Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten
Ya, Kenapa Kalau Udah Nikah?


__ADS_3

Mungkin Dinka setelah didekap Abid semalaman penuh, kembali pingsan lagi. Buktinya dia tidak bergerak sampai ponsel Abid menyuarakan adzan subuh.


Gadis itu memekik, kaget bercampur ngeri seraya menyingkirkan tangan Abid dari perut atasnya. Dia memeriksa keadaan dirinya, dari atas sampai bawah, lalu bangkit tergesa menuju kamar mandi.


"Huh, leganya ...." Dia melihat dirinya dalam keadaan utuh dan fine-fine saja. Tak ada sakit, tak ada rasa nyeri, dan tak ada tanda merah di lehernya, seperti di leher Jen dan Naja. Dua wanita itu sungguh menjijikkan. Hampir setiap pagi dia harus melihat Jen bucin sama Darren, tanda merah di leher, yang makin hari bukan makin hilang tapi makin nambah banyak.


Dinka memalingkan wajah dari itu semua—tanda merah dan bucinnya Jen setiap hari.


Abid terkekeh mendengar suara kelabakan Dinka yang kabur ke kamar mandi. "Katanya takut, tapi di kelonì malah nempel kaya cicak."


Abid bergegas bangun, tetapi dia merasa kepalanya berat dan napasnya terasa panas. "Oh, jangan sampai flu sialan beneran nyamperin aku lah! Agendaku banyak hari ini!"


Abid menjatuhkan kepalanya lagi di bantal. Pandangannya berputar.


"Sial!" Abid mengumpat. Hari ini—bulan madu ini, terlepas memang akan dinikmati dengan Olla—awalnya, juga merupakan liburan pertama sejak kecelakaan nahas itu terjadi.


Tahun pertama pasca kecelakaan Abid habiskan untuk meratapi kepergian Nara dan calon bayinya yang masih berusia 5 minggu. Dia sibuk menyalahkan diri sendiri atas kecelakaan tersebut. Dan sebagian besar Abid tidak berdaya di kursi roda. Kakinya patah di dua tempat, nyaris mengalami kelumpuhan juga karena saraf bermasalah. Pulihnya lama sekali sebab Abid tidak mau mengobati diri sendiri.


Tahun kedua, dia mulai bangkit dengan ikut terapi pasca trauma, mengobati kelumpuhannya, dan memulihkan perasaannya.


Tahun ketiga, Abid mulai pulih, hanya trauma dengan mengemudi, laju kendaraan yang kencang, dan kendaraan berukuran besar yang susah dihilangkan. Sudah 8 tahun kurang lebih sejak kecelakaan itu terjadi, tapi Abid masih butuh pengobatan walau tak sesering dulu.


Jadi, ketika bulan madu, Abid ingin melakukan hobinya berpetualang di alam lagi yang sempat terhenti selama sakit. Kebetulan Olla bukan orang yang rewel dan setuju ketika Abid mengutarakan keinginannya, hanya saja, mungkin Tuhan tidak mentakdirkan mereka berjodoh.

__ADS_1


Lagi-lagi, ekspektasi Abid tertampar realita. Dinka sikapnya bertolak belakang dari Olla, dan kini harus menggelepar tak berdaya karena anak itu. Musnah sudah bayangan menapaki spot-spot bukit dan pantai yang masih belum terjam ah oleh wisatawan.


"Mas pura-pura tidur, ya?!" Dinka menatap ponsel Abid yang sudah tenang sejak tadi.


Lamunan Abid buyar, hatinya membatin,"Kapan dia masuk sih?"


Perlahan Abid membuka matanya yang terasa berat. Dia menggeleng. "Aku beneran flu, Din."


Dinka melotot, wajahnya maju ke depan, lalu menyentuh kening Abid dengan tangan terbungkus mukena yang dikenakannya.


"Kepalaku berat, badanku panas, tapi terasa dingin," sambung Abid.


"Sayangnya, aku bukan dokter yang bisa kasih resep obat ke kamu, Mas! Kasih tau pun juga percuma. Paling pol, aku belikan kamu mixagrip." Dinka meraba ke seluruh pipi dan leher. Jelas dia baik pada Abid, meski Abid memeluknya semalam, segelnya masih utuh soalnya. Abid bukan pemaksa paling tidak.


"Ciyus kompres?" Dinka tak percaya. Ini Abid cukup kasih mixagrip flu loh, nggak usah pake kompres segala. Kaya bocah saja sih?


Abid mengangguk, lalu merembeng, berlagak lemah selemah-lemahnya.


Dinka mengambil handuk seraya membuang napas dari mulutnya. Nggak tega juga. Akhirnya Dinka menuju kamar mandi dan membasahi handuk kecil itu, setelah melepas mukenanya.


Tak lama, Dinka kembali dengan handuk basah di tangannya, lalu mengompres kening Abid.


Menunggu beberapa saat, Dinka akhirnya kembali ke kamar mandi dan mengulang wudhu-nya, sebelum kembali dan bertatapan dengan Abid.

__ADS_1


"Kok basah lagi?" Abid heran melihat lengan dan wajah Dinka basah dan memakai mukena kembali.


"Kan abis nyentuh Mas Abid tadi! Ya, ambil wudhu lagi lah!" Dinka mendumal. "Gitu aja kok nanya sih? Cerewet!"


"Kan kita udah nikah, Din?!" Abid menjelaskan kenapa dia bertanya begitu pada Dinka.


"Ya tau! Emang kalau nikah kenapa? Wajib ninu-ninu?" Dinka mengambil mukena barunya. "Pikirannya kesana mulu!"


Abid berdecak. "Otak kamu ya, isinya ninu-ninu terus."


"Lalu apa?"


"Suami istri sentuhan itu gak batalin wudhu! Lagian kamu sentuh aku lewat perantara, nggak sentuhan langsung!"


Hah? Dinka melotot, astaga ... dia lupa kalau dia sudah menikah dengan Abid.


Tuhanku!


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2