Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Hanya Urusan Pekerjaan


__ADS_3

"Heru nggak bisa dihubungi, Din ... Mama pikir nyusulin kamu ke sana? Apa nyusulin Abid, ya?"


Rentetan pertanyaan penuh kebingungan itu hanya Dinka jawab dengan satu kalimat. "Biar Dinka cariin, Ma."


Dia sedang melakukan hal sewajarnya. Tidak baik membiarkan orang tua kebingungan kan? Ini adalah tugasnya. Mama Resti pasti hanya sungkan meminta bantuannya. Dinka harus pengertian.


"Mau kemana?" Jen menegur saat Dinka bangkit kepayahan dari ranjang usai menidurkan Jenna. Mereka kelelahan bermain sejak pagi hingga siang. Ace bahkan ikut tidur siang hari ini, padahal sejak Dinka menikah, Ace susah sekali tidur siang.


"Nyariin anaknya Mas Abid ... mau ikut bantu nyari?" Dinka berdiri seraya memijat tangannya yang pegal.


"Ogah!" Jen gantian tidur diantara dua anaknya. "Kalau ketemu bawa pulang, jangan dilempar dibawah jembatan! Denger-denger, anak Abid jahat sama lo, ya?"


Dinka datar menanggapi. "Anak-anak lo aja tunduk sama gue, apalagi mereka! Kecil ...!" Dinka menjentik kuku dengan angkuhnya.


"Wah, kalau gitu lo bakal cepet punya anak, feeling gue, aja sih!" Jen menggoda. Dinka mendelik. Dari mana Jen tau?


Jen terkikik mengejek. "Lo takut bun ting tapi demen di ke lon nin! Liar juga lo yah, sampai leher lo merah semua! Gaharan lo dari gue dan Nana!"


Syyitt!


"Gue nggak kaya gitu, ya!" Tangannya menekan leher bawah telinga. "Gue gak—"


"Bisa nolak, soalnya enak!" Lantas Jen dengan kurang ajar meng ge ra yangi dirinya sendiri sambil mendesah.


Dinka berdecak. Merinding sebadan-badan sampai ke tulang. Sial!


Dia bergegas meninggalkan kamar Jen dan mengambil kunci motor. Di luar gerimis, Dinka mengambil jas hujan dan helm dalam sekali tarik dan memakainya.


Dia tahu harus kemana. Walau jauh, tapi dia tidak boleh mengecewakan mertuanya. Ini misi pertama yang dia emban sebagai menantu. Dia harus berguna paling tidak.


Abid melirik jam di pergelangan tangannya. Jam sederhana pemberian Olla—


"Syit!" Abid mengumpat tanpa sadar. Harusnya dia melepas benda sialan itu, kan? Sudah hampir dua minggu dia menikah, sudah hampir sebulan dia putus dari Olla, tapi dia belum terbiasa menanggalkan apapun pemberian Olla. Harusnya—walau Dinka tidak meminta, dengan kesadaran penuh, Abid membuang itu semua. Ah, dia hanya belum sempat.

__ADS_1


Olla melirik gelisah Abid yang sudah selesai dengan tugasnya hari ini. Toh sebenarnya, Abid hanya sukarela datang dan membantu, jadi tidak ada kewajiban bagi pria itu tinggal lebih lama.


Rencananya bisa dibilang gagal. Tak ada yang mencari anak-anak itu dan bahaya baginya jika sampai Bee atau si mulut bocor Honey mengatakan kalau Olla sanggup memanggil Abid.


"Abid—Dokter Abid!" Olla berdehem. Dia tahu sekarang panggilan mereka harus resmi sebab semua telah kandas. Tak asa alasan bagi Olla memanggil Abid dengan sebutan nama. Olla bukan sebaya Abid, bukan yang tersayang lagi. Bukan pemilik hati lagi. Yang tersisa hanya kebencian yang masing-masing coba redam.


Penghuni bangsal perawatan darurat itu menoleh, sebagian adalah tenaga kesehatan yang memantau, sebagian adalah pasien. Sejak pasien membludag, tenda baru di dirikan. Kebakaran itu terlalu dahsyat sehingga korban semakin bertambah dari waktu ke waktu.


Abid menoleh. Itu respons yang umum ketika nama kamu dipanggil kan? Bukan karena itu adalah suara Olla yang kerap menghembusi telinganya dengan kalimat penuh cinta.


Olla mendekat, begitu canggung dirinya saat menatap Abid. Dia tidak suka tatapan itu dan cara Abid menatapnya. Setidaknya jangan sekejam itu kan menghakimi dia. Ya oke, dia salah, tapi semua sudah baik-baik saja sekarang.


"Aku lupa ada Bee dan Honey di ruangan kamu." Olla memang sibuk, selain Rere—Theresia, dia juga punya andil besar di sini—tidak perlu disebutkan satu-satu.


