seneng lihat aku gila kalau sampai kamu kenapa-napa?" Abid memohon dengan menangkup tangan Dinka.
"Baik apanya sih, Mas?" Dinka merah di pipi dan panas di telinga. Dipuji begini selalu membuatnya malu. Dia baik apanya sih? Jahat iya.
"Aku aja yang laki-laki minder sama kamu, kok ... saking luar biasanya kamu. Nggak ada takut-takutnya sama sekali." Abid jujur. Menghadang mobil yang lepas kendali itu butuh nyali yang besar. Keberanian yang tak tertandingi.
Dinka hanya tersenyum, lalu mengusap pipi Abid yang sedikit berjambang. "Mas tadi serius kalau hanya pura-pura cinta ke Mbak Olla selama ini?"
Ah, dia penasaran. Hoax gak sih, itu mulut Abid pas bicara?
Abid segera membenahi posisi duduknya. "Aku nggak tau, sih, tapi pas dia pergi, yang aku pikirkan cuma rasa malu yang ditanggung keluarga dan berapa banyak biaya yang terbuang percuma."
"Hubungan itu sekadar formalitas beneran, ya?" Dinka menyimpulkan. "Banyak pria yang bisa hidup dengan pasangan tanpa cinta, Mas. Aku tau Mas hanya nggak mau disebut gamon."
__ADS_1
"Apa tuh?"
"Gagal move on," jawab Dinka seraya tertawa jahil.
Abid tertawa juga. "Alasan utamanya ya, itu ... capek dikatain nggak bisa move on."
"Wajar sih, Nara istri Mas, bukan pacar doang." Dinka meminta Abid kembali mengusap perutnya dengan gerakan tangan.
"Kaki sekalian nggak?" Abid menawarkan dengan senang hati. Melayani istri yang hamil itu menyenangkan, karena setelah sentuhan-sentuhan itu, untuk ke tahap intim jauh lebih mudah. Bukan fourplay yang dibutuhkan wanita hamil untuk memantik gairah bercinta, melainkan rasa rileks yang terus digencarkan. Dengan begitu, semuanya jadi lebih memuaskan.
"Boleh ... telapak kaki aja, Mas. Rasanya pegel."
Dinka merebah, lalu Abid mengambil lotion untuk membantu memijat kaki Dinka.
"Din ...," panggil Abid.
"Hmm," jawab Dinka seraya memejamkan mata. Menikmati sentuhan Abid yang sungguh enak.
"Cinta Mas ke kamu itu kaya bintang di langit, tau nggak sih, kamu?"
Dinka membuka mata. Memikirkan apa maksud ucapan Abid.
Abid tersenyum penuh pesona saat menatap Dinka. "Banyaknya tak bisa dihitung, dan tidak bisa terkatakan oleh seluruh kata di dunia."
Apaan sih? Dinka membuang muka sambil tertawa. Sungguh dia tersipu dan isi dadanya mulai berdetak tak karuan.
"Love you, Mami Dinka." Abid puas melihat ekspresi Dinka.
"Mas mau mroyek jalan bayi, ya? Gombalnya basi banget." Dinka tak tahan lagi. Astaga ... dadanya ingin meledak.
***
Mroyek tau gak sih? Itu loh, mengerjakan proyek. Di bahasa kami sering disebut gitu. Kalian sama gak sih?
__ADS_1