Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Fairy Genolla


__ADS_3

"Oke! Fine, Ma!" Olla sudah lelah. Ia muak didesak terus untuk menerima pinangan Alvin, atau tidak tahulah, siapa yang meminang siapa—sebenarnya. Kelihatan sekali kalau Mama Melia yang meminang Alvin, dan pria itu hanya diam, tersenyum mengiyakan.


Celemek yang sejak tadi melekat di depan badannya itu dilepas kasar, dan dicampakkan keras ke meja. Olla sebenarnya cukup tenang akhir-akhir ini sejak usahanya membuat aneka cake berkembang menjanjikan. Dia juga tidak kunjung mengambil surat persetujuan mengabdi di sebuah desa di Jawa Timur. Olla masih ingin menikmati waktunya sendiri, tanpa harus bertemu orang asing.


Mungkin, dokter bukan passionnya. Dia bukan wanita yang care memakai seluruh hati dan perasaan. Sikap pedulinya sebatas tuntutan profesi dan bentuk tanggung jawab saja.


"Nggak gini cara kamu mengiyakan mau Mama, Olla!" Melia tidak terima. Ia berjalan lebih dekat ke Olla yang termenung frustrasi menatap kuenya yang berakhir kacau. Melia pura-pura tidak tahu kenapa Olla bisa mengacaukan kue yang didekor sejak pagi oleh anaknya tersebut. Padahal semua itu jelas karena ulahnya.


Tapi siapa peduli dengan itu, toh itu hanya recehan dibandingkan dengan uang yang didapat Olla jika menikah dengan Alvin. Dan Melia heran, kenapa Olla mau repot membuang waktu membuat hal yang sia-sia begini?


Ngapain sih, buat beginian? Bikin tangan kotor dan lelah saja!


Bukankah sebagai ibu, Melia sudah bertindak benar? Dia sedang mengarahkan Olla ke tempat yang benar dan semestinya. Catat itu; tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya ke jalan yang salah.


Semua ibu bisa berpendapat begitu, kan?


"Mama mau aku gimana lagi?" Olla perlahan mengalihkan tatapan dari kuenya yang kacau ke Mama Melia. Dia tampak sangat tertekan dan frustrasi.


"Ngomong baik-baik—"

__ADS_1


"Aku udah nggak bisa ngomong baik-baik lagi sama Mama setelah semua yang terjadi!" sela Olla tak sabar.


"Kurang ajar kamu, Olla!"


"Ma ... aku udah setuju nikah sama Alvin, tapi Mama masih bilang aku kurang ajar. Jadi yang berbakti kaya apa? Apa belum cukup Mama melihat kacaunya aku karena nurut omongan Mama?"


Melia membeliak. "Itu karena kamu hanya menurut di mulut, tapi kamu nggak pernah benar-benar ngelakuin apa yang Mama mau!"


"Ya udah, sekarang aku nurut. Kita ke catatan sipil sekarang! Nikahkan aku sama Alvin saat ini juga! Aku juga akan ikut agama Alvin, biar makin jadi istri yang sempurna untuk pria itu dan jadi anak yang paling nurut dan berbakti di dunia!" Olla meradang. Bahkan dia belum siap untuk berpindah keyakinan, tapi mau bagaimana lagi? Nampaknya, agama bukan urusan yang penting bagi Mamanya. Sudahlah, toh semua agama mengajarkan hal yang sama; kebaikan.


Untuk seorang Olla yang tidak pernah taat di agamanya sekarang, pindah keyakinan bukan sesuatu yang mesti dipikirkan sampai pusing.


"Mama kabari Alvin dulu, kamu siap-siap!" Mama Melia tidak tersenyum, tidak juga terlihat senang, tapi apa yang dikatakan Olla akan segera diwujudkan. Takut anak nakal itu berubah pikiran


"Hah!" Olla tertawa miris setelah membuang napas barusan. Astaga, apa dia sudah tidak bisa lagi berharap pada satu-satunya kerabat di dunia?


"Dandan yang cantik, Olla ... pastikan Alvin tidak kecewa sama kamu!" ucap Mama Melia sebelum berlalu dari meja dapur dan sibuk dengan ponselnya. Dia sudah bisa kembali ke mode paling ramah saat berbincang dengan Alvin.


Olla melihat semua itu dan ingin rasanya dia menjungkirkan rumah ini. Astaga, dia kesal sekali. Marah dan tidak terima. Tapi pada siapa?

__ADS_1


Mungkin, satu-satunya harapan adalah Alvin mau diajak kerja sama. Atau dia setidaknya bisa menyelamatkan sisa umurnya agar tidak sia-sia.


Olla mengambil ponsel yang masih merekam sejak dia mulai menghias kue yang dipesan melalui Nahwa.


Dengan gerakan cepat, dia menghubungi Nahwa.


"Halo, Wa ... mulai besok, aku nggak mau nerima pesanan kue lagi! Aku mau ke Ukraina, biar kena rudal Rusia!"


Ia segera mematikan panggilan secara sepihak dan melemparkan ponsel pintar itu ke meja.


"Tapi, kira-kira apa masih bisa aku ambil tempat itu? Sudah setengah tahun lebih pula!" Olla memikirkan keputusannya cermat. Cukuplah dia menjadi orang bodoh saat bersama Abid, sekarang jangan.


Bibirnya tergigit sebelah, lalu dengan sigap ia mengambil ponsel kembali dan menelpon ke dinas terkait. Namun, sebelum niatnya terlaksana, nama Alvin sudah memblokir jempol Olla.


"Hais, manusia ini!" Olla segera menjawab panggilan Alvin.


"Kalau mau mundur katakan saja, nggak usah banyak nanya!" Olla berujar ketus dan dia tidak mau berpura-pura baik pada Alvin. "Yang kamu dengar dari Mama benar, kita nikah sekarang, atau tidak sama sekali, Alvin! Sampai ketemu sejam lagi di Capil!"


Olla mengumpat setelah mematikan panggilan Alvin, yang bahkan tidak bicara sama sekali tadi. Olla tidak membuka diskusi, cukup sudah dia muak melihat wajah kaku Alvin. Pria itu banyak diam dan memperhatikan, sayangnya, Olla tidak suka cara Alvin menatapnya.

__ADS_1


"Kita buat perhitungan nanti, Al ...!"


__ADS_2