
Sepulang dari USG, Dinka menuju rumah Mama Desy. Sebelum lahiran, Dinka ingin bersama Mamanya lebih dulu. Melihat mereka, rasa takutnya itu bisa sedikit diredam. Apalagi saat ini, Jen tinggal di rumah Mama Desy sejak lahiran.
Katanya, melawan ketakutan itu dengan melihatnya langsung, tapi kemarin Jen kembali lahiran secara Caesar jadi dia tak berkesempatan melihatnya.
Mungkin dia harus bertanya sesuatu soal mengeluarkan manusia dari perutnya. Barangkali Jen punya tips and trick agar persalinannya secepat Jen.
"Weh, borong es krim lagi." Jen menyeletuk dari lantai atas saat berpapasan dengan Dinka yang hendak menuju dapur. Jen masih terlihat ngantuk, sebab bayinya begadang setiap malam.
"Berapa sih, Bb-nya? Entar kebesaran susah loh, keluarnya," tuntut Jen ketika ucapannya tak mendapat tanggapan.
"Dua koma lapan ...." Dinka duduk di meja makan, membuka satu cup dan mulai menyendoknya.
"Udahan deh, makan es krimnya." Jen khawatir. "Udah nggak mengkhawatirkan lagi kok bb segitu."
Sebenarnya, Dinka juga malas makan es krim dua bulanan ini. Tapi kalau sampai BB nggak sesuai sama harapan dokter, apalagi kalau apa yang di jelaskan dokter jadi kenyataan. Duh, jangan sampai deh. Makanya dia rela menelan es krim banyak-banyak, meski dia sudah bosan.
"Udah mau aku kurangi, kok ... ini juga karena Mas Abid yang minta dibawain," jawab Dinka pelan. Terlihat sekali dia memang kurang berselera.
"Kenapa sih?" Jen heran melihat tingkah Dinka yang agak aneh. "Kayaknya, kamu yang kaya gini belum pernah aku lihat sebelumnya?"
Dinka mengalihkan perhatian dari cup ke Jen sekilas, lalu tertawa. "Wajar nggak sih, kalau merasa takut?"
"Biasa kalau mau lahiran, mah—"
"Kamu juga?"
"Ya ...." Jen mengangguk. "Siapa sih, yang nggak takut? Tapi semua itu harusnya kalah sama semangat untuk ketemu dengan bayi yang kamu bawa kemana-mana sembilan bulan ini."
__ADS_1
"Aku takut nggak bisa," ujar Dinka jujur. Saat itu adalah saat antara hidup dan mati. Dan bisa jadi, dia akan mati. Bukankah setiap orang yang jahat akhirnya mati?
"Semua wanita hamil, pasti diberi kekuatan untuk melahirkan. Takutnya dimana? Nggak bisa normal ya, sesar. Nggak usah di bikin parno, lah." Jen paham ketakutan yang dirasakan Dinka.
"Ya, tapi ...."
"Nggak ada tapi-tapi ... kamu ikut kelas selama kehamilan itu gunanya agar kamu rileks, siap melahirkan, lah kalau parno begini? Kelas privat kamu yang mahal itu percuma." Agak kesal, sih ... Dinka kan preman, kok bisa takut sama isi perutnya sendiri?
"Percaya deh, itu tuh cuma kaya kamu sembelit aja." Jen menghibur. "Sakitnya sebentar. Kalau takut, sesar aja. Nanti tinggal bilang ke dokter. Abid tuh suruh bilang."
"Sesar juga sakit, Jen ...."
"Dimana-mana melahirkan itu harus sakit, kalau nggak sakit nggak keluar bayinya." Jen bingung kalau harus menyemangati Dinka dengan cara yang lain. Jujur saja, Dinka itu disemangati harus pake kalimat sarkas, ejekan, candaan, lah kalau pas mode serius begini, Jen tidak mengerti harus bagaimana. Serius ... modelan Dinka begini baru dilihatnya hari ini.
