
"Honey—"
"Bee ...!" seru Honey seraya menoleh. Matanya merah dan basah. "Kamu benar."
Bee menarik napas dalam, lalu duduk di sebelah Honey yang terisak. Tangannya menepuk punggung Honey. "Aku salah, Honey."
Honey menoleh, menggeleng. "Enggak, Bee ... kamu benar. Mami berubah setelah ada Arion."
Honey terisak semakin keras. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahwa seseorang bisa berubah karena kehadiran bayi. Katanya Mami tidak akan berubah meski ada anak lagi, tetap memperlakukan sama, tapi... nyatanya?
"Setiap orang tua pasti mendahulukan yang tidak berdaya, Honey." Bee memikirkan ini sejak lama. Dulu, dia di nomor duakan karena Honey, sekarang Honey merasakan apa yang dia rasakan dulu. Tapi mungkin berbeda dan lebih berat apa yang Honey rasakan sebab kini yang mengasuh mereka bukan orang tua kandung.
Tangisan Honey berhenti. Ia menatap lekat Bee. "Maksud kamu apa?"
"Mami mengutamakan Arion karena merasa kita sudah besar dan mengerti. Tapi Arion? Dia bahkan hanya bisa menangis agar Mami tahu apa yang dia rasakan." Ia sedikit tersenyum melihat Honey yang mengedipkan bulu matanya yang lentik.
"Honey ...," panggil Bee lembut seraya mengusap lagi punggung Honey. "Nanti semua akan kembali seperti dulu jika Arion sudah sedikit lebih besar. Mami tadi merasa bersalah lihat kamu nangis."
Honey terdiam. Agak ragu dengan dirinya sendiri, dan tidak percaya pada ucapan Bee. Benarkah begitu?
"Kita udah gede, kita juga hanya anak angkat, jadi jangan serakah ingin menguasai mami sama Papa sendiri. Biar mereka menikmati waktu bareng anak kandung mereka sendiri. Kita udah mengambil waktu mereka jauh sebelum Arion ada." Bee melanjutkan.
"Tapi Bee," sela Honey serak. "mereka berubah cepet banget. Mereka lupa janji mereka sendiri."
Bee tersenyum kecil. "Keadaan tuh nggak pernah sesuai dengan apa yang kita mau, Honey. Mereka tidak berubah, hanya kita yang nggak mau ngerti."
Kening Honey berkerut.
"Udah, ya... jangan nangis lagi. Papa sama Mami tuh nggak berubah, mereka hanya lelah." Bee memeluk adiknya erat. "Percaya sama Abang kamu ini, ya. Aku janji akan selalu ada buat kamu, Honey. Di dunia hanya kamu yang aku punya."
__ADS_1
Honey masih belum mengerti ucapan Kakaknya, tapi dia selalu punya keyakinan terhadap saudaranya ini. Bee belum pernah membuatnya kehilangan keyakinan.
Sus Heni tersenyum melihat ini. Sungguh dia baru kali ini mendengar ucapan menyentuh dari kakak ke adiknya.
Ia sengaja berdiam diri di depan pintu, membiarkan urusan dua bersaudara itu selesai dulu.
***
Di kamar lain, Arion sudah selesai menyusu dengan dikeloni Dinka di atas ranjang. Bayi gembul itu tertidur dengan bibir terbuka.
"Buruan makan!" Abid berbisik begitu Dinka membuang napas lega.
Dinka lagi-lagi membuang napas. Bayi satunya ternyata masih butuh treatment ekstra.
"Mau mandi dulu, Mas! Badanku bau susu dimana-mana." Dinka mendorong Abid agar menjauh. Pria yang sudah siap tempur itu agak kecewa.
"Sayang, kita anu dulu, lah!" Ia melirik Arion yang pulas sekali tidurnya. "Nanti Arion keburu bangun kalau kamu mandi dulu."
"Din, jangan bilang kamu udah nggak mood lagi?" Mampus jika benar begitu, kan? Dia sudah sejauh ini demi melakukan itu.
"Mas, aku ingin melayani kamu dalam keadaan wangi dan segar," jawab Dinka seraya menatap suaminya yang terpaku di sisi ranjang. Suaranya tetap ditahan agar tidak berisik. "Aku nggak mau apa adanya saat kamu nikmati."
Ada perasaan tersanjung yang membubung di dada Abid. Sampai bibirnya tak tahan untuk tersenyum.
"Tunggu sebentar, Mas! Yang pasti nggak akan selama kita nahan diri seharian ini." Dinka lega melihat senyum Abid.
"Tunggu sepuluh menit lagi, ya!" Dinka mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Abid terkekeh tanpa suara. Jantungnya jadi jumpalitan hanya dengan kerlingan itu. Ya ampun, Dinka ....
__ADS_1
"Okey!" jawab Abid dengan tangan membentuk huruf O juga mengedipkan sebelah matanya. Kepalanya mendadak penuh ide cemerlang.
Dinka segera memutar badan. Menghilangkan senyum yang barusan dipakai buat menghibur Abid.
"Nggak tanggung jawab kalau ketiduran, tapi!" Dinka tersenyum miring. Dia terlalu letih. Dan bercinta bukan yang dia butuhkan sekarang. Dia ingin tidur lamaaaaa banget. Ya ampun.
Tidur nyenyak adalah sesuatu yang mewah baginya sekarang. Bercinta malah akan membuat tenaganya makin terkuras. Abid tak akan puas sebelum dia kli maks sampai kejang.
Dan dengan polosnya, Abid percaya kalau Dinka hanya akan mandi saja. Jadi selama sepuluh menit penuh, dia menatap Arion seraya berhitung. Ia masih berdiri, bersedekap, tidak bergerak sama sekali sejak Dinka meninggalkannya tadi.
"Sepuluh menit lebih lima detik," ujarnya pelan. Ia melongok ke pintu kamar mandi. "Kok belum keluar sih?"
Hidungnya mengendus. "Nggak ada aroma wangi parfum atau sabun?!"
Abid memutar badan dan menatap curiga kamar mandi. "Ngadalin gue?!"
Langkah Abid terayun cepat ke kamar mandi. Dia tidak punya kesabaran menghadapi Dinka saat ini. Dia sudah tidak tahan lagi. Itu sudah menyundul-nyundul, penuh, dan sesak.
Ngalahin baru pertama kali aja Abid ini! Ck!
"Din ...!" Abid membuka pintu perlahan, masuk dengan langkah cepat sebab tak ada suara apa-apa. Juga tak ada tanda kalau Dinka tadi mandi. Kamar mandi ini kering seakan tak ada air yang menetes.
Abid menarik tirai yang menutup bathup. Dengkuran halus terdengar.
"Astaganaga!"
Abid terkejut sampai matanya melotot. Dinka tidur dengan mulut terbuka, kaki selunjur, dan tangan tersampir di tepi bathup.
"Ya ampun, Sayangku!"
__ADS_1
Entah, Abid harus kesal atau kasihan. Tapi rencana bercinta kali ini, Dinka yang menjanjikan. Sayangnya dia sudah berharap, dan berakhir diabaikan.
"Sabar Bid, sabar!"