Abid sekali lagi menarik tangannya ke depan muka, kaget mendengar informasi ini. Dan sial, gerakan Abid melihat jam itu membuat Olla tersenyum.


Abid menjatuhkan tangan buru-buru. "Pastikan anak-anak ditangani lebih dulu!"


Melihat itu, Olla membuang napas kecewa. Gagal sudah usahanya hari ini. Pikirnya, ketika Bee dan Honey tidak pulang, orang rumah akan mencari dan kemungkinan besar akan ada istri Abid yang kemari. Sayangnya, sampai hampir sore begini, Dinka—nama yang dia tahu melalui undangan virtual, ujung hidungnya saja tak nampak.


"Dokter, Rere sesak lagi!"


Olla tersentak hingga nyaris limbung saat mendengar suara perawat yang merawat Rere. Dia berlari cepat ke ruang perawatan anak itu. Ah, kenapa dia mau repot begini, sih? Tapi gadis kecil itu kasihan juga. Siapa nanti yang akan mengurus jika Ibunya beneran pergi.


"Saya udah panggil Dokter Abid, Dokter. Beliau minta kita tunggu sebentar—ah!" Ketika kedua wanita itu berlari, tanpa sengaja perawat menabrak seseorang, dan membuat Olla berhenti juga. Barang bawaan wanita yang ditabrak itu jatuh. Olla membuang napas lelahnya. Dadanya sesak, dan dia ingin marah saat ini.


"Maaf, Bu—maaf!"


Olla mengalihkan perhatian ke sekeliling, jengah dengan sikap rendah hati perawat bangsal anak ini. Jelas siapa yang salah, kenapa harus minta maaf?


Mata Olla tak sengaja jatuh ke satu titik yang mendadak begitu mudah dikenalinya walau jaraknya cukup jauh. Olla bergerak cepat meninggalkan perawat tadi lalu mengambil Rere. Dibawanya anak itu ke ruangan Abid, secepat yang dia bisa, agar istrinya—mari kita biasakan panggil begitu, melihat seberapa dekat dia dengan Abid.


Dinka jelas harus bertanya kepada beberapa orang mengingat tempat ini maha luas. Dulu, dia bisa menemui Abid dimana saja, tapi sekarang, pria itu punya ruangan tersendiri.

__ADS_1


Sempat Dinka melihat korban kebakaran yang beritanya ramai di televisi. Lantas meneruskan mencari ruangan Abid.


Pintu ruangan yang dicari Dinka terbuka lebar. Ada perbincangan yang masuk ke telinganya.


"Bee ... Honey!" Dinka merangsek masuk. Dia ada kepentingan dengan dua anak itu, tanpa bermaksud mencampuri urusan yang lain. Matanya melihat ada Olla dan seorang anak. Abid memeriksanya, Dinka bisa melihat itu. Senyum Abid ramah saat berbincang kecil dengan anak yang tengah diperiksanya.


"Dia sesak lagi, aku jadi khawatir." Olla berkata dan menatap Abid cemas. "Apa dia nggak bisa sembuh, ya?"


Olla memutar posisi hingga dia mampu melihat arah kedatangan Dinka. Namun dia pura-pura tak melihat. "Sekecil ini dan sendirian, aku tahu bagaimana rasanya."


"Kamu bisa menyerahkan pada panti asuhan kalau tidak bisa membagi waktu! Mengurus anak itu susah ... apalagi kamu nggak ada pengalaman."


Olla menatap Abid intens. Senyumnya terukir. "Aku bukan keberatan, Bid ... tapi hanya takut ikutan mewek kalau dia nangis. Lucu kan, kalau serumah nangis semua."


"Jadi orang tua harus kuat." Abid mengalihkan perhatian dari Olla ke Rere. "Dia saja kuat, kok ... kita yang dewasa nggak boleh kalah sama anak-anak."


Olla masih tersenyum saat memutar kepala ke arah Dinka yang terpaku. Tatapan mereka bertemu, tapi Dinka mundur dengan kecepatan penuh. Dengan Bee dan Honey aman bersama Papanya, itu sudah cukup untuk dilaporkan kepada mertuanya. Dia tidak punya kewajiban membawa anak itu kembali, kan?


"Aku keluar sebentar, nitip Rere." Olla berjalan cepat meninggalkan ruangan Abid dan mengejar Dinka.


"Jangan cemburu, Mbak Dinka!" seru Olla membuat Dinka menggentikan langkah.


"Kami—"


"Hanya terlibat urusan pekerjaan!" Dinka memutar badan dan tersenyum kepada Olla. Matanya menyapu dari atas ke bawah. Dari segi manapun—apapun, Olla cantik. Dia tipe wanita gigih, yang layak diperjuangkan kembali.


"Saya melihat sendiri tadi."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2