"Nggak usah mikir apa-apa, pokoknya tau beres. Kan Ranu juga di rumah sakit, pasti semua akan melakukan yang terbaik buat kamu." Jen akhirnya menghibur Dinka secara normal. Hah, ternyata bisa.
Yah, mumpung perut pas besar-besarnya. Nanti siapa tau setelah lahiran, dia mikir kapok hamil kalau lahirannya terbukti menyakitkan dan bikin trauma.
Buat kenang-kenangan dan bukti kalau dia pernah di posisi ini.
***
Di rumah sakit, Abid masih berbicara dengan dokter Tiwi.
"Kenapa sih, Bid?" Dia tahu Abid ada yang ingin dibicarakan dengannya.
"Dinka itu takut hamil sebenarnya, Wi." Abid memulai sesi curhatnya ke dokter Tiwi. "Jadi aku ingin dia hamil sekali ini saja."
__ADS_1
Yang bagian ini, Dokter Tiwi belum tau. Kenapa memangnya harus takut?
Dokter Tiwi tidak menjawab, tetapi dia tetap memberi perhatian penuh ke Abid. Dia lebih membiarkan Abid yang mengungkap, tanpa menyela, agar Abid jauh lebih lega. Benar, Abid memang tak pernah mengungkapkan isi hatinya selama ini, tapi bukan berarti dia tidak menyimpan beban.
"Aku yang maksa dia hamil, untuk balas dendam ke Olla."
Dokter Tiwi tercengang. Abid ternyata ...? Dibalik keharmonisan keduanya, ternyata latar belakang itu tidak pernah dia ketahui.
"Olla ninggalin aku karena dia pikir aku impoten."
Dokter Tiwi lagi-lagi tercengang. Ya ampun. Pantas Abid kukuh menolak Olla untuk kembali, ternyata begitu ceritanya?
"Dan Olla terus nyerang Dinka tanpa henti. Sampai akhirnya, Dinka mau hamil. Mungkin itu karena Olla juga. Dia terpaksa hamil agar Olla berhenti ganggu kami."
"Dia pasti nggak terpaksa, Bid." Dokter Tiwi menyimpulkan. Secara dia adalah dokter kandungan Dinka selama 9 bulan ini, dan dia telah melihat ketulusan calon mama muda itu menjaga bayinya. Setiap datang, Dinka selalu penasaran bagaimana kandungannya, janinnya, bagaimana perkembangannya, bahkan Dinka menangis saat mendengar detak jantung anaknya. Jadi bagaimana bisa itu dikatakan terpaksa?
"Istri kamu mungkin cemas, tapi nggak sampai ke tahap dia takut banget. Kelihatan dari wajah dan cerianya istri kamu itu, Bid." Dokter Tiwi tertawa kecil, bila ingat Dinka dan setiap ocehannya.
"Makanya aku tuh ingin terus sama dia, jaga dia, bantu dia dalam semua hal, agar dia nggak merasa sendirian." Abid memikirkan baby blues, semuanya terasa klop untuk berakhir dengan ganguan mental satu itu. Dari awal Dinka sudah punya bibit, takutnya kalau tidak rajin dibasmi, malah makin besar dan sulit disembuhkan.
"Minta cuti aja sana sama Bos," saran Dokter Tiwi. "Pasti dia nggak akan keberatan kalau temennya punya suami sebaik dan seperhatian kamu."
"Menurutmu aku dapat izin?" Abid ragu. Ini masih sekitar 6 harian menuju HPL, takutnya dia akan merugikan rumah sakit.
"Seribu persen," jawab Dokter Tiwi seraya terkekeh dan mengacungkan jempol.
Abid segera berdiri dan berlari meninggalkan ruangan Dokter Tiwi. Tak dipikirkan lagi bagaimana kesalnya rekannya tersebut sebab ia membiarkan ruangan terbuka, padahal Dokter Tiwi ingin istirahat sebentar sebelum menerima pasien lagi.
__ADS_1
"Dasar Abid!"